Tuesday, April 9, 2019

Proposal Skripsi FKM Peminatan Gizi judul Hubungan Pola makan dan kejadian Gizi lebih


Download File Lengkap Pada Link Beriku
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻


HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN GIZI LEBIH SISWA
REMAJA PUTRIDI SMA 11  KOTA MAKASSAR
PROVINSI SULAWESI SELATAN
TAHUN 2019
 


BAB I
 PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
            Gizi lebih atau kegemukan sering didenifisikan sebagai kondisi abnormal atau keadaan patologis yang didalamnya terdapat penimbunan lemak yang berlebihan yang menimbulkan gangguan psikologis yang serius sehingga dapat menganggu kesehatan.(Damiri, Abualsoud, Samara, & Salameh, 2018).
            Pravelensi gizi lebih (overweight) diseluruh dunia mengalami tren yang terus meningkat dalam sekitar 30 tahun terakhir salah satu kelompok umur yang beresiko terjadinya gizi lebih adalah kelompok umur remaja. menurut WHO pada tahun 2014 paling tinggi diamerika serikat 61 % overweight untuk semua usia dan 27% obesitas, sedangkan yang terendah menurut WHO adalah dibagian Asia selatan 22% overweight untuk semua usia dan 5% untuk obesitas. Pravelensi overweight pada anak laki-laki dan perempuan yang berusia diantara 11 tahun tertinggi terjadi di yunani (33%), Portugal (32%), irlandia (30%) dan spanyol (30%) dan yang terendah di belanda (13%) dab swiss (11%). (Crawford, Mackison, Mooney, & Ellaway, 2017)
            Prevalensi kelebihan berat badan (overweight) meningkat sangat pesat di seluruh dunia, negara-negara maju seperti di Eropa, USA, dan Australia telah mencapai tingkat yang membahayakan. Menurut Barasi, kini terdapat lebih banyak orang yang memiliki berat badan berlebih daripada penderita gizi kurang di seluruh dunia. Gabungan berat badan berlebih dan obesitas pada pria 65% dan 56% pada wanita di Inggris. Sebagian penduduk dewasa Polynesia di Samoa Saat ini 70% masuk ke dalam kategori obesitas. Tidak hanya di negara-negara maju prevalensi obesitas dan overweight juga meningkat dengan sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik, 20,5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1,5% tergolong kepada obesitas, sedangkan di Thailand penduduk yang mengalami overweight sebanyak 16% dan 4% obesitas, lalu di daerah perkotaan Cina prevalensi 12% overweight pada laki-laki dan 14,4% pada perempuan, sedangan pedesaan Cina prevalensi overweight pada laki- laki dan perempuan masing-masing 5,3% dan 9,8%.2. (Hahn, Borton, & Sonneville, 2018)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikan obesitas sebagai epidemic global. Prevalensinya meningkat tidak di negara- negara maju saja, tetapi juga di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa restoran cepat saji di sekitar sekolahan akan memengaruhi pola dan kebiasaan makan dari siswa sekolah tersebut. Pada akhirnya perubahan kebiasaan makan, pendapatan keluarga dan pola makan akan memengaruhi jumlah siswa yang mengalami kelebihan berat badan dan kegemukan.5 Menurut penelitian Afdayani6, pada umumnya sampel yang memiliki kebiasaan makan baik memiliki persentase sebesar (56,2%), dan yang memiliki kebiasaan makan kurang baik sebesar (43,8%). Sedangkan pada penelitian Junaidi7, didapatkan pola makan yang berlebihan dan tinggi energi pada remaja cenderung berakibat terhadap meningkatnya komposisi berat badan yang berdampak terhadp resiko obesitas.(Ampera Miko1, 2017)
            World Health Organization (2014) melakukan pemantauan berkala perubahan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada semua populasi di dunia dari tahun 1980 hingga 2013 menunjukkan penderita obesitas di Eropa Barat sebanyak 13,9%. di Uruguay (18,1%), Costa Rica (12,4%), Chili (11,9%) dan Meksiko (10,5%). Data yang diperoleh pada tahun 2014 melaporkan bahwa 20% anak usia (16-17) di amerika serikat mengalami  overweight dan lebih dari 40% mengalami obesitas. pada anak di Rusia adalah 6% dan 10%, di Cina sebanyak 3,6% dan 3,4% dan di Inggris 22–31% dan 10–17%, bergantung pada umur dan jenis kelamin. (Sofia Rahma Pramudita1 & Nadhiroh2, 2017)
            prevalensi masalah overweight dan obesitas pada usia remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10.8% terdiri dari 8,3% gemuk dan 2,5% sangat gemuk. yang tertinggi yaitu pada provinsi kepulauan riau sebesar 0,6%, provinsi DKI sebesar 0,5%, prevalensi obesitas di Provinsi kalimantan timur dan Provinsi DIY sebesar 0,3% sedangkan prevalensi obesitas Di Provinsi Sulawesi Utara dan di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 0,2% (Riskesdas,2013).(Indriani Pratiwi1, 2018)
            menurut hasil riset kesehatan dasar (RIKESDAS)  pada tahun 2015 tingkat nasional prevensi kegemukan pada anak umur 13-15 tahun adalah sebesar 2,5 %. Sedangkan menurut hasil rikesdas tahun 2016  menyatakan bahwa secara nasional masalah gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10,8 %, terdiri dari 8,3 % gemuk, dan 2,5 % sangat gemuk (obesitas).(Syahrir, Agusyanti, Nurmiyati, Ernawati Parura, & Gasang, 2015)
            Dalam penelitian yang dilakukan oleh Healthy Hidayanti pada tahun 2014 mengukur prevalensi gizi lebih pada kalangan remaja usia 11-15 tahun di kota Makassar. Prevalensi overweight dan obesitas di kalangan remaja masing-masing adalah 11% dan 6%. (healthy hidayanty, 2016)
            SMA Negeri 11 kota Makassar Sulawesi selatan tahun 2018 dipilih sebagai tempat lokasi penelitian, berdasarkan  pertimbangan Dinas kesehatan kota makassar Sulawesi Sulawesi selatan tahun 2018
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah di kemukakan sebagai berikut :
1.    Apakah ada hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi lebih remaja putri SMA negeri 11 makasssar
2.    Apakah ada hubungan Asupan makanan dengan status gizi lebih remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
3.    Apakah ada hubungan frekuensi makan dengan status gizi lebih remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
4.    Apakah ada hubungan variasi makan dengan status gizi lebih remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
5.    Apakah ada hubungan pendidikan orang tua dengan status gizi lebih remaja putri di SMA negeri 11 makasssar


Download File Proposal ini Pada Link Berikut Dalam bentuk Ms.word
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

C.       Tujuan penelitian
1.    Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor yang berhubungan Gizi Lebih remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
2.    Tujuan khusus
a.    Untuk mengetahui hubungan pendapatan terhadap kejadian Gizi Lebih pada remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
b.    Untuk mengetahui hubungan Asupan makan terhadap kejadian Gizi Lebih pada remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
c.    Untuk mengetahui hubungan frekuensi makan terhadap kejadian Gizi Lebih pada remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
d.    Untuk mengetahui hubungan variasi makan terhadap kejadian Gizi Lebih pada remaja putri di SMA negeri 11 makasssar
e.    Untuk mengetahui hubungan pendidikan orang tua terhadap kejadian Gizi Lebih pada remaja putri di SMA negeri 11 makasssar


D.         Manfaat penelitian
1.    Manfaat bagi institusi/instansi
Hasil penelitian ini merupakan salah satu sumber informasi bagi dinas kesehatan kota Makassar dalam rangka menentukan arah kebijakan untuk menangani masalah status gizi lebih( Gizi Lebih ) di masa akan datang.
2.    Manfaat bagi ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai petunjuk yang bermanfaat bagi pembaca dan peneliti selanjutnya.
3.    Manfaat bagi peneliti
Merupakan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan pengetahuan penelitian tentang status gizi lebih( Gizi Lebih )serta aplikasi di masyarakat.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.       Tinjauan Umum Tentang Gizi Lebih
1.     Defenisi
Gizi lebih maupun gizi salah (Malnutrition) berupa kegemukan dan Gizi Lebih. Gizi Lebih adalah suatu keadaan yang menunjukkan terjadinya penimbungan lemak (trigeliserida) yang berlebihan dijaringan lemak tubuh. (Sabila Rusyadi, 2018)
Biasanya penyakit ini bersangkutan dengan kelebihan energi didalam hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan atau pengguanaannya. Ada tiga zat makanan penghasil energi utama, ialah karbohidrat, lemak dan protein, kelebihan energi didalam tubuh, diubah menjadi lemak dan ditimbun pada tempat- tempat tertentu. Jaringan lemak ini merupakan  jaringan yang relatif inaktif, tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja. (Syahfitri, Ernalia, & Restuastuti, 2017)
Surianggono 2001, mengemukakan bahwa Gizi Lebih merupakan suatu kondisi dimana berat badan tidak seimbang dengan tinggi badan. Seseorang dikatakan kegemukan bila berat badannya naik melampaui 20 % dari berat badan normal.Jadi Gizi Lebih sebenarnya oleh dua hal utama makan melebihi kebutuhan tubuh, seperti banyak makan saat stress, perilaku salah dalam memilih makanan, kebiasaan makan makanan berlemak, dan kebiasaan ngemil.
Overweight suatu keadaan dimana terdapat berat badan yang lebih. Seseorang dikatakan overweight bila jumlah lemak 10-20% di atas nilai normal. Overweight tidaklah sama dengan obesitas. Sebagai gambaran seorang atlit menggunakan aktivitas berat pada otot menyebabkan massa otot tumbuh dengan baik sehingga mereka mempunyai berat badan yang berlebih hal tersebut dapat dikatakan overweight bukan obesitas. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak semua orang mempunyai berat badan lebih  dikatakan obesitas.
2.     Etiologi
a.  Genetik
Kecenderungan menjadi gemuk pada keluarga tertentu telah lama diketahui.Mungkin saja kadang disebabkan oleh kebiasaan keluarga makan banyak dan berkali-kali tiap harinya, yang susunannya mengandung banyak lemak sering jajan dan sebagainya, dengan demikian masukan energi tiap hari melebihi kebutuhannya.
Dari penelitian yang ada terbukti bahwa Gizi Lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan. Orang tua yang  salah satunya 

Download File Proposal ini Pada Link Berikut Dalam bentuk Ms.word
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

No comments:

Post a Comment