Wednesday, June 19, 2019

Proposal Skripsi Tentang Kurang Energi Kronis Pada Ibu Hamil



 Download File Dalam DOC Ms.World
Download Bab II 


BAB I 
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Status gizi ibu hamil merupakan salah satu indikator dalam mengukur status gizi masyarakat (Moehji, 2013). Jika masukan zat gizi untuk ibu hamil dari makanan tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi defisiensi zat gizi. Kekurangan zat gizi dan rendahnya derajat kesehatan ibu hamil masih sangat rawan, hal ini ditandai masih tingginya angka kematian ibu (AKI) yang disebabkan oleh perdarahan karena anemia gizi dan kekurangan energi kronik (KEK) selama masa kehamilan.
Kualitas bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan ibu sebelum dan selama hamil. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi, maka janin tersebut akan mempunyai konsekuensi yang kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya (Misaroh & Praverawati,2016). Kekurangan zat gizi dan rendahnya derajat kesehatan ibu hamil masih sangat rawan, hal ini ditandai masih tingginya angka kematian ibu (AKI) yang disebabkan oleh perdarahan karena anemia gizi dan KEK selama masa kehamilan. World Health Organization (WHO, 2015) angka Kematian Ibu (AKI) 99% terjadi di negara berkembang, pada tahun 2013 adalah 230 per 100.000 kelahiran hidup dibanding 16 per 100.000 kelahiran hidup di negara - negara maju. Menurut WHO pada 2013, tercatat angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih sekitar 190 per 100.000 kelahiran. Indonesia masuk ke dalam jajaran negara dengan AKI tertinggi, yaitu menduduki peringkat ke-3 dalam negara anggota ASEAN. Angka kematian ibu berdasarkan data survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 sebesar 359/100.000 kelahiran hidup (BKKBN, 2013) dan pada tahun 2015 berdasarkan data Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) sebesar 305/100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian terbesar adalah penyebab lain sebesar 40,8% dan perdarahan sebesar 30,3% (Kemenkes, 2016).
Kekurangan Energi kronik (KEK) merupakan kondisi yang disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi antara energi dan protein, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi (Kemenkes RI, 2016). Prevalensi KEK dinegara-negara berkembang seperti Banglades, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Srilanka danThailand adalah 15-47% yaitu dengan BMI < 18,5. Adapun negara yang mengalami prevalensi yang tertinggi adalah Banglades yaitu 47%, sedangkan Indonesia menjadi urutan keempat terbesar setelah India dengan prevalensi 35,5% dan yang paling rendah adalah Thailand dengan prevalensi 15-25% (Sigit, 2015). Prevalensi KEK pada wanita hamil di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 sebesar 24,2% dan di Sulawesi Tenggara sebesar 22,6%  (Kemenkes RI, 2013). Kemudian berdasarkan data riskesdas tahun 2018, prevalensi KEK pada wanita hamil di Indonesia sebesar 17,3% dan di Sulawesi Tenggara prevalensi KEK mencapai 28%.  Di Kabupaten KSolaka, prevalensi bumil KEK berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka pada tahun 2017  mencapai 6,81% dan pada tahun 2018 prevalensi bumil KEK mencapai 7,26%.
Hasil survei di puskesmas Tosiba, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka diperoleh data tentang kejadian KEK pada ibu hamil, yaitu kejadian KEK pada tahun 2017 sebanyak 43 kasus (8,65%) dari 497 ibu hamil, tahun 2018 sebanyak 35 kasus (7,12%) dari 491 ibu hamil. Data tersebut menunjukkan masih perlunya penanganan terhadap ibu hamil KEK. Ibu hamil dengan KEK berisiko mengalami komplikasi baik dalam kehamilannya maupun persalinanannya sehingga perlu dilakukan perbaikan gizi pada ibu hamil.
Berdasarkan hasil survei di Puskesmas Tosiba, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka diperoleh  data tentang factor penyebab terjadinya masalah kekurangan energi kronik pada ibu hamil, yaitu umur, pola makan, dan pengetahuan. Dimana banyak diantara ibu hamil yang menikah pada umur atau usia yang masih muda. Dan pada saat masa kehamilan banyak diantara ibu hamil yang terganggu pola makannya dikarenakan nafsu makan terganggu, selalu mual ketika memakan sesuatu dan hal ini menyebabkan terganggunya status gizi dari ibu hamil yang pada akhirnya berdampak pada bayi yang dikandungnya.
Penyebab utama terjadinya KEK pada ibu hamil yaitu sejak sebelum hamil ibu sudah mengalami kekurangan energi, karena kebutuhan orang hamil lebih tinggi dari ibu yang tidak dalam keadaan hamil.  Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama hamil. Menurut Sediaoetama (2014), penyebab dari KEK dapat dibagi menjadi dua, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung terdiri dari asupan makanan atau pola konsumsi, infeksi, makanan pantangan. Penyebab tidak langsung terdiri dari hambatan utilitas zat-zat gizi, hambatan absorbsi karena penyakit infeksi atau infeksi cacing, ekonomi yang kurang, pengetahuan, pendidikan umum dan pendidikan gizi kurang, produksi pangan yang kurang mencukupi kubutuhan, kondisi hygiene yang kurang baik, jumlah anak yang terlalu banyak, usia ibu,
usia menikah, penghasilan rendah, perdagangan dan distribusi yang tidak
lancar dan tidak merata, jarak kehamilan (Sediaoetama, 2014).
KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat menyebabkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (premature), pendarahan setelah persalinan serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. KEK ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran dan bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intrapartum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bila BBLR bayi mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan anak. Untuk mencegah risiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan wanita usia subur sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm. Apabila LILA ibu sebelum hamil kurang dari angka tersebut, sebaiknya kehamilan ditunda, sehingga tidak berisiko melahirkan BBLR. Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA ibu hamil dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lebih rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak. KEK pada ibu hamil juga dapat meningkatkan risiko untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya (Almatsier 2011).
Berdasarskan uraian tersebut, sehingga penulis tertarik untuk meneliti tentang kurang energi kronis pada ibu hamil di Puskesmas Tosiba, Kecamatan Tosiba, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.
B.       Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut, bagaimanakah kurang energi kronik (KEK ) yang terjadi pada ibu hamil?
C.      Tujuan Penelitian
1.        Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian kekurang energi kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tosiba Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka Propinsi Sulawesi Tenggara.
2.        Tujuan Khusus
a.         Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil.
b.        Untuk mengetahui hubungan penyakit infeksi dengan kejadian KEK pada ibu hamil.
c.         Untuk mengetahui hubungan umur terhadap kejadian KEK pada ibu hamil.
d.        Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kejadian KEK pada ibu
hamil.
e.         Untuk mengetahui hubungan pendapatan dengan kejadian KEK pada ibu hamil.
D.      Manfaat Penelitian
1.        Manfaat Ilmiah
Penelitian dapat memberikan sumbangan teori ilmu pengetahuan serta memberikan data dasar bagi penelitian selanjutnya. Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi responden mengenai kurang energi kronik (KEK) pada ibu hamil.


2.        Manfaat Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat.
3.        Manfaat Bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pemerintah mengenai masalah kurang energi kronik (KEK) pada ibu hamil. Dengan adanya penelitian ini pemerintah tahu tindakan apa yang harus dilakukan terhadap masalah gizi yang ditemukan dalam masyarakat.

No comments:

Post a Comment