Thursday, January 28, 2021

Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Merebut Kota Makkah

 Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Merebut Kota Makkah

 

Kisah Kebijaksanaan Rasulullah Saat Pembebasan Makkah

Pembebasan Mekkah atau disebut Fathu Makkah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa yang terjadi tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah (tahun 630) menjadi salah satu kemenangan besar bagi kaum muslim.

Saat itu Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah. Kemudian menguasai Kota Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Kaum muslimin juga menghancurkan berhala yang ada di dalam dan sekitar Ka'bah. Setelah itu orang-orang Quraisy Makkah memeluk Islam secara berbondong-bondong.

Dalam peristiwa itu ada satu kisah kebijaksanaan Rasulullah yang menyentuh hati. Kedatangan beliau ke Makkah berhasil membebaskan Makkah dari kesyirikan dan kejahilan tanpa perlawanan dari kaum quraisy. Beliau SAW menunjukkan sifat kearifan dan keadilannya hingga orang-orang kafir quraish ramai-ramai memeluk Islam. Kisah ini juga diceritakan dalam sirah nabawiyah dan kitab kisah nabi dan para sahabat.

Dikisahkan, pada saat pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah SAW didampingi sahabatnya datang untuk menaklukkan kota Suci Makkah. Orang-orang musyrik dan kaum Quraisy sangat ketakutan, sehingga tidak ada satu orang pun yang berani memperlihatkan batang hidungnya.

Di antara sekian banyak orang musyrik dan kaum Quraisy yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, pemimpin kaum kafir dan bangsawan terhormat di Makkah. Ia biasa disanjung oleh rakyatnya, namun saat peristiwa itu terjadi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani keluar rumahnya.

Melihat kejadian itu, Nabi Muhammad SAW saat hendak melangkah ke Ka’bah untuk meruntuhkan berhala-berhala, Beliau berseru kepada penduduk Makkah: "Barangsiapa masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi," seru Rasulullah.

Mendengar seruan Rasulullah itu betapa bangganya Abu Sufyan mendengarnya karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang ia sudah tidak perlu lagi kehilangan muka di hadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa ia begitu dihargai.


Akibatnya seketika itu juga putra Abu Sufyan bernama Mu'awiyah masuk Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum mau menerima Islam. Mereka meminta waktu seminggu untuk berfikir dulu, sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke Agama Islam.
Ketika mendengar Abu Sufyan berkata demikian, Rasulullah pun menjawab. "Jangan seminggu!"

"Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?" tanya Abu Sufyan dengan terkejut.

"Tidak, waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakan kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agamanya orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal," kata Rasulullah.

Demikian kisah kebijakan Rasulullah dalam menyikapi suatu persoalan. Sekali pun posisinya sudah di atas dan berkuasa, beliau tetap bersikap adil dan bijaksana dalam memutuskan setiap tindakannya. Semoga kita dapat mengambil himah dan palajaran dari kisah ini.

No comments:

Post a Comment