Thursday, November 18, 2021

PROSES PERSALINAN

 

.  Proses Persalinan

Persalinan dibagi dalam empat kala yaitu :

a.       Kala 1 (pembukaan)

In partu (partu mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah, servik mulai membuka dan mendatar, darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler, kanalis servikalis.

Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase :

1)      Fase Laten :

a)      Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.

b)      Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm

c)      Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam

2)      Fase Aktif :

a)      Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap akurat/ memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih)

b)      Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara)

b.      Kala 2 (Pengeluaran janin)

c.       Kala 3 (pengeluaran plasenta)

d.      Kala 4

------ bahaya perdarahan post partum. Dengan menjaga kondisi kontraksi dan retraksi uterus yang kuat dan terus menerus. Tugas uterus ini dapat dibantu dengan obat-obat oksitosin.

8. Langkah-Langkah Persalinan

1)        Mengamati tanda dan gejala kala II

2)        Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set.

3)        Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.

4)        Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribdi yang bersih.

5)        Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.

6)        Menghisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik).

7)        Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan kebelakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (Meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar didalam larutan dekontaminasi, langkah #9).

8)        Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.

9)        Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.

10)    Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti diatas)

11)    Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180 kali/menit).

12)    Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan kedaan janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.

13)    Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran. (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

14)    Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran :

15)    Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.

16)    Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.

17)    Membuka partus set.

18)    Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

19)    Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.

20)    Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih.

21)    Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi;

22)    Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. Lahir bahu.

23)    Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya kearah bawah dan kearah keluar hingga bahu interior muncul dibawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik kearah atas dan kearah luar untuk melahirkan bahu posterior.

24)    Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada dibagian bawah kearah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ketangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyanggah tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.

25)    Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tanngan yang ada di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk...................

26)    ................

27)    ..............

28)    .............

29)    ...............

30)    ..............

31)    ..............

32)    ............

33)    ...........

34)    ............

35)    Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, menghentikan pegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.

36)    Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran smbil menarik tali pusat kearah bawah dan kemudian kearah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.

37)    Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan kedua tangan dan dengan hati-hati memutar palsenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.

38)    Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).

39)    Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta didalam kantung plastik atau tempat khusus.

40)    Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

41)    ....................

42)    ......

43)    ..........

44)    ......

45)    ........

46)    ........

47)    ........

48)    ..........

49)    .............

50)    ...........

51)    ........

52)    Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 mmenit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.

53)    Menempatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas eralatan setelah dekontaminasi.

54)    Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat sampah yang sesuai.

55)    Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tingga. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

56)    Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.

57)    Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.

58)    Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian dalam keluar dan merendamnya kedalam larutan 0,5% selama 10 menit.

59)    Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

60)    Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).

No comments:

Post a Comment