Friday, May 24, 2019

Makalah Agama Islam Tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Cendikiawan Islam pada masa bani Umayyah dan bani abbasyah



KATA PENGANTAR


Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul ”Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada masa Ummaiyah dan masa Abbasiyah”. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya.
Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi tim penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.


Makassar,       April 2019




Penyusun















BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dalam sejarah terungkap bahwa Islam bukan hanya sebagai konsepsi ajaran semata akan tetapi Islam telah menjadi peradaban besar. Dunia intelektual mengakui bahwa peradaban yang tinggi tersebut ternyata banyak memberikan konstribusi yang begitu besar terhadap lajunya perkembangan ilmu pengetahuan. Pada saat Eropa atau peradaban barat tengah mengalami kegelapan atau ketumpulan ilmu, di daerah Islam telah berada pada kemajuan ilmu pengetahuan yang cukup pesat seperti pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Terbentuknya Daulah Abbasiyah ini adalah kelanjutan dari Daulah Bani Umaiyyah. Dinamakan Khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Daulah Abbasiyah ini didirikan oleh Abdullah Al-Saffah Ibnu Muhammad bin Ali Ibnu Abdullah Ibnu Al-Abbas, dan berkuasa dalam rentang waktu yang cukup lama yakni dari tahun 132 H. / 750 M – 656 H. / 1258 M.


B. Tujuan
Adapun pembuatan makalah ini bertujuan untuk :
1.    Untuk mengetahui Sejarah pada masa Ummaitah
2.    Untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Ummaiyah
3.    untuk mengetahui sejarah pada masa daulah abbasiyah
4.    untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan pada masa abbasiyah




















BAB II
PEMBAHASAN

Perkembangan ilmu pengetahuan pada Dinasti Umayyah
      Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 M sampai 750 M di Jazirah Arab dan sekitarnya, serta dari 756 M sampai 1031 M di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah I. Masa ini sebagai masa perkembangan peradaban Islam, yang meliputi tiga benua yaitu, Asia, Afrika, dan Eropa. Masa ini berlangsung selama 90 tahun (661 M – 750 M) dan berpusat di Damaskus.
Pada masa ini perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat besar. Penyusunan ilmu pengetahuan lebih sistematis dan dilakukan pembidangan ilmu pengetahuan sebagai berikut;
1.      Ilmu pengetahuan bidang agama yaitu, segala ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
2.      Ilmu pengetahuan bidang sejarah yaitu, segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
3.      Ilmu pengetahuan bidang bahasa yaitu, segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, sharaf dan lain-lain.
4.      Ilmu pengetahuan bidang filsafat yaitu, segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq, kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu lain yang berhubungan dengan ilmu itu.
   Penggolongan ilmu tersebut dimaksudkan untuk mengklasifikasikan ilmu sesuai dengan karakteristiknya, semuanya saling berhubungan satu dengan yang lainnya, karena satu ilmu tidak bisa berdiri sendiri.Sehingga ilmu pengetahuan sudah menjadi satu keahlian, masuk kedalam bidang pemahaman dan pemikiran yang memerlukan sitematika dan penyusunan.
Ilmu pengetahuan yang muncul pada zaman Dinasti Umayyah
    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa Bani Umayyah pada umumnya berjalan seperti di zaman permulaan Islam, hanya pada perintisan dalam ilmu logika, yaitu filsafat dan ilmu eksak.  Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini masih berada pada tahap awal. Para pembesar Bani Umayyah kurang tertarik pada ilmu pengetahuan kecuali Yazid bin Mua’wiyah dan Umar bin Abdul Aziz.  Ilmu yang berkembang di zaman Bani Umayyah adalah ilmu syari’ah, ilmu lisaniyah, dan ilmu tarikh. Selain itu berkembang pula ilmu qiraat, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu nahwu, ilmu bumi, dan ilmu-ilmu yang disalin dari bahasa asing.  Kota yang menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan ini antara lain Damaskus, Kuffah, Makkah, Madinah, Mesir, Cordova, Granada, dan lain-lain, dengan masjid sebagai pusat pengajarannya.
Ilmu pengetahuan yang berkembang di zaman Dinasti Umayyah dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Al Ulumus Syari’ah, yaitu ilmu-ilmu Agama Islam, seperti Fiqih, tafsir Al-Qur’an dan sebagainya.
b. Al Ulumul Lisaniyah, yaitu ilmu-ilmu yang perlu untuk memastikan bacaan Al Qur’an, menafsirkan dan memahaminya.
c. Tarikh, yang meliputi tarikh kaum muslimin dan segala perjuangannya, riwayat hidup pemimpin-pemimpin mereka, serta tarikh umum, yaitu tarikh bangsa-bangsa lain.
d. Ilmu Qiraat, yaitu ilmu yang membahas tentang membaca Al Qur’an. Pada masa ini termasyhurlah tujuh macam bacaan Al Qur’an yang terkenal dengan Qiraat Sab’ah yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan, yaitu cara bacaan yang dinisbahkan kepada cara membaca yang dikemukakan oleh tujuh orang ahli qiraat, yaitu Abdullah bin Katsir (w. 120 H), Ashim bin Abi Nujud (w. 127 H), Abdullah bin Amir Al Jashsahash (w. 118 H), Ali bin Hamzah Abu Hasan al Kisai (w. 189 H), Hamzah bin Habib Az-Zaiyat (w. 156 H), Abu Amr bin Al Ala (w. 155 H), dan Nafi bin Na’im (169 H).
e. Ilmu Tafsir, yaitu ilmu yang membahas tentang undang-undang dalam menafsirkan Al Qur’an.  Pada masa ini muncul ahli Tafsir yang terkenal seperti Ibnu Abbas dari kalangan sahabat (w. 68 H), Mujahid (w. 104 H), dan Muhammad Al-Baqir bin Ali bin Ali bin Husain dari kalangan syi’ah.
f. Ilmu Hadis, yaitu ilmu yang ditujukan untuk menjelaskan riwayat dan sanad al-Hadis, karena banyak Hadis yang bukan berasal dari Rasulullah.  Diantara Muhaddis yang terkenal pada masa ini ialah Az Zuhry (w. 123 H), Ibnu Abi Malikah (w. 123 H), Al Auza’i Abdur Rahman bin Amr (w. 159 H), Hasan Basri (w. 110 H), dan As Sya’by (w. 104 H).
g. Ilmu Nahwu, yaitu ilmu yang menjelaskan cara membaca suatu kalimat didalam berbagai posisinya.  Ilmu ini muncul setelah banyak bangsa-bangsa yang bukan Arab masuk Islam dan negeri-negeri mereka menjadi wilayah negara Islam.  Adapun penyusun ilmu Nahwu yang pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang adalah Abu Aswad Ad Dualy (w. 69 H).  Beliau belajar dari Ali bin Abi Thalib, sehingga ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai Bapaknya ilmu Nahwu.
h. Ilmu Bumi (al- Jughrafia).  Ilmu ini muncul oleh karena adanya kebutuhan kaum muslimin pada saat itu, yaitu untuk keperluan menunaikan ibadah Haji, menuntut ilmu dan dakwah, seseorang agar tidak tersesat di perjalanan, perlu kepada ilmu yang membahas tentang keadaan letak wilayah.  Ilmu ini pada zaman Bani Umayyah baru dalam tahap merintis.
i. Al-Ulumud Dakhilah, yaitu ilmu-ilmu yang disalin dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab dan disempurnakannya untuk kepentingan kebudayaan Islam. Diantara ilmu asing yang diterjemahkan itu adalah ilmu-ilmu pengobatan dan kimia. Diantara tokoh yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah (w. 86 H). 

Tokoh/Ilmuwan Muslim Pada Masa Bani Umayyah
Dalam sepak terjang yang dilakukan Bani Umayyah di bidang pendidikan Islam, banyak melahirkan para ulama yang ahli di bidangnya, mereka bertanggung jawab terhadap kelancaran jalannya pendidikan, Dalam hal ini, Ulama memikul tugas mengajar dan memberikan bimbingan serta pimpinan kepada masyarakat. Ulama bekerja atas dasar kesadaran dan tanggung jawab agama, bukan atas dasar pengangkatan dan penunjukkan pemerintah
Diantara ulama yang menjadi pendidik sekaigus sebagai ilmuan pada waktu itu adalah:
a)  Seni Bahasa dan Sastra
Pada masa pemerintahan Abd. Malik bin Marwan, bahasa arab digunakan sebagai administrasi negara. Dengan penggunaan bahasa Arab yang semakin luas dibutuhkan suatu panduan bahasa yang dapat digunakan semua orang. Hal itu mendorong lahirnya seorang ahli bahasa terkemuka yang bernama Imam Syibawaihi, yang mengarang sebuah buku yang berisi pokok-pokok kaidah bahasa Arab yang berjudul al-Kitab. Disamping itu, pada pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia terdapat juga ahli bahasa yang terkenal, antara lain: Ibnu Malik pengarang kitab Alfiah, Ibn Sayyidih, Ibn Khuruf, Ibn Al-Haj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Garnathi, al-Farisi, al-Zujaj. Di bidang sastra juga mengalami kemajuan. Hal itu ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan yang terkemuka, seperti:
a. Qays Bin Mullawah menyusun buku yang berjudul Laila Majnun, wafat pada tahun 699 M.
b. Jamil Al-Uzri (701 M)
c. Al-Akhtal (701 M)
d. Umar Ibn Abi Rubi’ah (719 M)
e. Al-Farazdaq (732 M)
f. Ibnu Al-Muqoffa (756 M)
g. Ibnu Al-Jarir (792 M)
b. Ilmu Tafsir
Ilmu tafsir memliki makna yang strategis, disamping karena luasnya faktor  kawasan Islam ke beberapa daerah luar Arab yang membawa konsekuensi lemahnya seni sastra Arab. Hal ini menyebabkan pencemaran bahasa Al-Qur'an dan makna Al-Qur'an yang digunakan untuk kepentingan golongan tertentu. Diantara tokoh-tokohnya adalah Mujahid, Athak bin Abu Rabah, Ikrimah, Qatadah, Said bin Jubair, Masruq bin al-Ajda', Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam, Abd Malik Ibnu Juraid al-Maliki.  Ilmu tafsir pada masa itu belum mengalami perkembangan pesat sebagaimana terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyyah. Tafsir berkembang dari lisan ke lisan, sampai akhirnya tertulis. Ahli tafsir yang pertama pada masa itu ialah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat nabi sekaligus paman nabi yang terkenal.
c. Ilmu Hadits
Perkembangan ilmu Hadits sendiri terjadi setelah diketahui banyaknya hadits palsu yang dibuat oleh kelompok tertentu untuk kepentingan politik. Sebelumnya hadits hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut. Setengah sahabat dan para pelajar ada yang mencatat hadits-hadits itu dalam buku catatannya. Atas dasar itulah dirasa penting untuk menyusun atau mengumpulkan dan membukukan Hadits-hadits tertentu saja, yang dikira kuat dalam sanad dan matannya. Diantara para ahli hadits yang terkenal pada masa itu ialah Muhammad bin Syihab al-Zuhri, Hadits ada al-Zuhry, Abu Zubair Muhammad bin Muslim bin Idris.
d. Fiqih
 Pada periode Umayyah, telah melahirkan sejumlah mujtahid fiqih, terbukti ketika akhir masa Umayyah telah akhir tokoh madzhab seperti Imam Abu Hanifah di Irak dan Imam Malik Ibu Anas di Madinaah. Sedangkan Imam Syafi'i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal lahir pada masa Dinasti Abbasiyyah.Dan di bidang fiqih, Umayyah di Spanyol Islam menganut mazhab Maliki, maka para ulama memperkenalkan materi-materi fiqih dari mazhab Imam Maliki. Para Ulama yang memperkenalkan mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd Rahman. Ahli-ahli fiqih lainnya adalah Abu bakar ibn Al-Quthiyah, Munzir ibn Said Al-Baluthi dan Ibn Hazm, kemudian abu bakar al quthiyah, munzir bin sa,if al-baluthi dan ibnu hazim.
e. ilmu kimia
Khalifah Yazid bin Muawiyyah seorang khalifah yang pertama kali meyuruh untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Beliau mendatangkan beberapa orang Romawi yang bermukim di mesir. Diantaranya  Maryanis seorang pendeta yang mengajarkan ilmu kimia.
f. Ilmu Kedokteran
Peduduk Syam di Zaman ini telah banyak menyalin bermacam ilmu ke dalam bahasa Arab, seperti: ilmu-ilmu kedokteran misalnya karangan Qais Ahrun dalam bahasa Suryani yang disalin ke dalam bahasa Arab Masajuwaihi.
g. Ilmu Filsafat
Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid, tokoh kedua adalah Abu Bakr bin Thufail yang banyak menulis masalh kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang filsafat di Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova. Ia menafsirkan maskah – naskah aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang keserasian filsafat agama.
     h. Musik dan Kesenian
Dibidang ini dikenal seorang tokoh bernama Hasan bin Nafi yang berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu dan sering mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga kemasyhurannya makin meluas


Perkembangan Dan Kemajuan Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah
Masa Bani abbasiyah merupakan puncak perkembangan ilmu pengetahuan dan ajaran islam. Hal ini disebabkan Harun Al-Rasyid memanfaatkan kekayaanya untuk membangun rumah sakit, untuk keperluan  social, untuk mendirikan lembaga pendidikan kedokteran, farmasi, ilmu astronomi, matematika, kritik sastra. Ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di Baghdad tetapi juga di Basrah, Jundabir,Kufah Dan Harran. Pada masa kekuasaan al-Makmun banyak di datangkan penterjemah dari berbagai Negara untuk menterjemahkan buku-buku yang menggunakan bahasa Yunani. Al-muk’min juga membangun beberapa sekolah. Karya besar Al-ma’mun adalah membangun Bait Al-Hikmah yang digunakan sebagai perpustakaan besar dan perpustakaan umum  yang disebut darul ilmi. Bait Al-Hikmah juga sebagai pusat penterjemah buku-buku. Bait Al-Hikmah juga berfungsi sebagai perguruan tinggi yang memili banyak buku yang tidak dapat ditemukan ditempat lain. Sehingga banyak orang yang dating ke Baghdad untuk menimba ilmu.
Pada masa Bani Abbasiyah banyak didirikan institusi pendidikan. Harun Al-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah sebagai pusat penterjemahan buku-buku asing dan pusat pengajian. Al-Ma’mun berhasil menjadikan Baghdad sebagai kota pusat pengetahuan yang ramai dikunjungi orang dari berbagai kota di dunia. Bani Saljuk dan perdana mentri Nizam Al-Muluk berhasil mendirikan madrasah Nizamiyyah sebagai institusi pendidikan tinggi di kota Naisabur. Pada masa ini juga banyak ditemui khuttab dan tempat pengajian umum, perpustakaan, maupun kedai-kedai buku disekitar Baghdad.
Pendidikan pada masa Bani Abbasiyah berbeda dengan pendidikan pada masa Bani Umayyah. Pada masa ini guru mendapat gaji yang sangat tinggi. Banyak guru yang belajar ke luar kota untuk menambah pengetahuan mereka. Sebagian besar guru-guru pada masa khalifah Bani Abbasiyah mencintai kesastraan dan ilmu-ilmu pengetahuan dan bahasa administrasi sehingga banyak orang non muslim yang sedang belajar di Baghdad menjadi muallaf.
Pendidikan pada masa Bani Abbasiyah berlangsung dikhutbab sebagai tempat belajar membaca, menulis, mengaji, membaca iqra, dan membaca Al-quran. Bagi mereka yang sudah pandai membaca akan diajarkan ilmu pengetahuan lain, seperti kimia, matematika, astronomi, sastra, dan ilmu filsafah.
Pendidikan pada masa Bani Abbasiyah banyak melahirkan ilmuan dan temuan baru. Al-Fazari berhasil mengembangkan ilmu astrologi dan sebagai astronom islam pertama yang berhasil menyusun astrolobe. Dalam bidang Kedokteran Ibnu Sina berhasil menulis buku al-Qanun fi al-Tiib yang menjadi buku fenomenal. Ibnu Sina juga menemukan system peredaran darah pada manusia. Dalam bidang Kimia Jabir ibn Hayyan, mengemukakan pendapatnya bahwa logam seperti besi, tembaga dan timah dapat diubah menjadi perak atau emas. Dan masih banyak lagi ilmuan besar beserta temuan hebatnya yang lahir pada masa ini.[1][1]
1.    Tujuan Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah
Pada masa Nabi masa kholifah rasyidin dan umayyah, tujuan pendidikan hanya satu, yaitu keagamaan semata. Mengajar dan belajar karena Allah dan mengharap keridhoan-Nya. Namun pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut :
-          Tujuan Keagamaan Dan Akhlak
Anak-anak dididik dan diajar membaca atau menghafal Al-Quran merupakan suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikuti ajaran agama dan berakhlak menurut agama.
-          Tujuan Kemasyarakatan
Para pemuda pada masa itu belajar dan menuntut ilmu supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yng penuh dengan kejahilan menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menuju masyarakat yang maju dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ilmu-ilmu yang diajarkan di Madrasah bukan saja ilmu agama dan Bahasa Arab, bahkan juga diajarkan ilmu duniawi yang berfaedah untuk kemajuan masyarakat.
-          Cinta Akan Ilmu Pengetahuan
Masyarakat pada saat itu belajar tidak mengharapkan apa-apa selain dari pada memperdalam ilmu pengetahuan. Mereka merantau keseluruh negeri islam untuk menuntut ilmu tanpa memperdulikan susah payah dalam perjalanan yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka tidak lain untuk memuaskan jiwanya untuk menuntut ilmu.
-          Tujuan Kebendaan
Pada masa itu mereka menuntut ilmu supaya mendapatkan penghidupan yang layak dan pangkat yang tinggi, bahkan kalau memungkinkan mendapat kemegahan dan kekuasaan di dunia ini, sebagaimana tujuan sebagian orang pada masa sekarang.
-          Tingkat-Tingkat Pengajaran
Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu :
a.    Tingkat sekolah rendah, namanya kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping kuttab ada pula anak-anak belajar dirumah, di istana, di toko-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun yang dipelajari meliputi : membaca Al-Quran dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran islam, menulis kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung dan juga pokok-pokok nahwu shorof ala kadarnya.
b.    Tingkat sekolah menengah, yaitu masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di khuttab. Adapun pelajaran yang di ajarkan meliputi : Al-Quran, Bahasa Arab, Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falaq, Sejarah, ilmu alam, kedokteran, dan music.
c.    Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Baghdad dan Darul Ilmu di Mesir ( Kairo ), dimasjid dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan :
1.        Jurusan ilmu-ilmu agama dan Bahsa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun menamainya ilmu itu dengan Ilmu Naqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi : Tafsir Al-Quran, Fiqih, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan juga Bahasa Arab.
2.        Jurusan ilmu-ilmu hikmah ( filsafat ), Ibnu Khaldun menamainya dengan Ilmu Aqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi ; Mantiq, ilmu alam dan kima, music, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, Falak, Ilahiyah ( ketuhanan ), ilmu hewan, dan juga kedokteran.
3.        Perkembangan ilmu pengetahuan dimasa Abbasiyah
Terdapat perkembangan ilmu pengetahuan, antara lain :
a.          Menerjemahkan buku-buku dari bahasa asing ( Yunani, Syiria Ibrani, Persia, India, Mesir, dan lain-lain ) ke dalam Bahasa Arab. Buku-buku yang diterjemahkan meliputi ilmu kedokteran, mantiq (logika), filsafat, aljabar, pesawat, ilmu ukur, ilmu alam, ilmu kimia, ilmu hewan, dan ilmu falak.
b.         Pengetahuan keagamaan seperti fikih, usul fikih, hadis, mustalah hadis, tafsir, dan ilmu bahasa semakin berkembang karena di zaman Bani Umayyah usaha ini telah dirintis. Pada masa ini muncul ulama-ulama terkenal seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Bukhari, Imam Muslim, Hasan Al-Basri, Abu Bakar Ar Razy, dan lain-lain.
c.          Sejak upaya penerjemahan meluas, kaum muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut memperluas penyelidikan ilmiah, memperbaiki atas kekeliruan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat-pendapat atau ide baru. Tokoh-tokohnya antara lain :
Ilmuan untuk mengungkapkan rahasia alam, yang dimulai dengan mencari manuskrip-manuskrip klasik peninggalan ilmuan Yunani kuno, seperti karya Aristoteles, Plato, Socrates, dan sebagainya. Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian dibawa ke Baghdad, lalu diterjemahkan dan dipelajari di perpustakaan yang merangkap sebagai lembaga penelitian, Baitul Hikmah, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru.
Dalam bidang filsafat antara lain tercatat Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna ) dan Ibnu Rusydi (Averroes). Di bidang sains ada Al-Farghani, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Umar Khayyam dan Al-Thusi. Di bidang kedokteran tercatat nama Al-Thabari, Ar-Razi (Rhazes), Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi (Averroes ). Di bidang ilu kimia terkenal nama Ibnu Hayyan. Dibidang optika ada Ibnu Haytsam. Di bidang geogafi ada Al-Khawarizmi, Al-Ya’qubi, dan Al-Mus’udi. Dalam bidang ilmu kedokteran hewan ada ada Al-Jahiz, Ibnu Sina dan seterusnya yang tidak muat lembaran ini jika diurut satu persatuan.
Dalam bidang ilmu fikih terkenal nama Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal. Dalam ilmu kalam ada Washil bin Atha, Ibnu Huzail, Al-Asy’ari, dan Maturidi. Dalam ilmu tafsir ada Al-Thabari dan Zamakhsyari. Dalam ilmu hadits, yang paling popular adalah bukhori dan muslim. Dalam ilmu tasawuf terdapat Rabi’ul Al-Adawiyah, Ibnu ‘Arabi, Al-Hallaj, Hasan Al-Bashri, dan Abu Yazid Al-Bustami.
a.         Sejak akhir abad ke-10, muncul sejumlah tokoh wanita dibidang ketatanegaraan dan politik seperti Khaizura, Ulayyah, Zubaidah, dan Bahrun.
b.        Pada masa Bani Abbasiyah, juga terjadi kemajuan dibidang perdagangan dan melalui ketiga kota ini dilakukan usaha ekspor.
c.         Bidang pendidikan mendapat perhatian yang sangat besar. Sekitar 30.000 masjid di Baghdad berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran pada tingkat dasar.
d.        Kurikulum Pendidikan Pada Masa Abbasiyah

Kurikulum yang dikembangkan dalam pendidikan islam saat itu :
1.         Kurikulum pendidikan tingkat dasar yang terdiri dari pelajaran membaca, menulis, tata bahasa, hadits, prinsip-prinsip dasar Matematika dan pelajaran syair. Ada juga yang menambahnya dengan mata pelajaran nahwu dan cerita-cerita.ada juga kurikulum yang dikembangkan sebatas menghapal Al-Quran dan mengkaji dasar-dasar pokok agama.
2.         Kurikulum pendidikan tinggi. Pada pendidikan tinggi, kurikulum sejalan dengan fase dimana dunia islam mempersiapkan diri untuk memperdalam masalah agama, karena ilmu yang erat kaitannya dengan agama seperti bahasa, sejarah, tafsir, dan hadis juga diajarkan.[2][2]

A.  Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah
1.      Faktor- Faktor Yang Mendorong Kemajuan Pendidikan.
  1. Adanya kekayaan yang melimpah dari  pertanian atau pun perdagangan, dengan dana dari hasil kekayaan tersebut para khalifah dapat dengan mudah merencanakan  dalam pengembangan ilmu pengetahuan
  2. Perhatian beberapa khalifah yang besar kepada ilmu pengetahuan seperti Al-Mansyur (754-775 M ), Harun Al- Rasyid (775-785 M), Al-Watiq (824-847) Dan lain – lain. Dan tak kalah pentingnya ia pengaruh keluarga Barmak, yang berasal dari Balkh (Bactra) pusat ilmu pengetahuan dan filsafat yunani di Bagdad mereka menjadi pendidik bagi anak – anak khalifah.
  3. Kecenderungan umat islam didalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan besar sekali, maka banyaklah ulama disetiap kota pada masa itu
  4. Lancarnya hubungan kerja sama dengan negara – negara maju seperti India, dan lainya.
  5. Umat islam pada masa itu telah bercampur baur dengan orang – orang Persia terutama Mawali mereka inilah yang memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa mereka kedalam bahas arab[3][3].
Dibeberapa faktor diatas merupakan faktor yang mendorong kemajuan pendidikan pada saat ini.

2.      Lembaga - Lembaga  Pendidikan Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah
a.       Kutab Atau Maktab
Berasal dari kata kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar.menurut catatan sejarah kuttab telah ada sejak pra islam.
Kutab pada masa ini merupakan kelanjutan dari kuttanb masa daulah ummayyah. Para ahli sejarah pendidikan islam sepakat bahwa keduanya merupakan istilah yang sama dalam arti lembaga pendidikan islam tingkat dasar yang mengajarkan memebaca dan menuliskemudian meningkatkan kepada pengajaran al-quran dan pengetahuan agama tingkat dasar. Dan ada yang berpendapat bahwa kuttab adalah istilah lembaga pendidikan klasik atau dahulu dan muktab adalah istilah dari lembaga pendidikan modern.

b.      Masjid
Fungsi masjid yang dijelaskan dalam berbagai linteratur bukan sekedar berfungsi sebagai tempat beribadah saja melainkan sebagai tempat pusat kegiatan kependidikan ilmu agama dan kebudayaan ataupun seni.
Sistem pembelajaran dimasjid adalah halaqoh, dan materi pembelajarannya seperti nahwu, ilmu kalam, fiqih dan lain lain.dan sisitem ini terjadi di masjid al kasai dan al manshur di bagdad.
Selanjut seiring bertambahnya pengetahuan dan zaman maka bertambahlah ilmu – ilmu yang muncul seperti ilmu kedokteran dan bahasa dan lain sebagainya.

c.       Pendidikan Rendah Di Istana (Qurhur)
Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak – anak para pejabat didasarkan atas pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyeiapkan peserta didik agar mampu melaksanakan tugas – tugasnya kelak dewasa. oleh karena itu para pejabat istanamemanggil guru – guru khusus agar dapat memberi ilmu pengetahuan dan pendidikan kepada anak – anak pejabat tersebut.

d.      Toko Toko Buku ( Al-Hawarits Al- Waraqin )
Selama masa kejayaan daulah abbasiyah toko – toko buku berkembang dengan pesat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pendidikan dan pengetahuan.ditoko – toko buku tersebut tidak hanya sebagai pusat  memperjualkan beli bukunya saja melainkan sebagai tempat studi dengan lingkaran – lingkaran berkembangnya studi didalamnya. Dan yang memepunyai toko tersebut rumahnya dijadikan sebagai tuan rumah dan sekaligus sebagai tenaga pengajar atau guru dan sebagian besar pada saat ini yang memepunyai toko adalah para ulama yang berpengetahuan luas mengenai ilmu pendidikan dan pengetahuan.

e.       Perpustakaan (Al-Maktabah)
Salah satu perpustakaan yang sangat terkenal, yaitu bait al- hikmah, didirikan oleh oleh Harun Al-Rasyid. Perpustakaan dikatakan sebagai lembaga pendidikan ilmu pengetahuaan yang sebagaimana  dapat diketahui pada saat ini harga buku – buku masih sangatklah mahal, dan masih ditulis tangan lamgsung sehingga orang – orang kaya saja yang mampu memebelinya secara pribadi. Dan bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memebeli buku tersebut mereka memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber ilmu pendidikan dan pengetahuan.
Perpustakaan tersebut dikelola oleh beberapa ahli dari berbagai latar agama dan kebudayaan seperti yuhana ibn maskawih ( nasrani suryani ), menerjemahkan buku kedokteran lama, abu nubikht (persia) menerjemahkan buku – buku bahasa persia.
Dimasa Al- ma’mun perkembangan perpustakaan ini semakin lebih pesat  lagi setelah adanya kontak dari berbagai daerah dalam usaha memperoleh buku – buku dan berhasil menerjemahkannya.
f.       Salun Kesusasteraan (Al -Shalunat Al-Adbiyah)
Salun kesusasteraan adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh para kholifah untuk membahas tentang berbagai macam ilmu penegetahuan.
Pada masa harun al-rasyid (170-193) majelis sastera ini mengalami kemajuan yang luar biasa karena pada saat itu khalifahnya sendiri merupakan ahli ilmu pengetahuan yang cerdas dan sehingga beliaulah yang aktif didalammajlis tersebut.[4][4]

B.       Ilmu –Ilmu Yang Tumbuh Dan Berkembang Pada Masa Daulah Abbasiyah
1.    Ilmu Agama
a.    Ilmu Tafsir
Tumbuh dan berkembangnya ilmu tafsir pada abad ke-3 hijriyah dalam rangka memenuhi kebutuhan hal dasar yang mendesak untuk memahami arti dari ayat – ayat al-quran sebagai akibat dari semakin banyaknya pemeluk islam bukan arab.
b.    Ilmu Hadits
Beberapa karya besar yang terkenal dalam ilmu hadits adalah  shahih al-bukhari, shahih al-muslim, sunan ibnu majjah, sunan abu daud dan lain sebagainya.
c.    Ilmu Qira’at
Ilmu ini lahir karena perbedaan bacaan antara orang arab dan orang non arab. Tokoh yang terkenal pada ilmu ini adalah nafi’, ibnu kasir, ashim hamzah dan lain lain.
d.   Ilmu Kalam
Munculnya ilmu ini mempunyai kaitan erat dengan masuknya bangsa – bangsa yang telah beradaptasi denagn islam mereka menuntut menjelaskan akidah islamiyah, tidak cukup dengan dasar – dasar logika dan pemikiran filsafat saja.
e.    Ilmu Fiqih
Munculnya ilmu ini sehubungan dengan timbulnya berbagai masalah dikalangan umat islam pada abad ke-2 hijriyah jarak antara lahirnya islam dengan daulah abbasiyah cukup jauh dalam hal ini diperlukan adanya kepastian dalam hal syara’ sehubungan dengan masalh – masalh  yang timbul pada saat itu.
Masa – masa selanjutnya menunjukan betapa berkembangnya ilmu fiqih tersebut dengan munculnya beberapa tokoh yang masyhur yakni imam abu hanifah, imam malik, imam syafii dan lain lain.
f.     Ilmu Tasawuf
mereka para ahli tasawuf ini menyampingkan kehidupan duniawi, hidup dalam kesederhanaa, karena dengan demikian mereka akan merasa lebih dekat dengan tuhan.tokoh yang tekenal pada ilmu tasawuf ini adalah abu hasyim al kufi dan imam al ghazali.
g.    Ilmu Nahwu
Peletak dasar ilmu ini dari ali ibn abi thalib. [1][5]
2.         Ilmu –Ilmu Umum
a.    Filsafat
Ilmu ini muncul dan berkembang apada masa daulah abasiyah ilmu ini diperoleh melalaui penterjemahan buku – buku filsafat yunaniyang ada di berbagai negeri. Tokoh dari ilmu filsafat ini adalah salh satunya yakub ibn ishak al-kindi
b.    Ilmu Falak
Pada masa ini prang yang pertama yang menelaah ilmu ini adalah muhammad ibn ibrahim al-farazi. Dan pada masa ini juga dikemukakan tentang teori gerhana.
c.    Ilmu Kedokteran
Ahli ahli yang terkenal pada masa itu adalah abu ali ibn sina (avicenna) yang mendapat julukan prince  of physicians. Karya tulisannya al qanun fi al-thib merupakan referensi standar untuk kedokteran di negara – negara islam dan eropa pada saat itu. Dan banyak sumbangan yang telah diberikan para ilmuan muslim dalam bidang ini baik dalam aspek ilmu kedokteran maupun seni penyembuhan dan pelayanna kesehatan masyarakat.

d.   Ilmu Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmuini telah dipakai secara praktis ketika memebuat perencanaan pembangunan kota bagdad pada masa almanshur
e.    Fisika
Ada suatu hal yang merupakan ciri khas dari karya ahli fisika muslim pada saat itu yakni terpadunya kepekaan terhadap azaz-azaz teori dasar yang mencerminkan kekaguman dan penghormatan terhadap ciptaan tuhan dengan pendekatan praktis[5][6]









No comments:

Post a Comment