Wednesday, April 3, 2019

Skripsi Tentang Peran Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru di SMK


Download File Lengkap Skripsi ini pada link 

Berikut
🔻🔻🔻🔻

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻




PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMK N 4 KLATEN



SKRIPSI


Diajukan kepada Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
























Disusun Oleh :
Ayny Maharrayni Fatmawati
NIM. 11402241036







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015



BAB I

PENDAHULUAN




A.    Latar Belakang Masalah

Guru merupakan salah satu profesi yang akhir-akhir ini banyak diminati oleh generasi muda. Sertifikasi guru merupakan salah satu magnet penarik minat lulusan SMK/SMA untuk dapat menjadi guru. Hal ini dapat dilihat dari persaingan memasuki perguruan tinggi kependidikan yang sangat tinggi. Lebih dari lima puluh persen lulusan SMK/SMA yang melanjutkan studi keperguruan tinggi memilih program studi kependidikan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mencatat bahwa pada tahun 2013 sebanyak 69,4 % atau 407.000 dari 585.789 pendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) mendaftar di program studi kependidikan (http://www.bpkp.go.id/).

Berprofesi sebagai seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Tugas guru bukan hanya mendidik dan mengajar siswa, tetapi masih terdapat tugas untuk membuat administrasi berupa perangkat dan kelengkapan bahan pengajaran. Tuntutan terberat sebagai seorang guru adalah tanggungjawab moral. Ketika selesai mengajar, tentunya sering muncul pertanyaan di dalam benak seorang guru, apakah siswa mengerti dengan apa yang disampaikan, apakah siswa senang dengan metode yang digunakan. Hal inilah yang sering membuat tugas sebagai seorang guru semakin berat, karena keberhasilan dalam mengajar sulit diukur melalui penglihatan. Berbagai




1

2






macam tuntutan tersebut harus dapat dipenuhi secara maksimal dan seimbang agar tujuan dari pendidikan dapat terwujud dengan maksimal.

Guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa guru, tentu saja tidak ada yang mendidik anak-anak agar menjadi generasi muda yang berpendidikan. Selain hal tersebut, guru adalah orang yang berhubungan dengan siswa secara langsung, sehingga gurulah yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendidik siswa agar dapat menjadi generasi muda yang berpendidikan, bermoral baik, serta mencintai budaya Indonesia. Jika diibaratkan dalam dunia perfilman, guru ini adalah tokoh utamanya.

Guru digolongkan kedalam tiga jenis, pertama guru kelas, yakni guru yang memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh dalam proses pembelajaran di kelas, kecuali mata pelajaran jasmani dan agama. Kedua guru mata pelajaran, yaitu guru yang memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan bidangnya. Ketiga guru bimbingan dan konseling, adalah guru yang memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap siswa.

Agar dapat menghasilkan output berupa siswa yang berkualitas, guru harus kompeten sesuai dengan bidangnya. Tugas yang menjadi tanggungjawab seorang guru harus dapat dilaksanakan dengan maksimal. Usaha guru dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab disebut dengan kinerja guru. Kinerja guru merupakan faktor atau kunci utama yang

3






harus dimiliki agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara komprehensif. Sebab itulah yang menjadi alasan pemerintah menyelenggarakan Penilaian Kinerja Guru.

Penilaian Kinerja Guru (PKG) adalah penilaian dari setiap butir tugas utama guru. Dimata guru dan masyarakat PKG dipandang sebagai suatu hal yang semakin menyusahkan guru. Sejatinya, tujuan diadakannya PKG adalah untuk mewujudkan guru yang profesional. Adanya PKG tentunya dapat memudahkan pemerintah dalam mengawasi kinerja guru di seluruh instansi terkait. PKG secara tidak langsung menciptakan guru agar memiliki kinerja yang tinggi. Walaupun awalnya dipaksa, namun lama kelamaan akan menjadi terbiasa bekerja dengan penuh tanggungjawab tanpa adanya paksaan, sehingga kualitas guru di Indonesia semakin meningkat.

Fenomena saat ini, semakin marak pemberitaan di media tentang guru yang melakukan tindakan yang tidak selayaknya dilakukan. Banyak guru yang melakukan tindakan asusila terhadap muridnya, menganiaya murid, dan melakukan tindakan negatif lainnya. Guru merupakan panutan, apabila guru semakin menurun moralnya, maka orangtua peserta didik akan enggan untuk menyekolahkan anak didiknya. Walaupun yang melakukan tindakan negatif hanya beberapa guru, namun dampaknya diterima oleh seluruh guru. Kepercayaan masyarakat terhadap guru menjadi menurun.

Selain hal tersebut, berdasarkan pengamatan dilapangan, kedisiplinan guru masih belum sesuai dengan harapan. Kedisiplinan dapat dilihat dari ketepatan guru masuk kelas, ketertiban dalam mengenakan seragam sekolah

4






dan atribut lainnya, ketertiban masuk kerja, ketertiban dalam menjadi guru piket, dan masih banyak yang lainnya. Contohnya, ketika sudah masuk jam pelajaran, guru tidak langsung memasuki kelas, biasanya guru masuk kelas setelah lima menit pergantian jam pelajaran. Selain itu, ketika jadwal piket, biasanya guru saling bekerjasama, contohnya petugas A pulang lebih awal, petugas B minggu depan pulang lebih awal, sehingga tidak semuanya melakukan tugas piket secara penuh.

Metode yang digunakan guru dalam mengajar masih belum bervariasi. Kebanyakan guru masih menggunakan metode ceramah dalam mengajar. Metode ceramah memang tidak selamanya kurang baik (jelek), tetapi apabila jumlah pokok bahasan banyak, akan lebih baik jika menggunakan metode lain yang lebih tepat. Banyak metode mengajar yang sekarang marak diterapkan dalam mengajar yang lebih menarik. Contohnya saja metode role playing, pembelajaran berbasis masalah, dan berbagai metode mengajar lain yang lebih variatif dan menarik.

Metode yang digunakan juga harus didukung dengan media. Media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran juga sangat berperan terhadap keberhasilan sebuah kegiatan pembelajaran. Media yang biasa digunakan untuk mengajar di dalam kelas adalah LCD dan komputer, untuk pembelajaran matematika dapat menggunakan contoh-contoh bangun, kemudian untuk materi perkantoran bisa menggunakan alat-alat simulasi kantor agar peserta didik lebih mudah untuk mempelajarinya. Media yang sering digunakan di kelas adalah LCD dan laptop. Walaupun di kelas terdapat

5






LCD, namun media yang ada tersebut tidak digunakan secara maksimal. Disebut belum maksimal karena power point yang digunakan harusnya dapat menarik minat belajar siswa, namun menjadi sangat membosankan karena power point yang harusnya point-point saja isinya berupa kalimat yang panjang-panjang.

Sebelum melaksanakan dan sesudah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, terdapat administrasi yang harus disiapkan oleh guru. Administrasi guru dapat berupa RPP, silabus, jurnal, kalender pendidikan, program tahunan, program semester, analisis SK/KD, prosedur penilaian, KKM, buku presensi, dan lain sebagainya. Masih ada sebagian besar guru memandang bahwa pekerjaan administrasi tersebut menyusahkan guru, namun sesungguhnya administrasi tersebut memudahkan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pada kenyataannya tidak semua guru tertib dalam membuat administrasi guru tersebut. Administrasi guru yang harusnya dibuat oleh guru yang bersangkutan, seringkali hanyalah hasil dari copy paste dari waktu ke waktu tanpa ada perubahan dan perbaikan.

Ketika melaksanakan pekerjaan dan tanggungjawabnya, kebanyakan guru hanya beranggapan bahwa yang penting tugasnya dilaksanakan. Sedangkan guru dituntut untuk membuat peserta didik menjadi lebih paham dengan apa yang disampaikan, membuat peserta didik mendapatkan tambahan ilmu dan memiliki wawasan yang luas. Selain itu guru juga tidak hanya dituntut untuk mengajarkan ilmu akademik saja, namun guru juga dituntut untuk mampu mendidik moral peserta didik sehingga memiliki

6


  Download File Lengkap Skripsi ini pada link 

Berikut
🔻🔻🔻🔻

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
http://ethobleo.com/3JRA



karakter yang baik. Namun, kenyataannya dilapangan kebanyakan guru belum mementingkan hal tersebut. Ketika guru sudah mengajar di kelas, memberi nilai, membuat administrasi guru, maka akan beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai tanpa mengevaluasi pemahaman peserta didik lebih mendalam. Oleh karena itu, budaya kerja yang produktif belum tertanam pada guru.

Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja guru dalam bekerja. Faktor tersebut bisa berasal dari diri guru tersebut, dapat pula disebabkan rekan kerja, pimpinan, dan lingkungan di sekitar tempat kerja. Faktor yang berasal dari diri pribadi guru dapat berupa masih rendahnya motivasi kerja, pengetahuan, dan wawasan. Rekan kerja yang tidak memiliki semangat kerja tinggi juga akan berpengaruh terhadap kinerja guru yang lainnya. Biasanya guru yang rajin akan terbawa menjadi santai karena pengaruh dari teman sejawatnya. Lingkungan kerja yang nyaman juga akan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja. Lingkungan kerja yang kotor dan tidak menarik juga akan berpengaruh terhadap semangat kerja. Pemimpin juga sangat berpengaruh terhadap kinerja, karena pemimpin merupakan orang yang mengatur, mempengaruhi, dan memberikan motivasi terhadap kinerja guru.

Keterlaksanaan pembelajaran yang baik tidak terlepas dari peran kepala sekolah selaku manajer dalam instansi sekolah. Kepala sekolah harus dapat menuntun warga sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Kepala sekolah harus mampu memberikan

7






motivasi terhadap warga sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mengenal lebih dekat kepada setiap warga sekolah agar lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya dengan baik misalnya melalui komunikasi interpersonal. Membangun komunikasi interpersonal yang baik, menciptakan suasana kerja yang nyaman merupakan salah satu cara agar lebih mudah dalam pencapaian tujuan.

SMK Negeri 4 Klaten merupakan salah satu sekolah yang memiliki Kepala Sekolah tergolong dalam umur yang masih muda. Kedisplinan dari kepala sekolah sudah terlihat sangat baik, karena selain berangkat tepat waktu, kepala sekolah yang memimpin SMK N 4 Klaten selalu pulang pukul empat sore untuk melayani warga sekolah terkecuali jika ada kepentingan yang lebih diutamakan maka terpaksa pulang lebih awal.

Masalah yang dapat dilihat dari hasil pengamatan adalah belum terjalinnya komunikasi interpersonal antara guru dengan kepala sekolah, atau memang budaya kerja pimpinan belum dapat ditiru oleh warga sekolah dan guru yang lain. Keadaan inilah yang menarik untuk diteliti lebih mendalam. Melalui komunikasi interpersonal diharapkan dapat membangun budaya kerja yang baik. Komunikasi interpersonalpun sementara masih banyak hambatan untuk dilakukan. Kepala sekolah tentunya juga memiliki tanggungjawab kedinasan lain yang harus diurus, sehingga akan kesulitan untuk dapat melakukan komunikasi yang intensif dengan setiap guru untuk bertukar pikiran.

8






Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kinerja guru. Dapat dikatakan demikian karena pemimpin mampu mempengaruhi bawahan agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan maksimal, selain hal tersebut, pemimpinlah yang mampu menciptakan sistem, prosedur, serta suasana kerja yang nyaman dan sesuai dengan keadaan kerja. Selain hal tersebut, pimpinanlah yang berhak dalam pengambilan sebuah keputusan yang tepat. Pimpinan memegang peran dominan dalam sebuah organisasi.

Kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar terhadap terwujudnya kinerja guru yang baik. Kinerja guru memiliki peran yang sangat besar terhadap kemajuan pendidikan di sekolah. Kemajuan pendidikan di sekolah memiliki peran yang sangat besar terhadap penciptaan lulusan yang berkualitas. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah berperan terhadap penciptaan generasi bangsa yang berkualitas. Jika dilihat, kepemimpinan di SMK N 4 Klaten cukup baik. Namun, hal ini belum pernah di teliti di SMK N 4 Klaten secara lebih mendalam. Oleh karena itu, perlu diketahui seberapa tinggi peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMK N 4 Klaten.

9






B.   Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

1.        Kedisiplinan guru belum sesuai dengan harapan.

2.        Metode mengajar yang digunakan guru belum bervariasi.

3.        Media yang ada di sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal.

4.        Budaya kerja yang produktif belum terlaksana secara maksimal.

5.        Sebagian besar guru masih memiliki kinerja yang rendah terhadap tugasnya.

6.        Ketertiban guru dalam membuat administrasi sekolah masih rendah.

7.        Komunikasi interpersonal antara guru dan kepala sekolah belum terlaksana secara maksimal.


C.       Batasan Masalah

Permasalahan dalam kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru sangatlah banyak, namun peneliti tidak akan mampu meneliti secara keseluruhan. Sehubungan dengan terbatasnya kemampuan, waktu, dan biaya dari peneliti, maka penelitian ini hanya ingin meneliti identifikasi masalah dari nomor 5 yakni sebagian guru masih memiliki kinerja yang rendah terhadap tugasnya. Melalui identifikasi masalah tersebut, maka penelitian ini akan meneliti tentang peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru. Walaupun SMK di Indonesia sangat banyak, namun penelitian ini hanya akan dilaksanakan di SMKN 4 Klaten.


   Download File Lengkap Skripsi ini pada link 

Berikut
🔻🔻🔻🔻

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
http://ethobleo.com/3JRA


No comments:

Post a Comment