Sunday, January 27, 2019

Peradaban lembah sungai Nil dan Minoa (Paku Kreta)

Peradaban lembah sungai Nil

Peradaban lembah sungai Nil di Mesir, Afrika, lahir disebabkan kesuburan tanah di sekitar lembah sungai yang diakibatkan oleh banjir yang membawa lumpur. Hal inilah yang menarik perhatian manusia untuk mulai hidup dan membangun peradaban di tempat tersebut.
Peradaban lembah sungai Nil dibangun oleh masyarakat mesir kuno

Kehidupan masyarakat Mesir kuno

Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yaitu mencapai 6400 kilometer. Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi (pegunungan) Kalimanjaro di Afrika Timur. Sungai Nil mengalir dari arah selatan ke utara bermuara ke Laut Tengah. Ada empat negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir.
Setiap tahun sungai Nil selalu banjir. Luapan banjir itu menggenangi daerah di kiri kanan sungai, sehingga menjadi lembah yang subur selebar antara 15 sampai 50 kilometer. Di sekeliling lembah sungai adalah gurun. Batas timur adalah gurun Arabia di tepi Laut Merah. Batas selatan terdapat gurun Nubia di Sudan, batas barat adalah gurun Libya. Kemudian batas utara Mesir adalah Laut Tengah.
Menurut mitos, air sungai yang mengalir terus tersebut adalah air mata Dewi Isis yang selalu sibuk menangis dan menyusuri sungai Nil untuk mencari jenazah puteranya yang gugur dalam pertempuran.
Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletsyer yang mencair dari pegunungan Kilimanjaro sebagai hulu sungai Nil.
Peranan sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai tersebut. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile)
Lembah sungai Nil yang subur mendorong masyarakat untuk bertani. Air sungai Nil dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan dan waduk. Air sungai dialirkan ke ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Untuk keperluan irigasi dibuatlah organisasi pengairan yang biasanya diketuai oleh para tuan tanah atau golongan feodal. Hasil pertanian Mesir adalah gandum, sekoi atau jamawut dan jelai yaitu padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung.
Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang serta untuk menjual hasil produksi rakyat Mesir, maka dijalinlah hubungan dagang dengan Funisia, Mesopotamia dan Yunani di kawasan Laut Tengah. Peranan sungai Nil adalah sebagai sarana transportasi perdagangan. Banyak perahu-perahu dagang yang melintasi sungai Nil.

Sistem kekuasaan raja-raja Mesir kuno

Sejarah politik di Mesir berawal dari terbentuknya komunitas-komunitas di desa-desa sebagai kerajaan-kerajaan kecil dengan pemerintahan desa. Desa itu disebut nomen. Dari desa-desa kecil berkembanglah menjadi kota yang kemudian disatukan menjadi kerajaan Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Proses tersebut berawal dari tahun 4000 SM namun pada tahun 3400 SM seorang penguasa bernama Menes mempersatukan kedua kerajaan tersebut menjadi satu kerjaan Mesir yang besar.
Mesir merupakan sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja yang bergelar Firaun. Ia berkuasa secara mutlak. Firaun dianggap dewa dan dipercaya sebagai putera Dewa Osiris. Seluruh kekuasaan berada ditangannya baik sipil, militer maupun agama.
Sebagai penguasa, Firaun mengklaim atas seluruh tanah kerajaan. Rakyat yang tinggal di wilayah kerajaan harus membayar pajak. Untuk keperluan tersebut Firaun memerintahkan untuk sensus penduduk, tanah dan binatang ternak. Ia membuat undang-undang dan karena itu menguasai pengadilan. Sebagai penguasa militer Firaun berperan sebagai panglima perang, sedangkan pada waktu damai ia memerintahkan tentaranya untuk membangun kanal-kanal dan jalan raya.
Untuk menjalankan pemerintahannya Firaun mengangkat para pejabat yang pada umumnya berasal dari golongan bangsawan. Ada pejabat gubernur yang memerintah propinsi, panglima ketentaraan, hakim di pengadilan dan pendeta untuk melaksanakan upacara keagamaan. Salah satu jabatan penting adalah Wazir atau Perdana Menteri yang umumnya dijabat oleh putra mahkota.
Sejak tahun 3400 SM sejarah Mesir diperintah oleh 30 dinasti yang berbeda yang terdiri dari tiga zaman yaitu Kerajaan Mesir Tua yang berpusat di Memphis, Kerajaan Tengah di Awaris dan Mesir Baru di Thebe.
Secara garis besar keadaan pemerintahan raja-raja Mesir adalah sebagai berikut.

Kerajaan Mesir Tua (2660 – 2180 SM)
Lahirnya kerajaan Mesir Tua setelah Menes berhasil mempersatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Sebagai pemersatu ia digelari Nesutbiti dan digambarkan memakai mahkota kembar.
Kerajaan Mesir Tua disebut zaman piramida karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal misalnya piramida Sakarah dari Firaun Joser.
Piramida di Gizeh adalah makam Firaun Cheops, Chifren dan Menkawa.
Runtuhnya Mesir Tua disebabkan karena sejak tahun 2500 SM pemerintahan mengalami kekacauan. Bangsa-bangsa dari luar misalnya dari Asia Kecil melancarkan serangan ke Mesir. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akhirnya terjadilah perpecahan antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu.

Kerajaan Mesir Tengah (1640 – 1570 SM)
Kerajaan Mesir Tengah dikenal dengan tampilnya Sesotris III. Ia berhasil memulihkan persatuan dan membangun kembali Mesir. Tindakannya antara lain membuka tanah pertanian, membangun proyek irigasi, pembuatan waduk dan lain-lain. Ia meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang dengan Palestina, Syria dan pulau Kreta. Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan sampai Nubia (kini Ethiopia). Sejak tahun 1800 SM kerajaan Mesir Tengah diserbu dan ditaklukkan oleh bangsa Hyksos.Pada waktu itu kerajaan Mesir Tengah sedang mengalami kehancuran yang sangat signifikan.

Kerajaan Mesir Baru (1570 - 1075 SM)
Patung Raja/Firaun Thutmosis III
Sesudah diduduki bangsa Hyksos, Mesir memasuki zaman kerajaan baru atau zaman imperium. Disebut zaman imperium karena para Firaun Mesir berhasil merebut wilayah/daerah di Asia barat termasuk Palestina, Funisia dan Syria.
Raja-raja yang memerintah zaman Mesir Baru antara lain:
Patung Raja / Firaun Thutmosis III
  1. Ahmosis I. Ia berhasil mengusir bangsa Hyksos dari Mesir sehingga berkuasalah dinasti ke 18, ke 19 dan ke 20.
  2. Thutmosis I. Pada masa pemerintahannya Mesir berhasil menguasai Mesopotamia yang subur.
  3. Thutmosis III. Merupakan raja terbesar di Mesir. Ia memerintah bersama istrinya Hatshepsut. Batas wilayah kekuasaannya di timur sampai Syria, di selatan sampai Nubia, di barat sampai Lybia dan di utara sampai pulau Kreta dan Sicilia. Karena tindakannya tersebut ia digelari “Napoleon dari Mesir”. Thutmosis III juga dikenal karena memerintahkan pembangunan Kuil Karnak dan Luxor.
  4. Imhotep IV. Kaisar ini dikenal seorang raja yang pertama kali memperkenalkan kepercayaan yang bersifat monotheis kepada rakyat Mesir kuno yaitu hanya menyembah dewa Aton (dewa matahari) yang merupakan roh dan tidak berbentuk. Ia juga menyatakan sebagai manusia biasa dan bukan dewa.
  5. Ramses II. Ramses II dikenal membangun bangunan besar bernama Ramesseum dan Kuil serta makamnya di Abusimbel. Ia juga pernah memerintahkan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan daerah sungai Nil dengan Laut Merah namun belum berhasil.

    Masa Ramses II diperkirakan sezaman dengan kehidupan
    nabi Musa.

    Setelah pemerintahan Ramses II kekuasaan di Mesir mengalami kemunduran. Mesir ditaklukkan
    Assyria pada tahun 670 SM dan pada tahun 525 SM Mesir menjadi bagian imperium Persia. Setelah Persia, Mesir dikuasai oleh Iskandar Zulkarnaen dan para penggantinya dari Yunani dengan dinasti terakhir Ptolemeus. Salah satu keturunan dinasti Ptolemeus adalah Ratu Cleopatra dan sejak tahun 27 SM Mesir menjadi wilayah Romawi.



Sistem kepercayaan bangsa Mesir kuno
Kuil Dewa Horus

Masyarakat Mesir mengenal pemujaan terhadap dewa-dewa. Ada dewa yang bersifat nasional yaitu: Osiris (Dewa tertinggi), Ra (Dewa Matahari), Amon (Dewa Bulan) kemudian menjadi Amon Ra, Thot (Dewa pengetahuan), Horus (Anak Dewa Osiris).
Sebagai lambang pemujaan kepada Ra didirikan obelisk yaitu tiang batu yang ujungnya runcing. Obelisk juga dipakai sebagai tempat mencatat kejadian-kejadian. Untuk pemujaan terhadap dewa Amon Ra dibangunlah Kuil Karnak yang sangat indah pada masa Raja Thutmosis III.
Selain dewa nasional maka ada dewa-dewa lokal yang dipuja pada daerah-daerah tertentu seperti Dewa Osiris yaitu hakim alam baka, Dewi Isis yaitu dewi kecantikan isteri Osiris, Dewa Aris sebagai dewa kesuburan dan dewa Anubis yaitu dewa kematian.
Wujud kepercayaan yang berkembang di Mesir berdasarkan pemahaman sebagai berikut:
  1. Penyembahan terhadap dewa berangkat dari ide/gagasan bahwa manusia tidak berdaya dalam menaklukkan alam.
  2. Yang disembah adalah dewa/dewi yang menakutkan seperti dewa Anubis atau yang memberi sumber kehidupan.
Jadi dengan taat menyembah pada dewa masyarakat lembah Sungai Nil mengharap jangan menjadi sasaran maut.
Kepercayaan yang kedua berkaitan dengan pengawetan jenazah yang disebut mummi. Dasarnya membuat mummi adalah bahwa manusia tidak dapat menghindari dari kehendak dewa maut. Manusia ingin tetap hidup abadi. Agar roh tetap hidup maka jasad sebagai lambang roh harus tetap utuh.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Tulisan
Masyarakat Mesir mengenal bentuk tulisan yang disebut Hieroglyph berbentuk gambar. Tulisan Hieroglyph ditemukan di dinding piramida, tugu obelisk maupun daun papirus. Huruf Hieroglyph terdiri dari gambar dan lambang berbentuk berkembang menjadi lebih sederhana kemudian dikenal dengan tulisan hieratik dan demotis. Tulisan hieratik atau tulisan suci dipergunakan oleh para pendeta. Demotis adalah tulisan rakyat yang dipergunakan untuk urusan keduniawian misalnya jual beli.
Huruf-huruf Mesir itu semula menimbulkan teka-teki karena tidak diketahui maknanya. Secara kebetulan pada waktu Napoleon menyerbu Mesir pada tahun 1799 salah satu anggota pasukannya menemukan sebuah batu besar berwarna hitam di daerah Rosetta. Batu itu kemudian dikenal dengan batu Rosetta memuat inskripsi dalam tiga bahasa. Pada tahun 1822 J.F. Champollion telah menemukan arti dari isi tulisan batu Rosetta dengan membandingkan tiga bentuk tulisan yang digunakan yaitu Hieroglyph, Demotik dan Yunani.Dengan terbacanya isi batu Rosetta terbukalah tabir mengenai pengetahuan Mesir kuno (Egyptologi) yang Anda kenal sampai sekarang.Selain di batu, tulisan Hieroglyph juga ditemukan di kertas yang terbuat dari batang Papirus.Dokumen Papirus sudah digunakan sejak dinasti yang pertama. Cara membuat kertas dari gelagah papirus adalah dengan memotongnya. Kemudian kulitnya dikupas dan intinya diiris/disayat tipis-tipis.
Sistem kalender
Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus (peredaran) bulan selama 291/2 hari. Karena dianggap kurang tetap kemudian mereka menetapkan kalender berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun. Mereka menghitung satu tahun adalah 12 bulan, satu bulan 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari yaitu 12 x 30 hari lalu ditambahkan 5 hari. Mereka juga mengenal tahun kabisat. Penghitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut Tahun Syamsiah (sistem Solar).
Penghitungan kalender Mesir dengan sistem Solar kemudian diadopsi (diambil alih) oleh bangsa Romawi menjadi kalender Romawi dengan sistem Gregorian. Sedangkan bangsa Arab kuno mengambil alih penghitungan sistem lunar (peredaran bulan) menjadi tarik Hijriah.
Seni bangunan (arsitektur)
Dari peninggalan bangunan-bangunan yang masih bisa disaksikan sampai sekarang menunjukkan bahwa bangsa Mesir telah memiliki kemampuan yang menonjol di bidang matematika, geometri dan arsitektur.
Peninggalan bangunan Mesir yang terkenal adalah piramida dan kuil yang erat kaitannya dengan kehidupan keagamaan.
Piramida dibangun untuk tempat pemakaman Firaun. Arsitek terkenal pembuat piramida adalah Imhotep. Bangunan ini biasanya memiliki kamar bawah tanah, pekarangan dan kuil kecil di bagian luarnya.
Tiang-tiang dan dindingnya dihiasi dengan hiasan yang indah. Di bagian dalam terdapat lorong-lorong, lubang angin dan ruang jenazah raja. Di depan piramida terdapat spinx yaitu patung singa berkepala manusia. Fungsi spinx adalah penjaga piramida.
Piramida terbesar adalah makam raja Cheops, yang tingginya mencapai 137 meter di Gizeh. Selain Cheops, di Gizeh juga terdapat piramida Chefren dan Menkaure. Di Sakarah terdapat piramida firaun Joser. Selain piramida apakah ada tempat pemakaman yang lain di Mesir? Berdasarkan penggalian di daerah El Badari ditemukan pemakaman yang disebut Hockerbestattung (Hocker artinya jongkok dan bestattung artinya pemakaman) karena orang yang meninggal dimasukkan dengan cara didudukkan menjongkok. Ada pula pemakaman yang disebut mastaba untuk golongan bangsawan.
Bangunan kedua adalah kuil yang berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Kuil terbesar dan terindah adalah Kuil Karnak untuk pemujaan Dewa Amon Ra.
Kuil Karnak panjangnya ±433 m (1300 kaki), tiang-tiangnya setinggi 23,5 m dengan diameter ±6,6 m (20 kaki). Tembok, tiang dan pintu gerbang dipenuhi dengan lukisan dan tulisan yang menceritakan pemerintahan raja.


Peradaban Minoa (PAKU KRETA)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Interior istana Knossos, sisa-sisa peradaban Minoa.

Peradaban Minoa adalah sebuah peradaban di Kreta, sebuah pulau dekat daratan Yunani. Peradaban ini dimulai pada Zaman Perunggu antara tahun 3000 dan 2700 SM, dan berlangsung sampai 1450 SM. Peradaban ini ditemukan kembali pada awal abad ke-20 oleh seorang arkeolog Inggris Sir Arthur Evans. Peradaban ini disebut sebagai awal mata rantai peradaban Eropa. "Pulau Kreta relah dihuni manusia sejak 7000 SM, pada zaman neolitikum. Akan tetapi baru menjelang 5000 SM bukti awal pertanian mulai muncul, hal ini menandai bermulanya peradaban ini.
Peradaban Minoa terkenal dengan perdagangan lautnya dan kota-kotanya yang teratur. Orang-orang Minoa memiliki sistem pertanian yang mengutamakan zaitun dan anggur. Agama mereka lebih banyak memuja dewi. Peradaban Minoa digantikan oleh Peradaban Mikenai.

Tinjauan

Tidak diketahui dengan nama apa bangsa Minoa menyebut diri mereka sendiri. Istilah "Minoa" pertama kali diajukan oleh Arthur Evans berdasarkan tokoh mitos Raja Minos. Minos dikaitkan dengan Mitologi Yunani dengan labirin, yang diidentifikasi oleh Evans dengan suatu situs di Knossos. Seringkali dinyatakan bahwa sebuah nama tempat yang disebut oleh bangsa Mesir kuno dengan "Keftiu" (*Káftiu kftiw) dan oleh bangsa Semit "Kaftor" atau "Caphtor" dan "Kaptara" dalam arsip Mari, merujuk pada pulau Kreta. "Dalam beberapa hal beberapa pengetahuan mengenai Caphtor/Keftiu hanya bisa dikaitkan dengan Kreta," Dalam kisah Odiseus, yang disusun berabad-abad setelah kehancuran peradaban Minoa, Homer menyebut nama suku bangsa penghuni pulau Kreta dengan Eteokreta ("Kreta sejati"); kemungkinan mereka adalah keturunan bangsa Minoa.
Istana Minoa (Anaktora) adalah peninggalan bangunan paling terkenal yang telah digali dan diteliti di pulau Kreta. Bangunan monumental ini berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan berdasarkan bukti ditemukannya banyak arsip oleh arkeolog. Istana ini bertingkat dengan tangga di luar dan di dalam kompleks bangunan, sumur, tiang, gudang, dan halaman.
Bangsa Minoa bukanlah bangsa Indo-Eropa; mereka berkerabat dengan penduduk Pra-Yunani di daratan Yunani dan Anatolia barat yang disebut bangsa Pelasgia.

Kronologi dan sejarah

Daripada menghubungkan kurun peradaban Minoa dengan menggunakan kalender absolut, para ahli arkeologi menggunakan dua sistem kronologi relatif. Sistem pertama yang diciptakan oleh Evans dan direka oleh arkeolog penerusnya, berdasarkan kepada gaya tembikar. Cara ini membagi periode peradaban Minoa ke dalam tiga kurun utama — Minoa Awal, Minoa Pertengahan, dan Minoa Akhir. Era ini kemudan dibagi lebih lanjut menjadi subbagian Minoa Awal I, II, III. Sistem penanggalan lainnya diajukan oleh Arkeolog Yunani Nicolas Platon, berdasarkan kepada arsitektur perkembangan kompleks bangunan yang disebut sebagai "istana" di Knossos, Phaistos, Malia, dan Kato Zakros. Sistem ini membagi periode Minoa dalam kurun Praistana, Protoistana, Neoistana, dan Pascaistana. Hubungan antar sistem ini dijelaskan melalui tabel berikut, dengan perkiraan penanggalan kalender berdasarkan Warren dan Hankey (1989).
Letusan Thera muncul sekitar tahap kedewasaan peradaban Minoa Akhir. Penanggalan mengenai kapan terjadinya letusan gunung berapi ini sangat kontroversial. Penanggalan radiokarbon mengungkapkan kurun waktu abad ke-17 SM. penanggalan radiokarbon itu, tetapi bertentangan dengan perkiraan arkeologi yang menyelaraskan letusan ini dengan kronologi Mesir konvensional, dan mendapatkan penanggalan sekitar 1525-1500 SM. Meletus gunung berapi Thera ini dianggap sebagai peristiwa bencana alam hebat yang menyebabkan keruntuhan peradaban Minoa.

Sejarah

  Kronologi Minoa
3650-3000 SM
Minoa Awal I
Praistana











2900-2300 SM
Minoa Awal II











2300-2160 SM
Minoa Awal III











2160-1900 SM
Minoa Pertengahan IA











1900-1800 SM
Minoa Pertengahan IB
Protoistana
(Periode Istana Lama)











1800-1700 SM
Minoa Pertengahan II











1700-1640 SM
Minoa Pertengahan IIIA
Neoistana
(Periode Istana Baru)











1640-1600 SM
Minoa Pertengahan IIIB











1600-1480 SM
Minoa Akhir IA











1480-1425 SM
Minoa Akhir IB











1425-1390 SM
Minoa Akhir II
Pascaistana
(di Knossos, Periode Istana Akhir)











1390-1370 SM
Minoa Akhir IIIA1











1370-1340 SM
Minoa Akhir IIIA2











1340-1190 SM
Minoa Akhir IIIB











1190-1170 SM
Minoa Akhir IIIC











1100 SM
Subminoa












Bukti paling awal dari adanya permukiman manusia di pulau Kreta adalah masyarakat bertani prakeramik neolitik yang meninggalkan sisa-sia peradaban yang berasal dari kurun 7000 SM. Studi perbandingan antara DNA haplogroup dari penduduk pria Kreta modern menunjukkan bahwa kaum lelakinya berasal dari Anatolia atau dari Levant, yang merupakan leluhur yang sama dengan orang Yunani. Populasi neolitik ini menghuni desa-desa terbuka. Kawasan pesisir tepi pantai dihuni nelayan yang tinggal dalam gubuknya, sementara dataran Mesara yang subur dimanfaatkan untuk pertanian.
Zaman perunggu dimulai di pulau Kreta sekitar tahun 2700 SM. Pada kurun akhir milenium ke-3 SM, beberapa permukiman di pulau tumbuh menjadi pusat perdagangan dan kerajinan tangan. Hal ini memungkinkan kelompok kelas atas untuk terus menerapkan kepemimpinan dan aktivitas untuk melebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka. Sangat mungkin sistem hirarki penguasa asli dari elite lokal tergantikan oleh struktur kekuasaan monarki - sebuah prasyarat untuk menciptakan istana agung. FDari zaman perunggu awal (3500 SM sampai 2600 SM), peradaban Minoa di Kreta menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh menjadi peradaban yang besar.
Pada akhir kurun Minoa Pertengahan II (1700 SM) terjadi gangguan hebat di Kreta, mungkin disebabkan oleh gempa bumi besar, atau serbuan dari Anatolia. Istana-istana di Knossos, Phaistos, Malia, dan Kato Zakros dihancurkan. Akan tetapi dengan dimulainya periode Neoistana, jumlah penduduk bertumbuh kembali, istana dibangun kembali dengan ukuran yang lebih besar, beberapa permukiman baru dibangun di seluruh pulau. Periode ini (abad ke-17 dan ke-16 SM, Minoa Pertengahan III / Istana Baru) merupakan puncak peradaban Minoa. Akan tetapi terjadi lagi bencana alam lain sekitar tahun 1600 SM, sangat mungkin letusan gunung berapi Thera. Bencana alam ini tidak menyurutkan bangsa Minoa, mereka membangun kembali istana, bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Pengaruh peradaban Minoa di luar Kreta nampak jelas dari ditemukannya benda seni kerajinan Minoa yang berharga di daratan Yunani. Nampaknya keluarga penguasa peradaban Mikenai menjalin hubungan perdagangan dengan Minoa. Setelah 1700 SM, kebudayaan material Yunani mulai berkembang dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi berkat engaruh Minoa. Hubungan antara Mesir Kuno dan Krea sangat penting. Keramik Minoa ditemukan di kota-kota Mesir kuno, dan orang-orang Minoa mengimpor beberapa komoditas dari Mesir, terutama papirus, selain itu mencontoh gagasan arsitektur dan artistik kesenian Mesir Kuno. Hieroglif Mesir dijadikan sebagai acuan aksara piktograf Minoa, yang darinya berkembang sistem tulisan Linear A dan Linear B yang terkenal.
Sekitar 1450 SM, kebudayaan Minoa mengalami titik balik akibat bencana alam, kemungkinan besar gempa bumi. Letusan Thera terjadi kembali dan rangkaian bencana alam ini dikaitkan dengan keruntuhan peradaban ini, meskipun demikian penentuan tanggal terjadinya masih merupakan bahasan yang kontroversial. Beberapa istana penting di Mallia, Tylissos, Phaistos, Hagia Triade serta permukiman di Knossos musnah. Istana di Knossos nampaknya tetap utuh dan bertahan sehingga mampu melebarkan pengaruhnya ke sebagian besar Kreta, hingga akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Mikenai dari daratan Yunani.
Istana Minoa ditempati oleh bangsa Mikenai sekitar 1420 SM (1375 SM menurut sumber lain), mereka kemudian menerapkan sistem penulisan Minoa Linear A yang digunakan untuk bahasa Mikenai, sebuah bentuk dari bahasa Yunani Kuno, yang ditulis dengan sistem Linear B. Arsip pertama tulisan macam ini ditemukan di bangunan periode Minoa Akhir II "Ruangan Tablet Kereta Kuda Perang". Bangsa Mikenai tampaknya lebih tertarik untuk menerapkan budaya, agama, dan ilmu pengetahuan Minoa daripada menghancurkannya, dan mereka meneruskan sistem birokrasi dan ekonomi peninggalan Minoa.
Pada periode Minoa Akhir IIIA:1, Amenhotep III di Kom el-Hatan menuliskan tentang k-f-t-w (Kaftor) sebagai salah satu "Tanah suci di utara Asia". Ia juga menyinggung beberapa nama kota di Kreta seperti Ἀμνισός (Amnisos), Φαιστός (Phaistos), Κυδωνία (Kydonia), dan Kνωσσός (Knossos) serta beberapa toponim yang diduga merujuk kepada Cyclades atau daratan Yunani. Jika nama-nama Mesir ini tepat, maka Firaun ini tidak menganggap Knossos Minoa Akhir III lebih dari kawasan lain disekitarnya.
Setelah sekitar satu abad pemulihan sebagian, kebanyakan kota Kreta mula mundur pada abad ke-13 SM (Minoa Akhir IIIB). Arsip terakhir Linaer A berangka tahun sekitar periode Minoa Akhir IIIA
Knossos tetap menjadi pusat administrasi hingga 1200 SM; dan yang menjadi situs terakhir Minoa adalah situs pertahanan di pegunungan bernama situs Karfi, situs pengungsian yang menujukan sisa peradaban Minoa menjelang Zaman Besi.

Geografi

 Peta peradaban Minoa di pulau Kreta
Kreta adalah pulau berpegunungan dengan pelabuhan alami. Terdapat tanda-tanda bekas kerusakan akibat gempa bumi di banyak situs Minoa, serta tanda-tanda yang jelas adanya pengangkatan atau amblesnya situs pesisir akibat proses tektonik di pantai-pantainya.
Homer mencatat sebuah kisah tradisional yang menyebutkan bahwa Kreta memiliki 90 kota. Berdasarkan peninggalan kompleks bangunan istana, setidaknya pulau ini terbagi atas sedikitnya delapan satuan politik pada saat puncak kejayaan peradaban Minoa. Bagian utara diperintah oleh Knossos, sedangkan bagian selatan diperintah oleh Phaistos, bagian timur agak ketengah dikuasai Malia, dan ujung timur diperintah oleh Kato Zakros sedangkan bagian barat dikuasai oleh Chania. Istana-istana kecil ditemukan di tempat-tempat lainnya.
Beberapa situs arkeologi utama Minoa, antara lain:
  • Istana
    • Knossos - istana yang terbesar dan situs zaman perunggu penting di Kreta; dibeli untuk penggalian arkeologi oleh Evans pada 16 Maret 1900.
    • Phaistos - terbesar kedua bangunan istana di pulau, digali oleh universitas dari Italia segera setelah penggalian Knossopalatial building on the island, excavated by the Italian school shortly after Knossos
    • Malia - pusat penggalian Perancis, pusat istana yang menunjukkan perkembangan istana dari periode protoistana.
    • Kato Zakros - situs istana yang digali arkeolog Yunani di bagian paling timur dari pulau ini. Situs ini disebut sebagai "Zakro" dalam literatur arkeologi.
    • Galatas - situs istana yang paling akhir ditemukan
  • Agia Triada - pusat pemerintahan dekat Phaistos
  • Gournia - situs kota yang digali pada perempat awal abad ke-20 oleh universitas dari Amerika Serikat.
  • Pyrgos - situs Minoa awal di selatan pulau.
  • Vasiliki - situs Minoa awal di bagian timur pulau yang memberikan namanya kepada jenis keramiknya unik.
  • Fournu Korfi - situs di selatan pulau.
  • Pseira - kota dengan pusat ritual
  • Mount Juktas - tempat suci di puncak pegunungan yang dikaitkan dengan istana Knossos.
  • Arkalochori - tempat ditemukannya Kapak Arkalochori yang terkenal.
  • Karfi - situs pengungsian dari periode Minoa akhir, salah satu situs Minoa terakhir.
  • Akrotiri - permukiman di pulau Santorini (Thera), dekat lokasi letusan gunung berapi Thera
  • Zominthos - kota pegunungan di kaki gunung lereng utara Gunung Ida

Minoa di luar Kreta

Uang Tembaga Minoa
Bangsa Minoa adalah bangsa pedagang, kontak budaya mereka jauh lebih luas dari pulau Kreta — mencapai Kerajaan Lama Mesir, hingga kawasan penghasil tembaga di Siprus, Kanaan, dan pantai Levant, hingga Anatolia. Pada akhir 2009, artifak dan fresko bergaya Minoa ditemukan dalam penggalian arkeologi di Kanaan di situs istana Tel Kabri, Israel, yang mendasari dugaan bahwa Minoa memiliki pengaruh kuat di negara-kota Kanaan. Ini adalah satu-satunya peninggalan Minoa yang ditemukan di Israel.
Teknik dan gaya keramik Minoa juga memberikan model dari pengaruh yang berubah-ubah atas periode Helladik di Yunani. Bersama beberapa contoh koloni-koloni Minoa di Thera, koloni lainnya dapat ditemukan di pulau Kastri dan Cythera, pulau-pulau yang terletak dekat dengan daratan Yunani ada di bawah pengaruh Minoa pada milenium ketiga dan tetap dibawah pengaruh Minoa hingga seribu tahun, hingga penaklukan oleh Mikenai pada abad ke-13 SM. Sebutan "koloni" atau "talasokrasi" dewasa ini dikritik. Strata sosial Minoa telah mengubah budaya benua Zaman Perunggu di permukiman Minoa di luar Kreta. Kota Cyclades berada di dalam orbit budaya Minoa, dan pulau yang lebih dekat pulau Karpathos, Saros dan Kasos, juga terdapat koloni Minoa, atau permukiman pedagang Minoa, yang berasal dari Zaman Perunggu pertengahan (Minoa Pertengahan I - II); kebanyakan ditinggalkan penghuninya pada periode Minoa Akhir I, akan tetapi koloni Minoa di Karpathos pulih dan bertahan dengah budaya Minoanya hingga akhir zaman perunggu. Tempat lain yang diduga sebagai koloni Minoa, seperti yang diajukan oleh Adolf Furtwängler adalah Aegina, akan tetapi gagasan ini kemudian ditolak. Ditemukan juga koloni Minoa di Ialysos di pulau Rhodes.
Pengaruh budaya Minoa menunjukkan orbit yang tidak hanya mencapai Cyclades (proses yang disebut Minoanisasi), tapi juga tempat lain seperti Mesir dan Siprus. Lukisan dari abad ke-15 SM, di Thebes Mesir, menggambarkan figur manusia yang menggambarkan orang Minoa membawa hadiah-hadiah. Tulisan yang terukir menyebutkan mereka datang dari Keftiu, atau "pulau di tengah laut", dan mungkin menggambarkan para pedagang yang membawa hadiah persembahan, atau pejabat dari Kreta.
Beberapa tempat di Kreta menunjukkan "wawasan keluar" bangsa ini. Situs Istana Baru di Kato Zakros, misalnya terletak hanya 100 meter dari tepi pantai, terletak di sebuah teluk. Ditemukannya banyak sanggar kerajinan dan kekayaan matrialnya menunjukkan bahwa kawasan ini potensial sebagai 'entrepôt' untuk perdagangan impor dan ekspor. Aktivitas ini diperjelas dengan gambaran artistik mengenai lautan, termasuk fresko 'Flotilla' dari kamar 5, di rumah barat Akrotiri.

Masyarakat dan budaya

Bangsa Minoa adalah bangsa pedagang yang terlibat perdagangan internasional. Budaya mereka, sejak tahun 1700 SM dan seterusnya, menunjukkan suatu budaya yang terorganisasi dengan baik.
Fresko menampilkan tiga orang perempuan yang kemungkinan adalah Ratu
 Benda-benda yang dihasilkan bangsa Minoa menunjukkan bahwa telah terjalin hubungan dengan daratan Yunani (terutama Mikenai) serta Siprus, Suriah, Anatolia, Mesir, Mesopotamia, dan jauh ke barat hingga pantai Spanyol.
Lelaki Minoa mengenakan kain cawat dan kilt (semacam rok). Perempuannya mengenakan jubah dengan lengan baju yang pendek serta rok berlapis yang mengembang. Kerah baju mereka sangat rendah sehingga menampilkan payudara yang terbuka. Perempuannya juga ada yang mengenakan baju ketat tanpa tali kutang (strapless). Pola pakaiannya menekankan pada pola geometrik simetris.
Agama bangsa Minoa lebih memuja dewi dengan pendeta perempuan sebagai penghubungnya. Patung pendeta perempuan dalam budaya Minoa dan lukisan dinding menampilkan lelaki dan perempuan berpartisipasi dalam semacam olahraga melompati banteng, membuat para ahli menyimpulkan bahwa lelaki dan perempuan memiliki status sosial yang setara dalam sistem sosial Minoa. Diduga sistem warisnya adalah matrilineal. Fresko (lukisan dinding) banyak menampilkan berbagai macam orang, jender (jenis kelamin) dibedakan berdasarkan warna kulit: laki-laki berwarna kulit coklat kemerahan, sementara perempuan berkulit putih.

Bahasa dan tulisan

Lambang yang tidak diketahui maknanya pada Cakram Phaistos
Pengetahuan mengenai bahasa lisan dan tulisan bangsa Minoa sangat sedikit, karena terlalu sedikitnya catatan yang ditemukan. Sekitar tahun 3000 SM lempeng tablet tanah liat ditemukan dengan berbagai huruf Kreta. Tablet lempeng tanah liat sepertinya digunakan sejak kurun 3000 SM atau lebih awal. Dua mangkuk tanah liat dari Knossos meninggalkan sisa tinta; wadah tinta yang serupa dengan wadah tinta berbentuk binatang dari Mesopotamia, juga telah ditemukan.
Kadang bahasa Minoa disebut sebagai bahasa Eteokreta, akan tetapi gagasan ini menimbulkan kerancuan antara bahasa tertulis di aksara Linear A andan bahasa yang tertulis di alfabet Euboea pada zaman kegelapan Yunani. Meskipun bahasa Etrokreta dipercaya sebagai turunan dari bahasa Minoa, tidak terdapat cukup bukti untuk mendukung pendapat ini.
Tulisan paling awal yang ditemukan di Kreta adalah sistem hiroglif Kreta. Tidak diketahui apakah bahasanya adalah bahasa Minoa, dan arkeolog masih memperdebatkan asal mulanya. Hiroglif ini sering dikaitkan dengan Mesir, akan tetapi juga berkerabat dengan beberapa tulisan dari kawasan Mesopotamia. Huruf hiroglif ini digunakan pada Minoa Pertengahan I yang digunakan secara paralel dengan aksara Linear A dari abad ke-18 SM (Minoa Pertengahan II) dan hilang pada abad ke-18 (Minoa Pertengahan III).
Pada periode Mikenai, aksara Linear A diganti dengan aksara Linear B, mencatat bentuk paling arkaik dari bahasa Yunani. Aksara Linear B telah berhasil dipecahkan maknanya oleh Michael Ventris pada 1952, akan tetapi hurufnya yang lebih tua tetap menjadi misteri. Kebanyakan tablet tanah liat ini ditulis dengan aksara Linear B, nampaknya berupa catatan pembukuan persediaan dan barang dagangan. beberapa tulisan terkait benda keagamaan yang terkait ritual pemujaan. karena kebanyakan tablet ini merupakan catatan ekonomi yang ringkas dan bukan tulisan yang berkisah, penerjemahan bahasa Minoa tetap merupakan tantangan.
Kecuali jika bahasa Eteokreta adalah benar-benar kelanjutan bahasa Minoa, mungkin pada periode kegelapan Yunani, masa keruntuhan sosial dan ekonomi, bahasa Minoa punah.

Kesenian

Lukisan Dinding Lompat Banteng
Lukisan dinding "lompat banteng", ditemukan di situs Knossos, menunjukkan bahwa terdapat suatu olahraga atau ritual keagamaan melompati seekor banteng, figur manusia berkulit gelap adalah lelaki, sedangkan yang berkulit terang adalah perempuan.
Koleksi seni Minoa dipamerkan di museum Heraklion, dekat Knossos di pantai utara pulau Kreta. Karena kayu dan tekstil telah lama musnah, benda peninggalan yang tersisa dari peradaban Minoa adalah tembikar, arsitektur istana dengan dinding yang dilukisi fresko, patung batu, serta batuan Minoa yang diukir halus.

Tembikar

Pada periode awal Minoa, keramik ditandai dengan pola garis linear berpola spiral, segitiga, kurva, silang, tulang ikan, dan lain-lain. Pada periode Minoa pertengahan, desain naturalistik mulai muncul, seperti gambar ikan, cumi-cumi, burung, dan bunga lili. Pada periode akhir Minoa, motif flora dan fauna paling banyak ditemukan dan semakin kaya jenis gambarnya. Gaya kesenian istana Knossos menampilkan karakteristik geometrik yang kuat dan penyederhanaan gaya naturalistik dan bentuk serta lukisan dengan pewarnaan monokrom. Patut dicatat bahwa terdapat kemiripan antara gaya kesenian Minoa akhir dengan seni Mikaneai. Fresko merupakan bentuk kesenian paling lazim pada periode akhir kebudayaan Minoa.

 Guci air bercorong, 2100-1700 SM


 Vas dengan motif gurita yang khas, 1500 SM (Periode Istana Lama)



Vas, Gaya bahari, 1500 SM (Periode Istana Baru)

   
Wadah air atau anggur berukuran kecil, 1390-1070 SM (Periode Istana Akhir)

Agama

Dewi ular" atau pendeta wanita tengah melakukan ritual
Minoa lebih memuja dewi, yang seringkali digambarkan sebagai "agama matriarki". Meskipun ditemukan dewa pria, penggambaran dewi-dewi Minoa lebih banyak daripada apa yang dianggap sebagai dewa Minoa. Sementara gambaran perempuan diduga menggambarkan pemuja dan pendeta wanita tengah melakukan upacara keagamaan, serta dihadapkan dengan dewi sendiri. Diantaranya Dewi ibu dari ritus kesuburan, puan yang menguasai binatang, pelindung negara-kota, rumah tangga, panen, dunia bawah, dan lain-lain. Beberapa pihak menganggap ini hanyalah berbagai aspek dari seorang Dewi agung. Dewi-dewi ini seringkali dilambangkan dengan simbol ular, burung, kuncup bunga, dan bentuk-bentuk hewan aneh di atas kepala.
Festival perayaan yang penting menampilkan keterampilan atletik tarian Lompat Banteng Minoa, ditampilkan di banyak fresko di Knossos dan juga diukirkan pada segel miniatur.


Peloncat banteng dari Knossos (Museum Heraklion)

Peloncat banteng dari Knossos (Museum Heraklion)
Altar Minoa yang dimahkotai tanduk, sejak masa Evans disebut sebagai "Tanduk kesucian" digambarkan dalam berbagai perwujudan segel, dan ditemukan hingga Siprus. Lambang-lambang suci Minoa antara lain Banteng dan tanduk suci, labrys (kapak bermata ganda), pilar, ular, cakram matahari, dan pohon. Akan tetapi penafsiran yang berbeda mengajukan bahwa lambang ini bukan menunjukkan lambang keagamaan, tetapi lambang budidaya lebah madu. Bukti yang menunjukkan bahwa bangsa Minoa melakukan pengorbanan manusia ditemukan di tiga situs: (1) Anemospilia, dalam bangunan Minoa Pertengahan II dekat gunung Juktas, dianggap sebagai bangunan kuil, (2) sebuah kompleks tempat suci Minoa Awal II di Fournou Korifi di selatan Kreta tengah, dan (3) Knossos, di bangunan Minoa Akhir IB yang disebut "Rumah Utara".
Seperti kebanyakan arkeologi zaman perunggu, bekal kubur memberi banyak bukti arkeologi kehidupan pada masa itu. Pada akhir periode Istana Kedua, praktik pemakaman didominasi oleh dua bentuk utama: 'Makam melingkar', atau Tholoi, (terletak di Kreta selatan) dan 'rumah makam', (terletak di Kreta utara dan timur). Tentu saja ada banyak pola dan tren yang berbeda dalam praktik pemakaman Minoa yang tidak dapat dijabarkan melalui klasifikasi sederhana. Secara garis besar, penguburan adalah cara pemakaman yang paling lazim pada zaman perunggu di Kreta. Pada periode ini terdapat tren pemakaman perseorangan, dengan beberapa pengecualian. Termasuk kompleks Chrysolakkos yang banyak diperdebatkan, Mallia, yang terdiri atas sejumlah bangunan yang membentuk sebuah kompleks. Bangunan ini terletak di tengah kawasan pemakaman Mallia, dan mungkin menjadi pusat ritual pemakaman, atau consisting 'crypt' dari keluarga penting.

Teori musnahnya peradaban Minoa

Letusan gunung berapi di pulau Thera (kini Santorini terletak sekitar 100 km dari Kreta) terjadi pada periode Minoa Akhir IA. Letusan ini merupakan salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah peradaban manusia, melontarkan sekitar 60 km3 material dan terukur skala 6 pada Volcanic Explosivity Index. Letusan ini meluluh-lantakkan permukiman Minoa didekatnya di Akrotiri di pulau Santorini, yang terkubur batu apung. Diduga letusan hebat yang berdampak kepada runtuhnya peradaban Minoa ini merupakan dasar peristiwa yang mengilhami mitos Atlantis, legenda yang sampai ke Yunani melalui perantara catatan Mesir.
Lebih lanjut dipercaya bahwa letusan ini berdampak parah bagi kebudayaan Minoa, meskipun sejauh mana dampaknya masih diperdebatkan. Teori mengajukan bahwa guguran hujan abu dari Thera telah mematikan tanaman di separuh sebelah timur pulau Kreta, menyebabkan bencana kelaparan yang menimpa penduduk setempat. Akan tetapi setelah penelitian lebih lanjut, teori kurang dapat dipercaya karena lapisan endapan debu vulkanik di Kreata tak lebih dari 5 milimetre (0.20 in). Penelitian mutakhir menunjukan, berdasarkan bukti arkeologi di Kreta, bahwa tsunami besar yang ditimbulkan oleh letusan gunung Thera, menyapu kawasan pesisir Kreta dan menghancurkan permukiman di tepi pantai. Periode Minoa Akhir IIIA ditandai dengan kemewahannya (misalnya makam mewah dan keseniannya) serta tersebarluasnya gaya keramik Knossos. Akan tetapi pada periode Minoa Akhir IIIB peran penting Knossos sebagai pusat regional nampaknya mulai merosot.
Temuan Minoa yang signifikan di atas lapisan abu vulkanik Thera di atas Minoa Akhir I, menunjukkan bahwa letusan Thera tidak serta merta meruntuhkan peradaban Minoa. Karena bangsa Minoa adalah bangsa pelaut yang bergantung pada armada kapal dagangnya, letusan Thera menyebabkan kesulitan bagi Minoa. Apakah dampak ini cukup untuk memicu keruntuhan peradaban ini, masih tetap diperdebatkan. Penaklukan bangsa Mikenai atas bangsa Minoa terjadi pada kurun Minoa Akhir II. Bangsa Mikena adalah peradaban berlandaskan militer. Tak lama setelah letusan gunung berapi, arkeolog menduga bahwa letusan ini menimbulkan krisis atas peradaban Minoa yang memungkinkan bangsa Mikenai menaklukkan mereka dengan mudah.
Sinclair Hood menulis bahwa kehancuran minoa sangat mungkin akibat serbuan bangsa asing dari luar. Meskipun perkembangan peradaban ini terhenti akibat bencana alam letusan gunung berapi Thera, pukulan paling berat datang dari penakluk asing. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kerusakan situs si pulau ini paling banyak karena kebakaran. Hood mencatat bahwa istana Knossos paling utuh tersisa dan paling sedikit kerusakannya dibandingkan situs lain di pulau Kreta. Karena bencana alam tidak memilih-nilih sasaran, maka sangat mungkin kehancuran peradaban Minoa adalah akibat serbuan pihak asing, karena penakluk asing ini kemungkinan menggunakan istana Knossos. Sekitar 1420 SM, pulau Thera ditaklukkan oleh Mycenaean. Setelah ini, sebagian besar kota Crete dan kerajaannya mengalami kemunduran. Tapi Knossos tetap berlanjut hingga 1200 SM. Ada bukti bahwa perdagangan runtuh, dan penduduk kota-kota di peradaban kuno Minoan mati karena kelaparan. Pasokan gandum Minoans menipis yang diyakini berasal dari peternakan di tepi Laut Hitam. Banyak sejarawan percaya bahwa pusat perdagangan kuno saat itu berada dalam masa kritis dari perdagangan yang tidak ekonomis, makanan dan kebutuhan pokok yang bernilai tinggi dan dan dianggap barang mewah. Salah satu teori runtuhnya peradaban kuno Minoan menyatakan adanya peningkatan penggunaan alat-alat besi oleh pedagang Minoan.
Beberapa penulis lain menyebutkan bahwa peradaban Minoa telah berkembang melebihi batas daya dukung lingkungannya. Misalnya bukti arkeologi di Knossos menunjukkan telah terjadinya penebangan dan kerusakan ekosistem hutan.



Silahkan Baca Juga Materi Berikut :

No comments:

Post a Comment