Wednesday, April 3, 2019

Makalah Ekonomi Tentang "Kerja sama Internasional antara Indonesia dan Amerika


MAKALAH
KERJA SAMA INTERNASIONAL ANTARA
INDONESIA DAN AMERIKA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

Nama : Meydi Audina
NIS : 17.910
Kelas : XI MIPA 4
Sekolah SMA NEG. 14 MAKASSAR





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini Alhamdulillah tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul
“Kerja Sama Internasional Indonesia dengan Amerika”

Dengan adanya makalah ini, maka penulis dan teman-teman akan lebih mudah mengetahui terkait bagaimana Kerja Sama Internasional Indonesia dengan Amerika
.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin ......













DAFTAR ISI

BAB I PEMBAHASAN
1.1       Tanggal Pendirian beserta Anggotanya................................................................i
1.2       Tujuan Pendirian...................................................................................................ii
1.3       Contoh kegiatan beserta penjelasan...................................................................iii

BAB II PENUTUP
1.1       Kesimpulan
1.2       Saran

DAFTAR PUSTAKA.............................................iv











BAB I
PEMBAHASAN

Indonesia   telah   memiliki   hubungan   bilateral   dengan   Amerika   Serikat Untuk waktu yang lama. Hubungan ini kita bisa lihat pada tahun 1949. Pada tahun tersebut  Menteri  Kemakmuran  RI  Dr.  A.K.  Gani  berangkat  dalam  sebuah  misi diplomatik ke Amerika Serikat untuk mengadakan kesepakatan hubungan dagang dengan  Amerika  Serikat.  Perjalanan  tersebut  tidak  saja  merupakan salah satu tonggak bersejarah hubungan dagang  antara Indonesia dengan Amerika Serikat saja, namun pada tahun tersebut juga merupakan tahun resminya Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Walaupun Indonesia dan Amerika Serikat telah memiliki hubungan yang resmi, namun pada perjalanannya hubungan dua negara tersebut telah lama disebut tidak selamanya berjalan mulus.Seperti  lazimnya  dinamika  hubungan,  hubungan  Indonesia  dan Amerika Serikat    mengalami pasang surut. Salah satu pengalaman yang tidak menyenangkan bagi bangsa  Indonesia dalam berhubungan dengan Amerika Serikat terjadi ketika pemerintah Amerika   Serikat mengambil kebijakan mengembargo persenjataan militer Indonesia di era pemerintahan orde baru. Hal tersebut  mengakibatkan  sulitnya  akses Indonesia  pada  bidang militer.  Walaupun hubungan  politik  Indonesia –Amerika Serikat  mengalami  penurunan  ketika Amerika  Serikat  mengembargo  persenjataan militer  Indonesia,  tetapi  hubungan dagang antara Indonesia -Amerika Serikat terus mengalami peningkatan. Berbagai  kerjasama terbentuk  dalam  dekade  ini  baik  kerjasama  bilateral yang  dimana  dalam  hal  tersebut  hanya  terlibat  dua  negara  saja,  dan  kerjasama multilatreral  yang  bisa  kita  ambil  contohnya  adalah  negara  Indonesia  dengan anggota  ASEAN. Kerjasama  bilateral  inilah  yang  semakin  diperkuat  oleh  negara Indonesia  dengannegara  penyandang  nama  Super  Power  tersebut.  Kita  bisa  lihat berbagai kerjasama yang telah kita bentuk baik dalam perekonomian,pertahanan,dan   investasi.   Hal   ini   dilakukan   sudah   pasti   untuk   memenuhi   kepentingan nasional negara tersebut. Dalam kancah internasional hubungan bilateral ini lebih kondusif  sehingga  pemantapan  dalam  proses  ini  sangat  dibutuhkan  sebelum diplomasi ini terjadi. Upaya-upaya  untuk  meningkatkan  hubungan  perekonomian,perdagangan dan  investasi  dengan  Amerika  Serikat  merupakan  salah  satu  prioritas  diplomasi indonesia  dalam  rangka  mendukung  pembangunan  dan  pertumbuhan  ekonomi nasional serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kawasan   Amerika   merupakan   sebuah   kawasan   yang   potensial   dan menjanjikan  sebagai  mitra  Indonesia,  karena  didalamnya  terdapat  negara-negara yang   sudah   sangat   maju   perekonomiannya   seperti   Amerika   Serikat   yang merupakan pasar tradisional bagi produk ekspor indonesia. Sistem  perekonomian  Amerika  Serikat  adalah  sistem  pasar  bebas  dengan memberikan kebebasan bagi pihak swasta untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan ekonomi  yang  sedikit  banyak  mempengaruhi  arah  dan  kapasitas perekonomian Amerika  Serikat.  Hal  ini  didukung  dengan  relatif  terbatasnya  peraturan  dan keterlibatan  pemerintah  Amerika  Srikat,  serta  sistem  pengadilan  yang  umumnya menjungjung tinggi property right dan  mendorong adanya kontrak -kontrak bisnis.
Meski   konsumen   dan   produsen   banyak   terlibat   dalam   kegiatan   ekonomi, pemerintah Amerika Serikat mengontrol setidaknya 4 aspek, yaitu penetapan tarif dan  subsidi  untuk  melindungi  industri  dalam  negeri,  pembangunan  infrastruktur, kebijakan-kebijakan perbankan, dan investasi dalam negeri.Indonesia  menjalin  hubungan  politik  dan strategis  yang  cukup  baik  dengan Amerika  Serikat terutama  sejak  rezim  orde  baru berkuasa  di  Indonesia  yaitu sekitar  tahun 1960an.  Namun  hubungan  ekonomi  kedua  pihak  tidak  cukup berkembang  dibandingkan  dengan  hubungan ekonomi  Amerika  Serikat dengan negara  tetangga  Indonesia,  seperti  Singapura  dan Australia. Indonesia  menjalin  hubungan  politik  dan  strategis  yang  cukup  baik  dengan  Amerika . Serikat (AS) terutama sejak Rezim Orde Baru berkuasa di Indonesia yaitu paruh kedua dekade 1960an. Namun hubungan ekonomi kedua pihak tidak cukup berkembang dibandingkan dengan hubungan  ekonomi  AS  dengan  negara  tetangga  Indonesia,  seperti  Singapura  dan  Australia. Dominasi  aspek  politik  dan  strategis  dalam  hubungan kedua  negara  mengakibatkan  AS  dan Indonesia  kurang  mengembangkan  potensi-potensi  ekonomi  diantara  keduanya.  Sejak  tahun 2009 AS juga dilanda krisis ekonomi. Upaya peningkatan hubungan kedua belah pihak muncul dalam beberapa tahun terakhir karena dorongan Duta  Besar Indonesia yang baru dan upaya AS untuk  mencari  pasar  lebih  besar  dalam  rangka  pemulihan  krisis  ekonominya.  Pada  bulan November  2010  pemimpin  kedua  negara  menandatangani  the  US-Indonesia  Compherensive Partnership Agreement  (US-Indonesia CPA) yang merupakan komitmen jangka panjang kedua negara  untuk  meningkatkan  dan  memperdalam  hubungan  bilateral.  Salah  satu  sektor  yang menjadi fokus kerja sama adalah sektor ekonomi.
Selain  menandatangani  CPA,  upaya  Pemerintah  Indonesia  dan  AS  untuk  meningkatkan hubungan  ekonomi  kedua  negara  ditandai  dengan  pembentukan  beberapa  forum  untuk memfasilitasi dialog dan kerjasama ekonomi diantarakedua negara. Forum dan insiatif tersebut terdiri atas:  US-Indonesia Trade and Investment Dialogue, Commercial Dialogue,  dan Overseas Private  Investment  Corporation  (OPIC).  Selain  itu,  Indonesia  menjadi  satu  dari  negara  fokus ekspor AS yang tercantum dalam National Export Initiatives  (NEI), dan AS menyelenggarakan Global Entrepreneurship Program (GEP)  untuk mendorong wirausaha di Indonesia dan  United States  Trade  and  Development  Agency  (USTDA)  Geothermal  Development  untuk  mendorong kerja sama energi.
Dalam,  hubungan  dagang,  AS  merupakan  mitra  dagang  terbesar  ketiga  bagi  Indonesia setelah Cina dan Jepang. Neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat menunjukkan nilai  yang  positif.  Ekspor  nonmigas  yaitu  karet,  tekstil  dan  pakaian  jadi,  alas  kaki  dan  mesin listrik mendominasi komoditas Indonesia yang dikirim ke AS. Nilai ekspor nonmigas Indonesia secara keseluruhan mengalami tren yang meningkat, kecuali di tahun 2009 sebagai dampak dari krisis  ekonomi  di  AS;  kenaikan ekspor  tahun  2010  dan  2011  mencapai  31,49%  dan  15,37% (Kementerian  Perdagangan,  2012).  AS  juga  merupakan  salah  satu  negara  asal  impor  terbesar, bersama dengan negara-negara ASEAN, Jepang, dan Cina. Nilai impor Indonesia dari Amerika Serikat pada tahun 2011 mencakup 6,09% dari total impor Indonesia, lebih kecil dari nilai impor tahun 2009 dan 2010.
Walaupun  tren  sejak  tahun  2008  menunjukkan  bahwa  Indonesia  memiliki  nilai  transaksi berjalan yang positif, terjadi defisit transaksi berjalan yang mencapai 3,1% dari PDB pada awal tahun 2012 dan 2,6% dari PDB pada kuartal ketiga 2012. Salah satu penyebab defisit transaksi berjalan sebesar USD 561,1 juta pada periode Januari – Oktober 2012 adalah impor pesawat dari AS ke Indonesia.
Nilai  investasi  Amerika  Serikat  ke  Indonesia  pada  2011  mencapai  USD  1,5  miliar,  atau 7,6% dari total investasi yang masuk ke Indonesia dan meningkat dibanding tahun sebelumnya yang  mencapai  US$  1  miliar.  Investasi  langsung  (Foreign  Direct  Investment)  dari  AS menyumbang  4%  dari  total  nilai  FDI  di  Indonesia.  Posisi  FDI  Indonesia  terhadap  Amerika Serikat mencapai puncaknya pada tahun 2005, namun kemudian menurun hingga bernilai negatif di 2006. Tren posisi FDI dari 2007 hingga 2010 mengalami penurunan. Pasang surut FDI AS ke Indonesia tidak terlepas dari perubahan rezimatau undang-undang yang  berlaku  di  Indonesia.  Pemerintah  Indonesia  mengeluarkan  berbagai  produk  perundangundangan yang meliberalisasi investasi asing di Indonesia pada tahun 1980an dan tahun 1990an. Namun  krisis  yang  terjadi  akhir  tahun  1990an  menyebabkan  Indonesia  tidak  menjadi  tujuan investasi  yang menarik dimata investor asing. Keadaan ini mulai membaik setelah tahun 2001 ketika  Pemerintah  bersikap  lebih  terbuka  terhadap  investasi  asing,  daya  tawar  perusahaanperusahaan Indonesia yang kompetitif, privatisasi dan rekapitalisasi bank-bank di Indonesia, dan privatisasi beberapa BUMN. Pada tahun 2005, ketika  saham FDI di Indonesia mencapai US$10 Milyar,  perusahaan  multinasional  AS  mendominasi  investasi  asing  di  Indonesia.  Hampir  60% FDI dari AS terkonsentrasi pada sektor minyak, gas,dan pertambangan. AS  turut  memberikan  berbagai  macam  bentuk  bantuan  bagi  Indonesia  yang  disalurkan melalui  United States Agency for International  Development  (USAID).  Terkait dengan bidang ekonomi,  terdapat  beberapa  aspek  yang  menjadi  fokus dari  bantuan  AS  ini,  diantaranya: Penguatan  pertumbuhan  ekonomi  dan  penciptaan  lapangan  pekerjaan,  Pengembangan  iklim usaha  dan  perusahaan,  stabilitas  dan  kewajaran  sektor  keuangan,  perbaikan  kualitas  jasa kebutuhan  dasar,  jasa  lingkungan,  jasa  kesehatan,  serta  sektor  pangan  dan  gizi.  Selain  itu,  AS juga  memberikan  pinjaman  luar  negeri.  Pinjaman  bilateral  yang  berasal  dari  Amerika  Serikat menempati peringkat kedua setelah pinjaman bilateral yang berasal dari Jepang.
Berdasarkan kondisi yang terkait dengan Indonesia dan AS, terdapat berapa bidang kerja sama yang berpeluang untuk dikembangkan kedua negara, yaitu: a.  Kerja  sama  di  bidang  infrastuktur  yang  masih  menjadi  kelemahan  utama  di  Indonesia sebenarnya  juga  menjadi  peluang  utama  kerjasama  ekonomi  dengan  AS.  Selain  proyek pembangunan,  AS  dapat  memberikan  konsultasi  infrastruktur  yang  dibutuhkan  Indonesia, terutama untuk sektor informasi dan teknologi (IT) dan migas. b.  Meningkatkan  perdagangan  bilateral  yang  tidak  hanya menyangkut  perdagangan  komoditas terutama  pertanian,  tekstil,  perkayuan,  dan  industri  perfilman,  tapi  juga  berbagai  kegiatan yang dapat mendorong perdagangan syaitu sertfikasi dan labeling, pemberian General System of  Preferences  (GSP)  bagi  Indonesia,  perlindungan  HKI  oleh  Pemerintah  Indonesia  bagi produk  dari  AS,  dan  tindakan  tegas  terhadap  praktek-praktek  korupsi  dan  birokrasi  yang berbelit-belit. c.  Perbaikan  pelaksanaan  debt-swap.  AS  merupakan  negara  kreditor  yang  paling  banyak memberikan  pengurangan  utang  dengan  menggunakan  skema  debt-for  nature  swap  (DNS). Pada  tahun  2009,  Indonesia  juga  menandatangani  perjanjian  DNS  dengan  AS  untuk mengalihkan  sisa  pembayaran  enam  jenis  utang  pemerintah  Indonesia  hingga  US$29.2  juta selama 8 tahun ke depan namun pelaksanaan DNS ini cukup banyak menimbulkan masalah karena besarnya jumlah hutang yang tetap harus dibayar Pemerintah Indonesia. d.  Kedua  negara  dapat  meningkatkan  hubungan  ekonomi  dengan  meningkatkan  transparansi akun  wajib  pajak  AS  di  Indonesia.  Indonesia  dapat  membantu  pelaksanaan  FATCA  yang menjadi  mekanisme  Pemerintah  Amerika  Serikat  untuk  menyingkap  dan  membuka penyalahgunaan pajak  yang dilakukan oleh warganya  yang memiliki akun keuangan di luar negeri.
2.2  Hubungan Amerika Serikat dan Indonesia dalam Bidang Keamanan
Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah terbina sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945. Di era Demokrasi Terpimpin, antara tahun 1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuan militer untuk jenderal-jenderal militer Indonesia. Menurut laporan di media cetak "Suara Pemuda Indonesia": Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalyon angkatan bersenjata Indonesia. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja bukan untuk mendukung Soekarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".
Hubungan kerjasama antara Indonesia dan AS dalam bidang keamanan, lebih difokuskan pada hubungan antara kedua negara pada tahun 2005-2010 karena pada tahun 2005 hubungan Indonesia dan Amerika Serikat mulai mengalami perubahan menuju arah yang lebih baik, dimana embargo militer AS kepadaIndonesia secara bertahap mulai dihapuskan pada tahun 2005. Hal ini dilihat oleh pemerintah AS bahwa sudah mencapai kemajuan penting dalam memajukan demokrasi dan AS akan membantu Indonesia untuk memodernisasi  militernyaserta meningkatkan usaha kontra-terorisme dan pertolongan bencana. Hubungan antara Indonesia dan AS pada kerjasama dalam bidang keamanan terlihat dan signifikan dari adanya diadakan dialog keamanan olehkedua negara yang terus dilanjutkan meskipun, telah mengalami pergantian pemerintahan dari kedua negara. Dialog keamanan antara kedua negaramemfokuskan pada kerjasama untuk melawan aksi terorisme yang dapatmengancam kedaulatan kedua negara, dan juga mengancam keamanan dunia.Selain itu, hubungan kerjasama antara dua negara ini mengacu pada dampak yangakan diterima oleh Indonesia terhadap stabilitas keamanan negara ini.Pada tahun 2010, adanya Kemitraan Komprehensif yang memungkinkankedua negara yaitu Indonesia dan AS untuk sepenuhnya mengeksplorasi danmembangun bersama di atas kepentingan nasional, memaksimalkan kerjasama pada prioritas bersama, dan memperkuat hubungan yang telah terjalin lama antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kemitraan Komprehensif bagi kedua negara, tujuannya untuk memperkuat kerjasama bilateral di berbagai isu dalam rangkamempromosikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran ekonomi, yangsemuanya itu tidak hanya dapat dirasakan oleh Amerika Serikat dan Indonesia,tetapi baik regional maupun global juga turut merasakan dampak dari kerjasama antar negara tersebut.
2.3  Hubungan Indonesia-Amerika Serikat dalam Dinamika, Tantangan dan Kepentingan Strategis
Hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami pasang surut. Pada masa Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, hubungan diplomatik Indonesia-Amerika Serikat renggang karena sikap Amerika Serikat sering berbenturan dengan Presiden Soekarno. Bahkan Presiden Soekarno menyerukan pada Duta Besar Amerika Serikat, Jones “go to hell with your aid” (Wiharyanto, n.d.). Hal ini diperkuat dengan pernyataan Smith (2003) yang menyebutkan bahwa Soekarno menutup diri terhadap Amerika. Sehingga Indonesia menjalin hubungan dengan Cina yang merupakan blok timur. Namun, hubungan diplomatik Indonesia-Amerika Serikat kembali terjalin terkait dengan masalah Pembebasan Irian Barat. Perang Dingin yang telah membagi kekuatan dunia menjadi dua kekuatan besar, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, turut serta mempengaruhi hubungan diplomatik Indonesia. Sebagai negara baru yang tidak menghendaki adanya imperialisme, maka secara tegas Indonesia mengumandangkan Politik Bebas Aktif nya. Politik Bebas Aktif menunjukkan bahwa dalam kebijakan luar negerinya Indonesia tidak dipengaruhi dan tidak mendapat intervensi dari blok manapun, baik itu Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Namun, dengan adanya Politik Bebas Aktif tersebut Indonesia berhak cenderung pada salah satu pihak. Hal tersebut tercermin ketika Indonesia menghadapi Belanda dalam kasus pembebasan Irian Barat. Ketika Indonesia meminta bantuan persenjataan militer pada Amerika Serikat, Amerika Serikat mengabaikan permohonan Indonesia karena Belanda merupakan sekutunya. Akhirnya, menghadapi penolakan tersebut Indonesia beralih pada Uni Soviet. Uni Soviet dengan tangan terbuka menolong Indonesia. Uni Soviet membantu Indonesia dalam pengerahan sukarelawan dan penerjunan darurratdi wilayah Irian Barat. Bantuan Uni Soviet pada Indonesia tersebut cukup mengkhawatirkan posisi Amerika Serikat di mata Indonesia. Menghadapi kenyataan tersebut, Amerika Serikat mendesak Belanda sebagai sekutunya untuk segera berunding dengan Indonesia untuk membahas mengenai penyelesaian sengketa Irian Barat. Amerika Serikat mengeluarkan syarat-syarat pada Belanda diamana syarat-syarat yang diajukan Amerika Serikat tersebut sangat menguntungkan Indonesia.
Sebelum Soekarno memasrahkan pemerintahan Indonesia pada Soeharto, Indonesia tengah berkutat menumbas G30S/PKI yang beraliran komunis yang merupakan musuh utama Amerika Serikat. Indonesia pada saat dibawah kepemimpinan Soeharto sangatlah anti komunis, telah membubarkan PKI, menahan ratusan ribu anggota PKI yang tentunya hal tersebut sangat menarik perhatian Amerika Serikat (Wiharyanto, n.d.). Oleh sebab itu, ketika Indonesia dilanda krisis yang mengakibatkan rapuhnya perekonomian Indonesia, maka Amerika Serikat dengan senang hati memberikan bantuannya pada Indonesia sehingga stabilitas ekonomi dan keamanan Indonesia dapat ditegakkan (Wiharyanto, n.d.). Selain itu juga Soeharto beranggapan bahwa Amerika merupakan pihak yang mampu memberikan bantuan perekonomian yang cukup besar bagi Indonesia (Smith, 2003). Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Wiharyanto (n.d) menyebutkan bahwa karena hubungan Indonesia-Amerika yang berdasar pada kesamaan sikap anti komunis ternyata tidak sehat. Hal tersebut tercermin setelah berakhirnya perang dingin dimana kekuatan komunisme dunia telah hancur, maka hubungan Indonesia-Amerika pun menjadi rapuh. Kerapuhan tersebut semakin diperkuat ketika naik secara drastisnya nilai tukar dollar amerika terhadap rupiah yang menyebabkan inflasi besar-besaran sehingga rezim orde baru di bawah kepemimpinan Soehartopun runtuh.
Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat pada era reformasi cenderung mengalami fluktuasi. Hubungan Indonesia-Amerika Serikat dapat dikatakan rapuh saat pemerintahan Presiden BJ Habibie. Terjadinya berbagai peristiwa penembakan dan pembunuhan di Timor Timur yang menyebabkan jatuhnya banyak korban selama kependudukan Indonesia di wilayah tersebut mendapat perhatian dunia internasional. Penggunaan kekuatan militer Indonesia yang cenderung koersif di Timor Timur dinilai Amerika Serikat sebagai tindakan yang sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Amerika Serikat aktif mengupayakan penanganan konflik ini di Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga pada akhirnya Australia diutus sebagai penengah dalam konflik Indonesia dan Timor Timur. Solusi yang didapat dengan dilakukannya referendum oleh Presiden B.J. Habibie terhadap rakyat Timor Timur ialah melepaskan Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (Smith, 2003: 453).
Pemerintahan Megawati menghadapi tantangan baru berkaitan dengan dinamika hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat. Era Megawati merupakan era dimana Amerika Serikat sedang menyatakan perang terhadap terorisme akibat adanya peristiwa 9/11. Presiden Amerika Serikat George Walker Bush secara tegas mendeklarasikan kebijakan negaranya untuk memerangi terorisme dan sekaligus mencari dukungan internasional terhadap kebijakan tersebut. Amerika Serikat secara sepihak dan terburu-buru mendoktrin masyarakat bahwa serangan terorisme yang terjadi merupakan serangan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal Islam yakni Al Qaeda dimana mereka tersebar di wilayah Timur Tengah. Colin Powell, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, dalam pidatonya di depan Dewan Keamanan PBB juga mengemukakan alasan dibalik keputusan pemerintahan Bush untuk menginvasi negara-negara Timur Tengah adalah Saddam Hussein yang dicurigai mempunyai weapon of mass destruction (WMDs) dan sedang berusaha memproduksinya.
Terorisme menjadi ancaman baru bagi negara-negara lain terutama negara-negara yang tidak mempunyai power kuat. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim yang besar di dunia, Indonesia tidak menghendaki aksi terorisme sehingga Indonesia pada awalnya mendukung Amerika Serikat (Smith, 2003: 454). Hal ini dilatar belakangi oleh alasan keamanan nasional dan internasional. Kemudian, dukungan tersebut akhirnya berubah menjadi tentangan ketika Indonesia dan dunia mengetahui bahwa invasi militer oleh Amerika Serikat atas Afganistan dan Irak tersebut sangat irasional dan brutal karena telah memakan banyak korban jiwa dan menyisakan duka bagi warga sipil yang tidak bersalah (Smith, 2003). Pernyataan Amerika Serikat bahwa Saddam Hussein memiliki nuclear weapons pun dilaporkan tidak akurat dan tidak terbukti. Hal ini membuat Amerika Serikat mendapat kecaman keras dari dunia internasional, termasuk Indonesia
Hubungan baik Indonesia-Amerika Serikat kembali terjalin baik paska peristiwa Bom Bali I pada tahun 2002 dimana pelaku-pelakunya berasal dari Jamaah Islamiyah yang dicurigai memiliki koneksi yang kuat dengan jaringan teroris Al Qaeda. Hubungan Baik antara Indonesia-Amerika Serikat ini berupa pemberian bantuan dana maupun kerjasama dari Amerika Serikat untuk membendung terorisme. Dalam pemberian bantuan Amerika Serikat ini dilatar belakangi oleh posisi dan kondisi Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang menurut Amerika Serikat dapat menjadi tempat benih-benih terorisme sehingga adalah hal yang sangat penting untuk membuat Indonesia aktif melawan terorisme (Smith, 2003: 454). Indonesia dan Amerika mengalami enam hubungan generalisasi didasari oleh kesamaan kepentingan terhadap perlawanan dan pencegahan aksi terorisme, seperti yang dijelaskan oleh Donald K. Emmerson (2002). Namun keduanya tetap memiliki pandangan yang berbeda. Indonesia menganggap bahwa penyerangan dan perlawanan harus ditujukan pada teroris, bukan tempat asal terorisme. Hal ini dibuktikan dengan tindakan Indonesia yang tidak sepakat terkait kasus penyerangan Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak.
Suryohadiprojo (2006) mengemukakan bahwa dengan munculnya era reformasi, hubungan Indonesia-Amerika Serikat menghadapi konfigurasi politik. Dalam konfigurasi politik hubungan Indonesia-Amerika Serikat, terjadi gesekan-gesekan yang menempatkan hubungan kedua negara dalam ujian. Landasan hubungan dan bantuan luar negeri yang didasarkan pada perhitungan Perang Dingin di masa lampau harus diubah dan diganti. Pondasi kokoh dalam membangun basis kerjasama antar dua negara harus dibangun.
Amerika Serikat sebagai negara adidaya memiliki pondasi yang kuat dalam berbagai sektor. Berikut ini adalah beberapa posisi strategis Amerika bagi Indonesia. Pertama, hingga kini Amerika Serikat telah mampu menjamin stabilitas dan keamanan di kawasan Asia Pasifik dengan strategi forward deployment di kawasan ini (Wanandi,n.d). Pengawasan Amerika Serikat terutama ditujukan sebagai upaya preventif terhadap gejolak terhadap kestabilan kawasan. Pengawasan ini diwujudkan dalam bentuk militer. Amerika Serikat juga merupakan pemberi bantuan terbesar dalam hal kekuatan keamanan nasional Indonesia terkait terorisme (Emmerson, 2002: 123). Kedua, perimbangan di bidang strategis militer di atas diperluan untuk merumuskan persepsi politik (Wanandi,n.d). Persepsi politik yang dimaksud mengerucut pada dua hal, yaitu persepsi ancaman dan kemungkinan terciptanya stabilitas dan perdamaian kawasan. Jika ancaman dan potensi gejolak bisa diatasi maka Indonesia bisa memfokuskan diri dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya. Ketiga, hubungan itu berarti pula bahwa pandangan Indonesia (bersama anggota-anggota ASEAN lainnya) mengenai perkembangan kawasan perlu ditanggapi secara sungguh-sungguh oleh Amerika Serikat (Wanandi,n.d). Posisi yang kuat dalam organisasi internasional, mengingat Amerika Serikat adalah pelopor sistem perdagangan internasional modern dan pendiri berbagai institusi perdagangan dan keuangan internasional[1], diakses pada 16 Desember 2013). Melalui perannya dalam berbagai organisasi internasional, Amerika Serikat bisa mempertimbangkan kepentingan Indonesia dalam setiap pengambilan keputusan. Keempat, di bidang politik ekonomi, hubungan dengan Amerika Serikat penting untuk mengimbangi kekuatan ekonomi Jepang (Wanandi,n.d). Terlalu banyak barang buatan Jepang yang masuk ke pasar Indonesia, sehingga diharpakan Amerika Serikat mampu menjadi penyeimbang, terutama dalam bidang industri. Kelima, di bidang swasta investasi Amerika Serikat di dalam bidang energi dan mineral masih tetap panjang (Wanandi,n.d). Hal yang sama berlaku pula untuk investasi di bidang industri berteknologi tinggi dan bidang pelayanan. Pasar Amerika Serikat juga sangat potensial untuk barang non migas yaitu bidang manufacturing. Keenam, pendidikan adalah aspek yang paling menonjol dalam hubungan budaya dengan Amerika Serikat dengan akibat-akibatnya yang pada umumnya baik (Wanandi,n.d). Tersedia banyak beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat maupun Indonesia. Beasiswa ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga berupa pengenalan budaya, media, kehidupan dan berbagai sektor lain di kedua negara yang pada akhirnya dapat membangun jembatan pemahaman.
Posisi strategis ini kemudian diimplementasikan secara nyata dalam berbagai bentuk variasi kerja sama. Pada bulan November 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barrack Obama menandatangani Comprehensive Partnership Agreement (CPA). Perjanjian ini meliputi kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi, pendidikan, energi, perubahan iklim dan lingkungan, keamanan, demokrasi dan masyarakat sipil (Vaughn,2011:4-5). Sejak 2009, ekspor barang AS ke Indonesia telah meningkat dari $5,1 miliar ke $7,4 miliar pada tahun 2011, dan impor barang telah meningkat dari $12,9 miliar ke $19,1 miliar[2]. Dalam bidang pendidikan, program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study ditujukan bagi siwa siswi Indonesia untuk tinggal di Amerika Serikat selama satu tahun dan membangun jembatan pemahaman antar dua negara untuk menyebarkan perdamaian. Sektor pembangunan juga disentuh, salah satunya melalui Program Millennium Challenge Corporation (MCC) compact senilai $600 juta yang ditandatangani pada November 2011 menyediakan investasi dalam bidang energi terbarukan, gizi ibu dan anak, serta dukungan bagi upaya Indonesia dalam memodernisasi  sistem pengadaan publiknya.
Perpolitikan Amerika Serikat (AS) dalam hubungan internasional tidak  perlu diragukan lagi. AS memiliki perekonomian yang mapan dan teknologi yang canggih awal yang baik dan dibutuhkan dalam melaksanakan hubungan antar negara. Berakhirnya Perang Dingin yang dimenangkan oleh AS, membuat AS semakin melebarkan sayapnya di kancah internasional. AS merupakan negara yang mandiri dan negara yang dapat menarik negara-negara lain untuk melakukan hubungan kerjasama, terutama bagi negara-negara berkembang yang belum cukupmapan untuk memiliki pengaruh dalam hubungan internasional.
Amerika Serikat telah mengalami berbagai pengalaman pahit sepanjang sejarah negara ini terbentuk seperti Perang Saudara Amerika (1861-1865) dan kejatuhan ekonomi Great Depression (1929-1939), bukan hanya AS yang merasakan melainkan hampir seluruh dunia juga turut ikut merasakan kejatuhan ekonomi ini. Negara ini juga mengambil bagian dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II serta Perang Dingin yang terbagi dalam dua blok yaitu blok Barat dan blok Timur. Blok Barat didominasikan oleh negara-negara yang menganut paham kapitalis termasuk AS, berperan penting di dalamnya sedangkan blok Timur identik dengan negara-negara yang percaya akan paham komunis, dimana Uni Soviet yang memiliki peranan dalam blok ini. Jatuhnya Uni Soviet pada PerangDingin, membuat AS bangkit menjadi sebuah kekuatan ekonomi dan militer yang terkuat di dunia serta hegemoni AS di berbagai belahan dunia semakin terlihat.Pada tahun 1990-an, AS menobatkan dirinya sebagai polisi dunia dan angkatan militernya melakukan aksi di berbagai negara seperti Kosovo, Haiti, Somalia danLiberia.
Berakhirnya Perang Dingin dan bangkitnya negara adidaya baru yaitu AS, membuka peluang bagi negara ini untuk memiliki pengaruh dominan terhadapseluruh kebijakan yang terjadi di semua negara terutama yang berpengaruh langsung terhadap kepentingan nasionalnya. Sebagai anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa yang memegang kekuatan penuh atas segala halterutama yang menyangkut mengenai perdamaian dunia. Hubungan Indonesia dan AS yang telah terjalin sejak lama dapat digunakan Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas dan posisi Indonesia di mata dunia terutama dalam mengatasi masalah keamanan dalam negeri Indonesia.






BAB II
PENUTUP
·      Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat menyimpulkan bahwa hubungan Indonesia-Amerika Serikat bersifat fluktuatif, tergantung dari situasi saat itu dan karakteristik pemimpin. Era Orde Lama, hubungan kedua negara kurang baik karena Soekarno tidak berpihak pada Amerika. Era Orde Baru, hubungan kedua negara membaik karena Indonesia membutuhkan bantuan ekonomi dari Amerika Serikat. Pada era reformasi saat ini kekuatan dunia saat ini bersifat multi polar yang kemudian berimbas pada keharusan bagi setiap negara untuk saling menjalin kerja sama. Motivasi terbesar dalam hubungan antar negara adalah pencapaian kepentingan. Kepentingan ini didasarkan pada kapabilitas dan potensi yang dimiliki oleh suatu negara. Selain itu kepentingan juga berlatar belakang kelemahan negara itu sendiri sehingga mendorong negara tersebut untuk bekerja sama dengan negara lain. Dalam hubungan Indonesia-Amerika, landasan tersebut juga berlaku. Masing-masing pihak memiliki posisi strategis dalam kacamata pihak lain.

·      Saran
Oleh karena itu, biasakan untuk kerja sama sejak dini pada kegiatan yang memang diperbolehkan agar nilai pada kerja sama tersebut, tidak salah arti dan luntur oleh zaman.












DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_%281959%E2%80%931965%29 diakses pada tanggal 06 Mei 2014
Http://www.academia.edu/3407071/dampak_hubungan_indonesia_dan_amerika_serikat_terhadap_stabilitas_keamanan_di_indonesia diakses pada tanggal 06 Mei 2014
http://www.globalmuslim.web.id/2011/05/keterlibatan-cia-dengan-soeharto-awal.html diakses pada tanggal 06 Mei 2014
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Kajian_Kerja_Sama_Bilateral_RI-AS.pdf diakses pada tanggal 06 Mei 2014
http://najiyah-rizqi-maulidiyah-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-90136.Hubungan%20IndonesiaAmerika%20Serikat%20dalam%20Dinamika,%20Tantangan%20%20%20dan%20Kepentingan%20Strategis.html diakses pada tanggal 06 Mei 2014

No comments:

Post a Comment