Monday, February 15, 2021

Life and Time Of "Ki Hajar Dewantara"

 

Ki Hajar Dewantara

(Raden Mas Suwardi Suryaningrat)

 

The development of good character should be the heart and soul of education, and should dominate the spirit of teaching. This was the philosophy of the “father of education” in Indonesia, Ki Hajar Dewantara. The reason, he said, was that teaching and character building are like two sides of coin and cannot and should not be separated.

            Education by definition, means guiding student  lives in a strong foundation of good character, so that they would be civilized humans of highest moral fibre, thus laying the foundation of a great nation without distinction of religion, ethnicity, customs, economic, and social status. 

            Ki Hajar Dewantara was born in the Royal family of Yogyakarta on 2nd May 1889. His given name was raden Mas Suwardi Suryaningrat which he later changed to renounce his connection with the royal family. He transformed himself into an activist, columnist, politician and pioneer of education for Indonesians. He fought for rights of Indonesians during Dutch and Japanese colonial eras.

            He was born into an aristocratic family that granted him the privilege of free access to education of his choice. He got his primary education from ELS (Europeesche Lagere School), then he continued his education as Stovia (Java Medical School) but, due to health reason, he couldn’t finish it. He started writing for newspaper and eventually all his writings were focused on Indonesian patriotism, thus anti Dutch. He was involved in the early activities of Budi Utomo and the Indiesche Party, which were both important in the early development of the pergerakan, the “movement” that grew up with an ascent of Indonesian national political consciousness. He was exiled between 1913 and 1919, following the publication of two of his articles: “Als ik eens Nederlander” (If I were a Dutchman) and “Een voorallen en allen voor een” (one for all and all for one). He used his time in exile to tell more about education and obtained a Europeesche certificate.

            Following his return, he focused more on cultural and educational efforts paving the way to develop educational concepts in Indonesia. He believed that education is very important and the most important means of freeing Indonesians from the clutches of colonization. He played a leading role in establishing “National Onderwijs Institut Taman Siswa” in 1922. This institution was established to educate native Indonesians during colonial times. This institution was based on these principles:

1.      Ing Ngarsa Sung Tuladha (the one in front sets examples)

2.      Ing Madya mangun Karsa (the one in the middle builds the spirit and encouragement)

3.      Tut Wuri Handayani (the one at the back gives support).

As Ki Hajar belived that character was not merely a theoretical concept, but a practical and living concept, he embodied his vision in his school, Taman Siswa. The central goals of Taman Siswa emphasized character building, including traits such as patriotism and love for the nation, and a sense of national identity. His vision was that Indonesians would be free frim colonial powers, to fight for independence and good character. He continued writing but his writings took a turn from politics to education. These writings later laid the foundation of Indonesian education. Froebel, Montessori and Tagore influenced his educational principles and, in taman siswa, he drew some inspiration from Tagore’s Shantiniketan.       

                After independence, he was given the office of minister of education and culture. For his efforts in pioneering education for the masses, he was officially declared father of Indonesian education and his birthday is celebrated as the national education day. His portrait was on the 20.000 rupiah note till 2002. He was officially confirmed as a national hero of Indonesia by the 2nd president of Indonesia on 28th November 1959.

            Ki Hajar Dewantara passed away on 26th April 1952 at the age of 69 years. His wife donated all Ki Hajar’s belingins to Dewantara Kirti Griya Museum, Yogyakarta. He was a great man who spent his whole life serving his people and country.

MAKALAH IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

Download File Doc. isi lengkap dari sampul sampai Penutup pada link berikut :

Download 2 

Download 1 

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Hidup ini memang penuh dengan warna. Dan ingatlah  bahwa hakikat warna-warni kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah Allah tuliskan (tetapkan) dalam kitab “Lauhul Mahfudz” yang terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk Allah yang mengetahui isinya. Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Begitu pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita. Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut dan bencana-bancana lain yang telah melanda bangsa kita adalah atas kehendak, hak, dan kuasa Allah SWT.Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.

            Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka kita harus berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, dan berusaha keras untuk menggapai cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap muslim yaitu melihat Rabbul’alamin dan menjadi penghuni Surga.

            Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini.

 

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah:

1.      Apa yang dimaksud dengan iman qada’ dan qadar?

2.      Takdir dibagi menjadi berapa macam?

3.      Apa fungsi beriman kepada qada’dan qadar Allah SWT?

4.      Bagaimana ciri – ciri orang yang beriman kepada qada’ dan qadar?

5.      Bagaimana hikmah bagi orang yang beriman kepada qada’ dan qadar?

C.      Tujuan Makalah

      Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1.       Untuk memahami iman kepada qada’ dan qadar

2.       Untuk memahami dan mengetahui macam-macam takdir

3.       Untuk memahami fungsi iman kepada qada’ dan qadar

4.       Untuk mengetahui ciri-ciri orang yang beriman kepada qada’ dan qadar

5.       Untuk mengetahui hikmah bagi orang yang beriman kepada qada’ dan  qadar

 

Download File Doc. isi lengkap dari sampul sampai Penutup pada link berikut :

Download 2 

Download 1

 

Dampak Positif dan Negatif dari Bioteknologi

 

PENEGERTIAN BIOTEKNOLOGI.

Bioteknologi sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu yang berhubungan dengan penerapan sistem biologis dan organisme untuk proses teknis dan industri untuk kesejahteraan manusia.

 

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF BIOTEKNOLOGI.

Dampak positif pemanfaatan bioteknologi:

1. Meningkatkan produksi sumber makanan

Makanan dari tanaman dapat ditingkatkan produksinya dengan bioteknologi. Misalnya dengan mengubah gen agar tanaman menjadi lebih cepat berbuah.

2. Meningkatkan kekebalan terhadap hama

Bioteknologi dapat meningkatkan kekebalan tanaman terhadap hama. Misalnya dengan rekayasa genetika untuk menghasilkan tanaman padi yang tahan wereng.

3. Mengolah produk makanan

Produk makanan dapat dihasilkan dengan bioteknologi melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme. Contoh makanan dan minuman yang dihasilkan dengan bioteknologi termasuk tempe, kecap, keju, yoghurt dan nata de coco.

4. Menyediakan sumber energi  alternatif yang ramah lingkungan

Sumber energi  alternatif  dihasilkan bioteknologi antara lain adalah Bioetanol yang dibuat dari fermentasi karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman. Bahan baku bioetanol misalnya adalah tanaman tebu dan jagung.

 5. Membantu mengatasi pencemaran

Pencemaran lingkungan dapat dikurangi dengan menggunakan mikroba pengurai, seperti bakteri pengurai plastik dan jamur yang memakan sisa tanaman.

 

Dampak negatif bioteknologi:

1. Berkurangnya keanekaragaman hayati

Meski bermanfaat, ada beberapa resiko bioteknologi ini, antara lain adalah resiko terjadinya kontaminasi gen yang berakibat berkurangnya keanekaragaman hayati.

Gen dari tanaman atau hewan yang mengalami rekayasa genetika dapat masuk ke tanaman atau hewan di alam, melalui perkembangbiakan seksual, misalnya penyerbukan pada tanaman.

Misalnya, kedelai yang dimodifikasi agar tahan pestisida (Roundup Ready soy) memiliki resiko melakukan perkawinan silang dengan kedelai alami. Ini akan berakibat pada hilangnya varietas alami akibat perkawinan silang. Padahal varietas alami memiliki keunggulan, meski tidak tahan pestisida, seperti rasa yang lebih enak atau lebih besar bijinya.

2. Menimbulkan pencemaran lingkungan

Penggunaan bioteknologi yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan pencemaran, misalnya pembuangan limbah kecap dan tempe, yang langsung ke saluran air tanpa dikelola dengan baik.