Monday, March 25, 2019

KLIPING BAHAN DAN PROSES PEMBUATAN KERTAS, KAIN DAN KACA


Download File Kliping Ini dalam bentuk Word Pada Link Berikut :
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻


Bahan-bahan Kertas dan Proses Pembuatan Kertas Lengkap


Kertas merupakan barang yang tidak asing bagi kita semua karena kertas bukan barang mewah tapi barang kebutuhan sehari-hari seperti sekolah, kantor, dinding, percetakan atau penggunaan di tempat-tempat lain. Kertas dipergunakan dan dibuat dalam bentuk lembaran tipis dan lembaran tebal serta terbuat dari bahan baku kayu atau tumbuhan berserat lainnya (bambu).
Karena menjadi hal yang umum dan biasa di kehidupan, kita kadang kala belum atau tidak mengetahui bagaimana kertas itu dibuat hingga bisa dipergunakan sebagaimana adanya. Berikut ini saya akan berbagi informasi dari beberapa sumber tentang Proses Pembuatan Kertas.
Dahulu kala menurut catatan dalam sejarah pembuatan kertas, orang-orang membuat kertas dengan cara yang sederhana dan tergolong kepada penggunaan cara manual atau lebih banyak memaksimalkan tenaga manusia. Namun tentu sudah berbeda sekarang ini dengan adanya perubahan ke zaman mesin dan teknologi, kertas dibuat oleh pabrik yang lebih banyak memaksimalkan penggunaan mesin dengan teknologi maju.
Bahan-Bahan Baku Kertas
1.Kayu
Umumnya kertas dibuat dari bahan baku kayu. Kayu-kayu yang dipergunakan adalah kayu yang memiliki kandungan serat yang banyak dan sebagian memiliki sedikit kandungan air.
2. Bambu
Bangsa Asia khususnya China, Korea dan Jepang membuat kertas dari batang pohon bambu. Bambu merupakan bahan baku yang mudah didapat oleh mereka karena iklim dan daerahnya merupakan pendukung yang baik bagi tumbuhan jenis bambu. Bambu menjadi bahan pilihan karena selain mudah didapat juga lebih murah dari harganya.

3. Papirus
Pohon Papirus merupakan pohon yang tumbuh dan bisa dipergunakan oleh bangsa Mesir sebagai bahan baku pembuatan kertas. Bangsa mesir inilah yang menurut catatan sejarah menjadi pelopor pembuatan kertas di dunia.
4. Kulit Binatang
Kulit juga dipergunakan sebagian kalangan untuk bahan baku dalam pembuatan kertas. Yang biasa dipergunakan adalah jenis kulit domba karena bahan juga agak mudah didapatkan walaupun tidak sebanyak dari bahan baku kayu atau bambu.
Pembuatan kertas oleh pabrik secara umum digambarkan seperti ilustrasi berikut :

Tahap 1
Bahan Baku kayu ditebang menjadi log (batangan) kemudian diangkut ke pabrik kertas untuk diproses lebih lanjut.
Tahap 2
Kayu log tersebut kemudian didiamkan beberapa bulan untuk menjaga kelembabannya.
Tahap 3
Kayu yang sudah lama didiamkan tersebut dikupas kulitnya dan dipotong-potong menjadi ukuran lebih kecil.
Tahap 4
Kayu dirajang menjadi serpih sebesar kotak korek api, kemudian dimasukkan ke dalam tangki raksasa yang disebut pencerna atau penghancur.
Tahap 5
Di dalam alat ini kayu diberi tekanan dan panas. Beberapa jam kemudian kayu berubah menjadi bahan lunak seperti kapas. Inilah yang disebut bubur kertas atau pulp.
Tahap 6
Setelah keluar dari pencerna, bubur kertas dicampur air. Bubur dengan kadar air 90% ini kemudian dilewatkan pada mesin yang disebut kotak kepala.
Tahap 7
Kotak kepala membentangkan bubur kertas yang berair itu di atas sebuah ayakan bergerak yang disebut kawat. Sewaktu gilingan menekan bubur kertas ke kawat, sekitar 98% airnya terperas keluar.
Tahap 8
Serangkaian gilingan lain kemudian mengeluarkan hampir seluruh sisa air dari kertas yang mengering itu. Kini hanya tinggal sedikit sekali molekul air yang ada.
Tahap 9
Kertas yang baru saja terbentuk dilewatkan pada silinder tambahan yang dipanaskan dari dalam. Nah silinder ini akan mengeluarkan air lagi dari kertas yang berjalan.
Tahap 10
Serat selulosa kini telah menjadi jalinan yang saling terkait. Gelendong besar yang disebut penggulung mengumpulkan kertas menjadi gulungan raksasa.
Tahap 11
Gulungan ini kemudian dipotong menjadi gulungan-gulungan kecil atau lembaran dan dikirim ke luar dari pabrik.


Download File Kliping Ini dalam bentuk Word Pada Link Berikut :
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻



Bahan-bahan Kain dan Proses Pembuatan Kain Lengkap
 

Bahan Kain – Pernahkah terbersit dalam benak anda tentang bagaimana awalnya baju atau pakaian yang anda kenakan bisa menjadi baju seperti yang anda kenakan sekarang? Atau barangkali saat melihat anak anda, pernahkah anda terbersit tentang bagaimana awal mula dari baju yang dikenakan anak anda? Baju atau pakaian memang butuh proses panjang sebelum akhirnya bisa menjadi baju yang anda kenakan sekarang.
Sebelum menjadi baju, awalnya adalah kain. Dan kain diproses dari serat-serat kapas dan bahan-bahan lain hingga menjadi benang yang merupakan bahan baku dari kain. Barulah bisa menjadi kain untuk bahan dasar baju yang anda kenakan sekarang.
Bahan Kain
Lalu, apa sih sebenarnya bahan-bahan kain itu? Jawabannya adalah serat. Dan sebelum menjadi serat, bahan kain yang paling dasar adalah kapas. Kapas sebagai bahan dasar kain ini umumnya adalah kapas yang sudah berumur 6 hingga 7 bulan.
 Bahan Kain : Kapas 

Proses Pembuatan Kain
Setelah bahan kain yang utama berupa kapas telah terkumpul, barulah bisa memproses kapas yang menjadi bahan kain ini menjadi sebuah kain. Bagaimana prosesnya? Berikut proses pembuatan kain:
1. Penjeratan atau Ginning
Setelah kapas sebagai bahan kain yang utama telah dipanen, kapas akan diproses ke mesin ginning. Gunanya adalah utuk memisahkan biji dan polong yang melekat pada kapas. Setelah itu, serat-serat kapas yang menjadi bahan kain yang utama ini lalu dikeringkan hingga benar-benar kering.

2. Pemintalan atau Spinning
Kapas yang telah melalui proses penjeratan itu kemudian akan dipintal dengan benang-benang yang telah disediakan agar menyatu. Setelah itu, hasil dari proses pemintalan ini akan dibersihkan dengan cara dimasukkan dalam mesin carding.
3. Penggulungan atau Soft Wider
Setelah proses pemintalan selesai, proses selanjutnya adalah soft wider. Proses ini adalah proses penggulungan helaian benang yang telah dipintal.

4. Pencelupan
Setelah digulung melalui proses soft wider, hasilnya kemudian akan masuk ke proses pencelupan. Benang-benang yang telah digulung tadi akan dicelupkan ke beragam warna sesuai keinginan untuk menghasilkan kain dengan warna yang dikehendaki. Setelah pencelupan ini selesai, benang-benang yang telah dicelupkan akan dikeringkan kembali hingga kering.
5. Penenunan atau Weaving
Sebenarnya, proses utama dalam menjadikan bahan kain menjadi sebuah kain ya di proses ini. Dalam proses ini lah, benang-benang yang telah melalui proses pencelupan akan dijadikan kain. Caranya adalah dengan dianyam.
6. Proses Shiage
Setelah ditenun, calon-calon kain yang telah diproses dari bahan kain yang paling dasar tadi akan memasuki proses Shiage. Proses ini tidak lain adalah pemeriksaan kain yang sudah ditenun. Gunanya adalah untuk menentukan dan memilah-milah kualitas kain yang dihasilkan.
7. Perawatan atau Treatments
Selesai? Belum. Setelah kain-kain tadi dipilah dalam proses shiage, proses selanjutnya adalah perawatan. Perawatan ini biasanya dengan cara penggosokan. Tapi, biasanya, penggosokan ini tidak untuk semua bagian kain. Akan tetapi hanya pada bagian-bagian tertentu saja. Nah, dalam proses perawatan ini pula, biasanya juga dilakukan proses penambahan warna atau pemutihan kain. Namun, tidak semua industri pembuatan kain melakukan proses ini. Sebab, ada juga industri pembuatan kain yang melakukan pemutihan ketika bahan kain masih berbentuk kapas. Proses pemutihannya adalah ketika masih menjadi kapas dan belum ditenun.

8. Dyeing
Setelah melalui proses perawatan, proses selanjutnya adalah proses pemolesan warna dan pegangan. Proses ini biasanya disebut sebagai proses dyeing. Dalam proses pembuatan kain, proses ini biasanya adalah proses terakhir. Akan tetapi, di sebagian industri kain, ada pula yang menerapkan proses terakhir setelah ini. Apa itu? Lihat proses ke sembilan.
9. Penyelesaian atau Finishing
Nah, di sebagian industri kain, ada juga yang menerapkan proses ini, yakni proses penyelesaian tau finishing. Proses ini mencakup proses penambahan bahan kimia atau bahan lainnya. Gunanya untuk apa? Gunanya tentu saja adalah untuk menghasilkan kain yang terjaga kualitasnnya, terutama agar tahan sinar matahari.
Nah, itu tadi bahan-bahan kain dan proses pembuatan kain. Cukup mudah dan simple bukan? Tentu saja, kalau kita tidak ikutan produksi dan hanya baca informasinya, memang akan terlihat mudah dan simple. Akan tetapi, bagi industri kain, proses pengumpulan bahan kain dan proses pembuatan kain ini tentu saja ribet. Sebab, melibatkan ratusan bahkan ribuan karyawan. hehe 


Download File Kliping Ini dalam bentuk Word Pada Link Berikut :
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻



Proses Pembuatan Kaca dan Bahan Dasarnya
Bagaimana proses pembuatan kaca itu? Apa pula bahan-bahan dasar yang dibutuhkannya? Kaca pada dasarnya merupakan material padat yang bening/transparan dan bersifat rapuh. Kaca bisa dibentuk menjadi berbagai perabotan dan peralan rumah tangga. Contohnya yaitu jendela, pintu, gelas, piring, dan lain-lain.
Tahukah Anda, kaca dibuat dengan langkah-langkah tertentu. Proses ini bertujuan untuk mencampur bahan-bahan pembentuk kaca secara merata, lalu merubah wujudnya menjadi cair. Dalam kondisi ini, bahan-bahan tersebut mudah sekali dicetak. Selang beberapa detik kemudian, kaca pun akan terbentuk sesuai dengan desain cetakannya.



Setidaknya, terdapat 7 bahan dasar untuk membuat kaca antara lain :
  1. Pasir
Pasir yang dipakai untuk membuat kaca merupakan pasir kuarsa yang sangat murni. Kandungan besi maksimal pada pasir untuk membuat barang pecah belah adalah 0,45 persen. Sedangkan untuk membuat kaca optik, kandungan besi di dalam pasir tersebut harus kurang dari 0,015 persen. Perlu diketahui, besi yang terkandung di dalam pasir kuarsa akan mempengaruhi warna kaca yang ditimbulkannya.
  1. Soda
Soda (Na2O) yang digunakan untuk membikin kaca biasanya berasal dari soda abu padat (Na2CO3). Soda juga bisa diperoleh dari natrium nitrat, bikarbonat, dan kerak garam.
  1. Feldspar
Feldspar (P2O.Al2O3.6SiO2) merupakan material yang cukup murah dan murah. Seluruh bagian dari feldsper merupakan oksida yang dapat dipakai untuk membentuk kaca.
  1. Borax
Borax digunakan sebagai bahan tambahan untuk menambahkan Na2O dan boron oksida. Borax memiliki daya fluks yang kuat, menurunkan sifat ekspansi kaca, dan meningkatkan ketahanannya terhadap aksi kimia.
  1. Salt cake
Salt cake atau kerak garam merupakan bahan tambahan yang berguna untuk membersihkan buih yang timbul karena mengganggu tanur tangki. Bahan ini harus digunakan bersama dengan karbon supaya tereduksi menjadi sulfat.
  1. Kulet
Kulet adalah kaca yang dihancurkan. Kaca ini biasanya berasal dari barang-barang pecah belah yang telah rusak dan dihancurkan. Gunanya adalah membantu proses peleburan.
  1. Blok refraktori
Berikut ini langkah-langkah dalam membuat kaca :

Langkah 1. Penyiapan Pasir Kuarsa
Pasir kuarsa sering disebut pula sebagai pasir silika. Pasir ini menjadi bahan baku utama dalam proses pembuatan kaca. Pasir yang tidak mengandung besi mampu menghasilkan potongan kaca yang transparan. Sedangkan kandungan besi yang terlalu banyak pada pasir ini bisa menyebabkan warna kaca yang dihasilkannya akan menjadi kehijau-hijauan. Jika Anda terpaksa menggunakan pasir kuarsa yang mengandung besi, Anda bisa menambahkan sedikit mangan dioksida untuk memperbaiki kualitas kaca yang dihasilkan dari pasir tersebut.
Langkah 2. Penambahan Natrium Karbonat dan Kalsium Oksida
Soda (natrium karbonat) berguna untuk menurunkan suhu sesuai yang diinginkan pada saat proses pembuatan kaca tengah berlangsung. Sedangkan kalsium oksida berfungsi sebagai pencegah adanya air yang melewati kaca ini. Anda juga bisa menambahkan oksida magnesium atau aluminium untuk meningkatkan daya tahan kaca. Bahan-bahan aditif di atas tidak boleh ditambahkan ke campuran adonan kaca lebih dari 26-30 persen.
Langkah 3. Penambahan Bahan-bahan Kimia Tertentu
Bahan-bahan kimia tertentu bisa ditambahkan ke dalam adonan kaca agar karakteristik kaca yang dihasilkannya sesuai dengan keinginan kita. Penambahan paling banyak biasanya dilakukan manakala kita ingin membuat kaca dekoratif. Misalnya oksida berfungsi untuk menciptakan kilauan pada permukaan kaca, mempermudah pemotongan kaca, dan menurunkan titik lelehnya. Sementara oksida lantanum mengandung manfaat untuk membantu kaca dalam menyerap panas.
Langkah 4. Penambahan Bahan Kimia Pemberi Warna
Menariknya beberapa pengrajin kaca sengaja menambahkan bahan-bahan kimia tertentu untuk mengubah warna kaca sehingga tidak hanya berwarna bening. Seperti yang sudah kami sebutkan sebelumnya, kandungan besi pada pasir kuarsa menyebabkan kaca yang dihasilkannya akan berwarna kehijau-hijauan. Sedangkan sulfur mampu memberikan warna kekuning-kuningan atau kecokelat-cokelatan tergantung jumlah yang digunakan. Untuk membuat warna kehitam-hitaman, Anda bisa menambahkan karbon dalam jumlah tertentu.
Langkah 5. Persiapan Proses Pembuatan
Bahan-bahan dasar pembentuk kaca lantas dimasukkan ke dalam wadah khusus yang bersifat tahan panas. Jangan lupa tambahkan pula bahan-bahan kimia aditif untuk menciptakan kesan tertentu pada kaca yang ingin dibuat. Jika Anda menginginkan kaca yang berwarna bening sempurna, kuncinya terletak pada tingkat kemurnian pasir kuarsa yang digunakan.
Langkah 6. Pemasakan Bahan Menjadi Cairan
Proses pemasakan bahan-bahan pembentuk adonan kaca biasanya dilakukan menggunakan tungku gas atau listrik. Semua campuran bahan tadi umumnya akan mencair pada suhu lebih dari 2.300 derajat celsius. Untuk menghindari terjadinya kecacatan produk, suhu ini lantas diturunkan hingga mencapai 1.500 derajat celsius menggunakan natrium karbonat.
Langkah 7. Penyeragaman Cairan Kaca dan Gelembung
Agar adonan kaca yang tengah dimasak memiliki sifat yang homogen, maka pengadukan harus senantiasa dilakukan secara berkala dengan gerakan yang konsisten. Penambahan bahan-bahan kimia seperti natrium klorida, natrium sulfat, atau antimon oksida dapat membantu proses pembuatan kaca tersebut.
Langkah 8. Pencetakan Cairan Kaca
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membentuk kaca sesuai yang kita inginkan. Salah satunya adalah menuangkan cairan kaca yang sudah jadi ke dalam cetakan khusus. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Bangsa Mesir dan masih tetap diaplikasikan hingga saat ini. Mengingat cairan kaca panas ini mudah sekali mengalami penurunan suhu dan berubah menjadi padat, langkah ini harus dilakukan secara cepat dengan perhitungan yang sangat akurat.
Langkah 9. Pendinginan Kaca
Setelah dipastikan desain kaca yang dibuat telah sesuai dengan keinginan kita, selanjutnya adalah mendinginkan kaca tersebut. Anda cukup mendiamkan cairan kaca tadi selama beberapa saat di tempat yang aman. Sekali lagi kami ingatkan bahwa cairan kaca yang panas mudah sekali dingin dan berubah wujud menjadi padat.
Langkah 10. Pembersihan Kaca
Proses mensterilkan kaca disebut annealing. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan seluruh titik rawan yang mudah pecah yang mungkin terbentuk selama proses pembuatan kaca tersebut berlangsung. Setelah proses ini selesai dikerjakan, berikutnya Anda bisa mengolah kaca ini sedemikian rupa seperti menghias atau meningkatkan ketebalannya.


Download File Kliping Ini dalam bentuk Word Pada Link Berikut :
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻


No comments:

Post a Comment