Thursday, January 28, 2021

Riwayat Hidup dan Pencapaian Umar Bin Khattab

  Riwayat Hidup dan Pencapaian Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab

'Umar bin Khattab (bahasa Arab: عمر بن الخطاب‎; sekitar 584  – 3 November 644) adalah khalifah kedua yang berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Dia juga digolongkan sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin. 'Umar merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad dan juga merupakan ayah dari Hafshah, istri Nabi Muhammad.

Dalam sudut pandang Sunni, 'Umar termasuk salah satu pemimpin yang hebat dan suri teladan dalam masalah keislaman dan beberapa hadits menyebutkan dirinya sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar. 'Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Namun di sisi lain, 'Umar cenderung dipandang negatif dalam perspektif Syi'ah.

Pada masa kepemimpinannya, kekhalifahan menjadi salah satu kekuatan besar baru di wilayah Timur Tengah. Selain menaklukan Kekaisaran Sasaniyah yang sudah melemah hanya dalam kurun waktu dua tahun (642–644), 'Umar berhasil mengambil alih kepemimpinan dua pertiga wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Perluasan wilayah ini juga diikuti berbagai pembaharuan. Dalam bidang pemerintahan dan politik, departemen khusus dibentuk sebagai tempat masyarakat dapat mengadu mengenai para pejabat dan negara. Pembentukan Baitul Mal menjadi salah satu pembaharuan 'Umar dalam bidang ekonomi. Segala capaiannya menjadikan 'Umar sebagai salah satu khalifah paling berpengaruh sepanjang sejarah

Biografi

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah. Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada saat sebelum memeluk Islam (Jahiliyyah = masa kekosongan Nabi), Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

Memeluk Islam

Ketika Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi Muhammad SAW

Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW, Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad SAW, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad SAW bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal yang selama ini selalu membelanyani membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Kehidupan di Madinah

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi Muhammad SAW dan pemeluk Islam lain berhijrah (migrasi) ke Yatsrib sekarang Madinah. Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama dia ikut menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW.

Wafatnya Nabi Muhammad

Pada saat kabar wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal, 10 Hijriah) suasana sedih dan haru menyelimuti kota Madinah,sambil berdiri termenung Umar dikabarkan sebagai salah seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, ia menghambat siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Akibat syok yang ia terima, Umar berkata "Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW. telah wafat. Sesungguhnya dia tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa dia wafat, kaki dan tangannya akan kupotong."

Abu Bakar yang mendengar kabar bergegas kembali dari Madinah, ia menjumpai Umar sedang menahan Muslim yang lain dan lantas mengatakan,

"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati!"

— Abu Bakar ash-Shiddiq

Abu Bakar mengingatkan kepada para pemeluk Islam yang sedang terguncang, termasuk Umar saat itu, bahwa Nabi Muhammad SAW, seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa, Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an dan mencoba untuk mengingatkan mereka kembali kepada ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad SAW yaitu kefanaan makhluk yang diciptakan. Setelah peristiwa itu, Umar sadar kesalahannya dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan.

Masa kekhalifahan Abu Bakar

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasihat kepalanya. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Menjadi khalifah

Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa Kekaisaran Sassanid serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Al-Qadisiyyah (thn 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 5 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia salat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah

Wafat

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu:

  1. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Keluarga

Orangtua

AyahAl-Khaththab bin Nufail dari Bani 'Adi.

IbuHantamah binti Hisyam dari Bani Makhzum.

Pasangan dan anak

  • Zainab binti Mazh'un. Dia berasal dari Bani Jumah. Zainab menikah dengan 'Umar sebelum tahun 605. Tidak diketahui sikap Zainab terhadap Islam maupun waktu pasti dirinya menjadi mualaf. Saat 'Umar hijrah ke Madinah pada 622, sebagian catatan tidak menyertakan seorang wanitapun dari keluarga 'Umar yang turut sertasehingga diasumsikan bahwa Zainab telah meninggal bila mengacu pendapat ini. Namun menurut penuturan putra 'Umar, 'Abdullah, dia hijrah bersama kedua orangtuanya.'Umar menceraikan dua istrinya yang lain pada 628 atas perintah Nabi Muhammad yang tidak memperkenankan mempertahankan pernikahan dengan orang musyrik, sehingga Zainab pasti telah menjadi Muslimah jika dia masih hidup pada saat tersebut.
  • Ummu Kultsum binti Jarwal, juga dikenal dengan Mulaika. Dia berasal dari Bani Khuza'ah. Dia menikah dengan 'Umar sebelum tahun 616. Ummu Kultsum turut serta hijrah ke Madinah meski masih menyembah berhala. Segera setelah Perjanjian Hudaibiyyah pada 628, Nabi Muhammad tidak memperkenankan umat Muslim mempertahankan pernikahan dengan orang musyrik sehingga 'Umar kemudian menceraikan Ummu Kultsum. Ummu Kultsum kembali ke Makkah setelah perceraian tersebut.
    • 'Ubaidillah
  • Quraibah binti Abu Umayyah. Dia berasal dari Bani Makhzum. Ayah Quraibah, Abu Umayyah bin Al-Mughirah, adalah pemimpin Makkah pada awal abad ketujuh. Ibunya, Atikah binti 'Utbah, berasal dari Bani Abdu Syams. Quraibah juga merupakan saudari seayah dari Ummu Salamah Hindun, istri Nabi Muhammad. Hindun binti 'Utbah adalah bibi Quraibah dari pihak ibu. Quraibah menikah dengan 'Umar sebelum tahun 616 dan 'Umar menjadi suami keduanya. Quraibah berstatus penyembah berhala saat hijrah ke Madinah. Dia diceraikan oleh 'Umar pada 628. Setelahnya, Quraibah menikah dengan Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan pernikahan ketiganya juga berakhir dengan perceraian. Setelahnya Quraibah menikah dengan putra Abu Bakar Ash-Shiddiq, 'Abdurrahman.
    • tidak memiliki anak dengan 'Umar
  • Jamilah binti Tsabit, nama aslinya adalah 'Ashiyah. Dia berasal dari Bani Aus dari pihak ayah dan ibu. Jamilah dan ibunya, Asy-Syamus binti Abu Amir, adalah termasuk dari sepuluh wanita yang berbaiat pada Nabi Muhammad pada 622. Nabi Muhammad kemudian memberinya nama baru, Jamilah, yang berarti 'cantik'. Dia menikah dengan 'Umar antara tahun 627 sampai 628. Pada satu kesempatan, Jamilah meminta uang kepada 'Umar dan 'Umar melaporkan pada Nabi Muhammad bahwa dia menampar Jamilah sampai jatuh lantaran istrinya tersebut meminta sesuatu yang dia tidak miliki. Pernikahan mereka berakhir dengan perceraian.
  • 'Atikah binti Zaid. Dia berasal dari Bani 'Adi. 'Atikah termasuk sahabat Nabi dan juga seorang penyair. Dia total menikah lima kali dan 'Umar adalah suami ketiganya. Suami pertamanya adalah Zaid, saudara 'Umar sendiri, dan suami keduanya adalah 'Abdullah bin Abu Bakar yang meninggal pada tahun 633. 'Atikah sendiri berada di masjid saat 'Umar ditikam yang berujung pada kematiannya pada 644, 'Atikah menikah dengan Zubair bin 'Awwam yang gugur di Perang Jamal pada tahun 656. 'Atikah kemudian menikah dengan Husain, cucu Nabi Muhammad. 'Atikah meninggal pada tahun 672.
    • Iyaad
  • Ummu Hakim binti Harits. Dia berasal dari Bani Makhzum. 'Umar sendiri adalah suami ketiga Ummu Hakim. Suami pertamanya adalah Ikrimah bin Abu Jahal dan suami keduanya adalah Khalid bin Sa`id. Pada Perang Marj Ash-Shaffar (634) antara pihak kekhalifahan dengan Kekaisaran Romawi Timur yang menewaskan suami keduanya, Ummu Hakim turut serta dalam perang dan membunuh tujuh prajurit Romawi dengan tiang tenda di dekat jembatan yang kemudian dikenal dengan Jembatan Ummu Hakim dekat Damaskus.
    • Fatimah
  • Ummu Kultsum binti 'Ali atau Zainab as-Sughra. Dia adalah cucu Nabi Muhammad, putri Fatimah az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib. 'Umar memberikan mahar untuk pernikahannya dengan Ummu Kulstum sebesar 40.000 dirham dan mereka hidup sebagai suami istri pada tahun 638. Tercatat Ummu Kultsum pernah memberikan hadiah parfum kepada Permaisuri Martina, istri Kaisar Romawi Timur Heraklius. Sebagai balasan, Martina menghadiahi kalung kepada Ummu Kulstum. Namun 'Umar yang percaya bahwa istrinya tak seharusnya ikut campur dalam urusan kenegaraan akhirnya menyerahkan kalung tersebut ke dalam perbendaharaan negara. Dalam sudut pandang Syi'ah, pernikahan antara Ummu Kulstum dan 'Umar adalah kisah rekaan.
  • Luhyah, wanita Yaman. Al-Waqidi menyatakan bahwa dia adalah seorang budak-selir.
    • 'Abdurrahman
  • Rukayhah, seorang budak-selir.
    • Zainab

Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Merebut Kota Makkah

 Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Merebut Kota Makkah

 

Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Pembebasan Makkah

Pembebasan Mekkah atau disebut Fathu Makkah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa yang terjadi tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah (tahun 630) menjadi salah satu kemenangan besar bagi kaum muslim.

Saat itu Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah. Kemudian menguasai Kota Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Kaum muslimin juga menghancurkan berhala yang ada di dalam dan sekitar Ka'bah. Setelah itu orang-orang Quraisy Makkah memeluk Islam secara berbondong-bondong.

Dalam peristiwa itu ada satu kisah kebijaksanaan Rasulullah yang menyentuh hati. Kedatangan beliau ke Makkah berhasil membebaskan Makkah dari kesyirikan dan kejahilan tanpa perlawanan dari kaum quraisy. Beliau SAW menunjukkan sifat kearifan dan keadilannya hingga orang-orang kafir quraish ramai-ramai memeluk Islam. Kisah ini juga diceritakan dalam sirah nabawiyah dan kitab kisah nabi dan para sahabat.

Dikisahkan, pada saat pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah SAW didampingi sahabatnya datang untuk menaklukkan kota Suci Makkah. Orang-orang musyrik dan kaum Quraisy sangat ketakutan, sehingga tidak ada satu orang pun yang berani memperlihatkan batang hidungnya.

Di antara sekian banyak orang musyrik dan kaum Quraisy yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, pemimpin kaum kafir dan bangsawan terhormat di Makkah. Ia biasa disanjung oleh rakyatnya, namun saat peristiwa itu terjadi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani keluar rumahnya.

Melihat kejadian itu, Nabi Muhammad SAW saat hendak melangkah ke Ka’bah untuk meruntuhkan berhala-berhala, Beliau berseru kepada penduduk Makkah: "Barangsiapa masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi," seru Rasulullah.

Mendengar seruan Rasulullah itu betapa bangganya Abu Sufyan mendengarnya karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang ia sudah tidak perlu lagi kehilangan muka di hadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa ia begitu dihargai.


Akibatnya seketika itu juga putra Abu Sufyan bernama Mu'awiyah masuk Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum mau menerima Islam. Mereka meminta waktu seminggu untuk berfikir dulu, sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke Agama Islam.
Ketika mendengar Abu Sufyan berkata demikian, Rasulullah pun menjawab. "Jangan seminggu!"

"Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?" tanya Abu Sufyan dengan terkejut.

"Tidak, waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakan kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agamanya orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal," kata Rasulullah.

Demikian kisah kebijakan Rasulullah dalam menyikapi suatu persoalan. Sekali pun posisinya sudah di atas dan berkuasa, beliau tetap bersikap adil dan bijaksana dalam memutuskan setiap tindakannya. Semoga kita dapat mengambil himah dan palajaran dari kisah ini.

Perang-perang yang diikuti oleh Rasulullah SAW

 Perang-perang yang diikuti oleh Rasulullah SAW

Nabi Muhammad adalah utusan Allah Subhanallahu Wata’ala (SWT) yang mendapatkan perintah mengajarkan agama Islam. Saat ini setidaknya ada milyaran orang yang memeluk agama Islam dan mengikuti ajaran Nabi.

Namun terlepas dari pencapaian luar biasa Muhammad, ternyata banyak perang-perang yang diikuti Nabi untuk mengukuhkan Islam.  Berikut ini adalah perang-perang yang diikuti Nabi Muhammad SAW.

IBNU Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai bercerita kepada kami dari Muhammad bin Ishaq Al-Muthallabi ia berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam berperang sebanyak dua puluh tujuh kali. Perang-perang yang dilalui oleh beliau adalah sebagai berikut:

  1. Perang Waddan atau Perang Al-Abwa’ (Penyergapan kafilah, berlangsung 623-624 M/ 2 Hijriyah)
  2. Perang Buwath di Radhwa.
  3. Perang Al-Qusyairah di lembah Yanbu’.
  4. Perang Badar Pertama dalam rangka mencari Kurz bin Jabir.
  5. Perang Badar AlKubra yang mana di dalamnya tokoh-tokoh Quraisy banyak tewas.
  6. Perang Bani Sulaim hingga tiba di Al-Kudr.
  7. Perang As-Sawiq dalam rangka mencari Abu Sufyan bin Harb
  8. Perang Ghathafan yakni Perang Dzu Amar.
  9. Perang Bahran di kawasan tambang di Al-Hijaz.
  10. Perang Uhud.
  11. Perang Hamra’ul Asad.
  12. Perang Bani An-Nadhir.
  13. Perang Dzatu Ar-Riqa’.
  14. Perang Badar Terakhir.
  15. Perang Dawmatul Al-Jandal.
  16. Perang Khandaq.
  17. Perang Bani Quraizhah.
  18. Perang Bani Lahyan dari suku Hudzail.
  19. Perang Dzu Qarad.
  20. Perang Bani Al-Mushthaliq dari suku Khuza’ah.
  21. Perang Al-Hudaibiyah dimana Rasulullah tidak menginginkan perang, karena dilarang melaksanakan umrah oleh kaum musyrikin
  22. Perang Khaybar.
  23. Umrahul Qadha’.
  24. Perang Penaklukan Makkah
  25. Perang Hunain.
  26. Perang Thaif.
  27. Perang Tabuk.

 

Berikut Penjelasan dari beberapa perang yang diikuti Nabi

Pertempuran Wadan atau Al-Abwa

Pertempuran Al-Abwa disebut juga Wadan. Hal ini karena lokasi terjadinya berada di Al-Abwa sebuah desa antara Madinah dan Mekah. Perang ini terjadi pada tanggal 12 bulan Safar tahun kedua Hijrah, di desa Amal Al-Faraa, atau Al-Abwa, yang berjarak 23 mil dari Madinah, atau desa Wadan, 6 dari Al -Abwa.

Nabi Muhammad adalah pemimpin dalam perang ini, dan perang Al-Abwa adalah yang pertama dari serangkaian ekspedisi militer umat muslim melawan orang-orang kafir yang memerangi agama Allah. Pamannya Hamzah ibn Abdul-Muttalib adalah pembawa bendera umat Islam.

Alasan perang ini adalah karena Nabi ingin mengidentifikasi berbagai rute di sekitar Madinah, dan rute yang menuju ke Mekah. Nabi bermaksud untuk menulis perjanjian dengan berbagai suku yang tinggal di rute ini. Nabi juga ingin orang-orang kafir dan Yahudi di Yathrib, serta Badui Arab di sekitar Yathrib, menyadari bahwa Muslim sekarang kuat, dan tidak lagi lemah seperti dulu.

Nabipun juga ingin memperingatkan Quraisy agar mereka menghentikan upaya mereka untuk menyerang Muslim di rumah mereka di Madinah dan untuk menghalangi jalan Allah. Peristiwa perang ini dimulai ketika Nabi meminta Saad ibn Ubaidah untuk mengelola urusan di Madinah saat Nabi tidak ada, dan kemudian meninggalkan kota untuk mencegat kafilah Quraisy.

Nabi membawa serta 60 h orang dari muhajirin bersamanya. Namun, mereka tidak berhasil menemui kafilah Quraishi. Sebaliknya, Nabi dan kaum muhajirin bertemu dengan suku Bani Damrah. Pemimpin mereka, Mukh’shi ibn Omar Ad-Damuri, ada bersama mereka. Mereka meminta kesepakatan damai dengan kaum Muslimin.

Oleh karena itu, Nabi  menulis perjanjian dengan Bani Damrah bahwa kaum Muslim tidak akan memerangi Bani Damrah dan bahwa Bani Damrah tidak akan memerangi kaum Muslimin, dan bahwa Bani Damrah tidak akan bergabung dengan orang lain untuk menyerang kaum Muslimin atau membantu musuh melawan Muslim.

Hasil dari perang Wadan (Al-Abwa) adalah sebuah perjanjian yang dibuat dengan Banu Damrah. Pelajaran yang bisa dipetik dari perang Wadan (Al-Abwa) meski akhirnya tidak ada pertempuran darah adalah  kewaspadaan Nabi adalah cara untuk mengangkat firman Allah dan melindungi darah umat Islam. Dia pergi mencari Quraisy, dan menulis perjanjian dengan Banu Damrah agar mereka tidak menyerang Muslim.

Nabi memberikan pelajaran tentang keberanian seorang pemimpin yang tidak hanya mengandalkan rencana, tetapi mengambil bagian di garis depan konflik, meskipun para sahabat menginginkannya untuk menghindari situasi berbahaya.

Perang Badar

Pertempuran Badar adalah yang paling penting di antara perang umat Islam lainnya kala itu. Untuk pertama kalinya para pengikut agama Islam diuji secara serius. Seandainya kemenangan menjadi bagian dari pasukan kafir maka iman umat Islam bisa saja berakhir sebab kala itu orang yang mengikuti perang ini masih dalam tahap awal perkenalan terhadap Islam.

Pertempuran ini setidaknya menghadirkan pasukan kafir Quraisy yang terdiri dari 950 pejuang sementara umat Islam hanya membawa dan 314 pasukan saja. Kekuatan umat Islampun dibagi menjadi tiga garis pertahanan:

  • Barisan pertama diisi oleh ratusan sahabat Rasul yang hatinya dipenuhi dengan keimanan dan kesiapan berkorban. Banyak dari mereka memandang mati syahid sebagai keberuntungan, setara dengan kehidupan dan kemenangan. Sahabat baik ini adalah tentara Islam, garis pertahanan pertama dan tembok tebal yang melindungi tempat Rasulullah berdiri. Mereka adalah para penyerang dan pembela.
  • Barisan kedua  dipimpin oleh Ali Ibn Abu. Ali juga Sahabat yang populer dengan kekuatannya di seluruh Semenanjung Arab.
  • Barisan terakhir dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Kepemimpinan dan ketegasannya yang tiada banding adalah tempat perlindungan terakhir bagi Muslim di perang Badar.

Mengenai orang-orang yang berada di barisan pertama, mereka adalah orang-orang yang biasa Nabi Muhammad panggil sebelum orang lain, untuk mempersembahkan pengorbanan yang berat. Mereka biasanya berdiri di garis pertahanan pertama yang membuka jalan bagi tentara untuk memerangi barisan musuh.

Ketika serangan umum dimulai dan setiap orang mulai bertempur, barisan yang melindungi Nabi bertugas untuk merusak musuh.  Pertempuran dimulai ketika Utbah Ibn Rabi-ah, putranya Al Walid dan saudaranya Sheibah berdiri di depan tentara kafir dan meminta Nabi untuk mengirimkan kepada mereka lawan yang sederajat.

Ratusan sahabat berada di sekelilingnya dan banyak dari mereka mengharapkan untuk dipanggil oleh Nabi tetapi Nabi memilih untuk memulai dari keluarganya sendiri. Beban itu berat dan hanya bisa dibawa oleh orang-orang yang memiliki kekuatan besar. Nabi hanya memanggil Ali, Al Hamza dan Obeidah Al Harith (semuanya dari marga Nabi) untuk menghadapi musuh-musuh yang hendak membunuh Nabi..

Ali menghancurkan Al Walid dan Al Hamza membunuh Utbah; kemudian mereka berdua membantu Obeidah melawan musuhnya, Sheibah. Sheibah kemudian meninggal dan Obeidah adalah syahid pertama dalam pertempuran ini. Dia meninggal setelah kehilangan kakinya.

Ketika serangan umum dimulai, ratusan umat Islam berpartisipasi dalam pertempuran dan banyak dari mereka yang akhirnya meninggal. Ali bin Abi Thalib sendiri berusaha untuk memenangkan pertempuran dengan perlawanan yang unik. etika Hanthala Ibn Abu Sufyan menghadapinya, Ali mencairkan matanya dengan satu pukulan dari pedangnya.

Dia memusnahkan Al Auss Ibn Saeed, dan bertemu Tuaima Ibn Oday dan menusuknya dengan tombaknya seraya berkata “Kamu tidak akan berselisih dengan kami dalam urusan agama dan Tuhan setelah hari ini.”

Nabi pun kemudian mengambil segenggam kerikil ketika pertempuran sangat panas. Dia melemparkannya ke wajah orang-orang kafir sambil berkata, “Semoga wajah-Mu menjadi cacat. Tuhan, menakuti hati mereka dan membuat kaki mereka tidak berfungsi “Orang-orang kafir lari, tidak memalingkan wajah mereka kepada siapa pun.

Kaum Muslimin kemudian terus membunuh mereka dan menahan tawanan. 70 orang kafir menemui ajalnya, dan muslim mengambil dari mereka 70 tawanan. Sejarah yang tersimpan dalam catatan Islam, bahwa banyak orang kafir Quraisy mati di tangan Ali. Pertempuran ini meletakkan dasar Negara Islam dan menjadikan Muslim sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan oleh penduduk Semenanjung Arab.

Perang Bani Sulaim di Al – Kudr

Pada hari-hari pertama Syawal, tujuh hari setelah Perang Badar, atau konon, di tengah-tengah Muharram, pada tahun ketiga, Rasulullah berangkat ke Bani Sulaim, dan ketika dia sampai di sebuah lubang air yang dikenal sebagai Qarqara Al-Kudr, Bani Sulaim dari Ghatafan mengumpulkan pasukan untuk menyerang umat Islam.

Nabi mengambil inisiatif sendiri dan melancarkan serangan mendadak terhadap mereka di tanah air mereka sendiri yang disebut Al-Kudr. Peristiwa di Al-Kudr terjadi karena suku Banu Saleem dan Ghatafan telah mengerahkan pasukan untuk menyerang pasukan umat Muslim.

Perang Bani Qainuqa

Kaum Yahudi dari suku Bani Qainuqa adalah yang pertama melanggar ketentuan kesepakatan mereka dengan kaum Muslim. Orang-orang Yahudi ini memiliki benteng kokoh di luar Madinah. Ketika Nabi SAW memanggil orang-orang Yahudi ini untuk menghormati kesepakatan mereka dengan muslim, pemimpin mereka mengambil sikap menantang dan berkata bahwa mereka berbeda dengan Quraisy yang dapat dikalahkan.

Bani Qainuqa mengklaim bahwa mereka jauh lebih tangguh dari suku Quraisy. Terlepas dari pelanggaran yang diberikan oleh orang-orang Yahudi Qainuqa, Nabi tetap diam dan memutuskan untuk bersabar menunggu waktu yang tepat dan melakukan konfrontasi yang sebenarnya. Krisis berkembang  setelah Pertempuran Badar.

Seorang wanita Muslim mengunjungi toko tukang emas di kawasan Banu Qainuqa. Seorang laki-laki Yahudi merangkak di belakangnya, dan menyematkan rok wanita itu ke korsetnya. Ketika wanita berjalan tanpa disadari roknya jatuh memperlihatkan ketelanjangannya. Beberapa orang Yahudi berkumpul dan mulai mengejek wanita muslim itu.

Kemudian seorang muslim datang ke tempat itu dan dia menyerang orang Yahudi dengan pedangnya. Dia membunuh orang yang telah melakukan perbuatan memalukan itu dan muslim tersebut hampir saja terbunuh oleh orang Yahudi lainnya.

Ketika Nabi mengetahui apa yang terjadi, dia meminta Bani Qainuqa untuk membayar ganti rugi atas kesalahan yang mereka lakukan, dan memberikan jaminan yang memadai akan perilaku yang baik di masa depan. Banu Qainuqa menentang peringatan itu, dan bersiap untuk perang.

Kejadian ini membuat kesabaran Nabi hilang, dan dia memerintahkan tindakan hukuman terhadap Banu Qainuqa. Nabi memberikan bendera kepada Ali, dan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Ali berbaris ke markas Bani Qainuqa. orang-orang Yahudi mengurung diri di benteng mereka, dan Muslim mengepung benteng tersebut.

Ali memblokir semua rute yang memberikan bantuan ke Bani Qainuqa dari luar. Setelah itu kaum Muslim memperketat pengepungan. Putus asa karena tidak ada bantuan apa pun kepada Bani Qainuqa, akhinya kaum Yahudi inipun menyerah setelah melakukan persembunyian selama dua minggu.

Di bawah hukum Yahudi semua laki-laki di antara Bani Qainuqa dapat dipenggal, dan perempuan serta anak-anak mereka dapat dijual sebagai budak. Namun Nabi tidak mau mengikuti hukum Yahudi, Nabi hanya memerintahkan pengusiran mereka dari Madinah. Properti Banu Qainuqa disita. Sebagai isyarat niat baik untuk muhajirin, kaum Ansar memutuskan untuk melepaskan bagian mereka.

Properti yang disita dibagikan kepada kaum muhajirin termasuk Ali. Bahkan jika dikatakan bahwa posisi keuangan Ali lemah dalam hal apapun, posisi keuangannya pasti membaik setelah operasi melawan Bani Qainuqa, karena sebagai hasil dari pertempuran ini dia memiliki banyak sekali harta tawanan.

Peran Bani Qainuqa adalah pertempuran pertama Ali yang dilakukan di bawah komandonya. Dalam pertempuran ini, Ali mempertanggungjawabkan jabatan jenderalnya.

Perang Sawiq

Sawiq adalah jenis tepung yang dibuang Abu Sufyan dan teman-temannya dari unta mereka agar dapat melarikan diri dari pengejaran Nabi. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 5 Dzulhijjah, di mulut saluran sebelah gunung yang disebut Layb, dekat Madinah.

Abu Sufyan, dengan bantuan kaum Yahudi Banu An-Nadeer, membunuh salah satu muslim dari Ansar dan membakar pohon palem di daerah Al-Uraid di Madinah. Perlakuan ini adalah upaya untuk membalas kerugian yang mereka derita dari umat Islam dalam pertempuran Badar ketika para pemimpin kafir diserang dan para tetua mereka dibunuh, dua bulan sebelumnya.

Nabi Muhammad memimpin perang ini untuk menghadapi pemimpin kafir, Abu Sufyan. Setelah menderita kekalahan memalukan di Pertempuran Badar, Abu Sufyan ibn Harb, pemimpin Quraisy mengumpulkan 200 orang berkuda, mengambil alih jalan timur melalui Najd dan diam-diam tiba di malam hari, di pemukiman Banu Nadir, sebuah suku Yahudi.

Namun, kepala suku Yahudi, Huwey menolak dia masuk ke tempat tinggal Yahudi. Maka, Abu Sufyan mengungsi ke Salam bin Mishkan, pemimpin lain dari suku Bani Nadir dari Yahudi. Salam menyambut Abu Sufyan dengan ramah. Di malam hari, Abu Sufyan mengajaknya ke ladang jagung Urayd, sekitar dua atau tiga mil di timur laut Medina. Dia membakar pertanian ini dan membunuh 2 Muslim.

Ketika Muhammad tahu, dia mengumpulkan anak buahnya untuk mengejar Abu Sufyan namun Nabi dan pasukannya tidak bisa mengejar mereka karena Abu Sufyan dan pasukkannya berlari sangat cepat dan membuang semua bekalnya, agar bisa berlari cepat. Kaum Muslimin mengumpulkan sebagian dari perbekalan yang dibuang oleh orang Quraisy dan membawa kembali sebagian Sawiq (sejenis tepung).

Perang Uhud

Pertempuran berikutnya antara kaum Quraisy dan kaum Muslimin adalah pertempuran Uhud, sebuah bukit sekitar empat mil di sebelah utara Madinah. Para penyembah berhala, berusaha membalas kekalahan mereka di Perang Badar. Kaum Quraisy membuat persiapan yang luar biasa untuk serangan baru terhadap Muslim.

Mereka mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 3000 orang yang kuat. Pasukan ini bergerak maju di bawah bimbingan Abu Sufyan. Jumlah pasukan Nabi sendiri jauh lebih rendah dari musuh-musuhnya.

Pada awalnya Nabi memutuskan untuk tetap berada di dalam kota dan menerima mereka di sana; tetapi atas nasehat beberapa sahabatnya, Nabi dan pasukannya berbaris melawan mereka di depan seribu orang, yang seratus di antaranya dipersenjatai dengan mantel.

Tetapi Nabi tidak memiliki kuda untuk diberikan kepada pasukannya, selain miliknya sendiri. Dengan kekuatan yang minim ini, Nabi akhirnya berhenti di Gunung Uhud.  Menggunakan geografi alam Madinah sebagai alat, para pembela Muslim mengambil posisi di sepanjang lereng Gunung Uhud.

Gunung itu sendiri mencegah pasukan penyerang menembus dari arah itu. Nabi Muhammad menugaskan sekitar 50 pemanah untuk mengambil pos di bukit berbatu. Keputusan strategis ini dimaksudkan untuk melindungi tentara Muslim dari pengepungan oleh lawan.

Para pemanah diperintahkan untuk tidak pernah meninggalkan posisi mereka dalam keadaan apapun kecuali diperintahkan untuk melakukannya. Strategi ini nyaris berhasil hanya saja banyak pemanah yang tidak mematuhi perintah dan lari menuruni bukit untuk meminta rampasan perang. Hal ini membuat tentara Muslim rentan dan mengubah hasil pertempuran.

Saat pemanah Muslim meninggalkan pos mereka karena keserakahan, kafilah Mekah menemukan celahnya. Mereka menyerang Muslim dari belakang dan memisahkan kelompok satu sama lain. Beberapa terlibat dalam pertempuran tangan kosong, sementara yang lain mencoba mundur ke Madinah. Desas-desus kematian Nabi Muhammad menimbulkan kebingungan. Kaum Muslim diserbu, dan banyak yang terluka serta terbunuh.

Pertempuran berakhir, dan pasukan umat muslim akhirnya kalah. Pertempuran Uhud mengajarkan Muslim pelajaran penting tentang keserakahan, disiplin militer, dan kerendahan hati.

Banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari perang-perang yang diikuti Nabi. Semoga kita bisa mengambil hikmah pertempuran yang dilakukan oleh Nabi ini.

Perang Dzi Amr
Pada ekspedisi ini Rasulullah SAW berangkat bersama 450 pejuang. Ekspedisi ini terjadi karena terdapat konsentrasi massa dari bani Tsa'labah dan Muharib yang akan menyerang pinggiran Madinah. Ketika mereka mendapat kabar kedatangan Rasulullah SAW, mereka akhirnya bercerai berai. Rasulullah SAW menetap di Dzi Amr selama satu bulan Shafar penuh pada tahun 3 Hijriah.

 

Perang Bahran 
Rasulullah SAW berangkat bersama 300 pejuang ke sebuah tempat yang dikenal dengan nama Bahran. Beliau menetap selama 2 bulan pada tahun 3 Hijriah. Ada perbedaan pendapat perihal penyebab terjadinya patroli ini. Ada yang menyebutkan untuk memecahkan konsentrasi pasukan bani Sulaim, ada juga yang menyebutkan dengan tujuan menyerang Quraisy.

Ghazwah Safwan

Terjadi pada tahun 2 Hijriah. Penyebab pemberangkatan brigade ini adalah Karz bin Jabir Al-Fihri telah melakukan penyerangan dan merampas sebagian tanah di Madinah. Sehingga, berangkatlah Rasulullah bersama 70 orang sahabat. Ketika telah sampai safwan, Rasulullah SAW tidak menemukan Karz dan teman-temannya sehingga Rasulullah SAW pulang kembali ke Madinah tanpa melakukan peperangan.

Pertempuran Dzul - Usyairah

Terjadi pada bulan Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah tahun 2 Hijriah. Rasulullah SAW berangkat bersama 150 orang sahabat dari kaum muhajirin. Beliau tidak memaksa orang-orang untuk ikut serta. Mereka pergi dengan 30 unta yang digunakan secara bergantian. Tujuan dari pemberangkatan ini adalah untuk mencegat kafilah Quraisy yang akan berniaga menuju syam. Tetapi kedatangan Rasulullah SAW terlambat karena kafilah Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sudah melewati Dzul-Usyairah beberapa hari yang lalu. Kafilah inilah yang nantinya berusaha dicegat sehingga terjadinya perang Badar Kubra. Pada peristiwa ini Rasulullah SAW melakukan perjanjian dengan Bani Mudlij dan sekutunya.

 

Pertempuran Buwath

Dalam pertempuran ini Rasulullah SAW ditemani oleh 200 orang sahabat dengan tujuan mencegat kafilah Quraisy. Namun ketika sampai Buwath, Rasulullah SAW tidak mendapatkan sasaran yang diinginkan. Pertempuran ini terjadi pada bilan Rabiul Awwal tahun 2 Hijriah.