Monday, May 13, 2019

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN ISPA


“ASUHAN KEPERAWATAN ISPA”






 DISUSUN OLEH :
1)      EKA RINI SETYANINGSIH
2)      PASCHALINA KARTINI WABISER
3)      EMMA JUNITA MARUAPEY
4)      LISA AMELIA TUMARI


DOSEN : NS.JUMRANA, S.KEP.,M.KES
MATA KULIAH : IDK 3





FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
2019

BAB I
TINJAUAN TEORITIS

A.      KONSEP DASAR ISPA
Kesehatan adalah hak setiap orang. Masalah kesehatan sama pentingnya dengan masalah pendidikan, perekonomian dan lain sebagainya. Usia balita dan anak-anak merupakan usia yang rentan penyakit. Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) .
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. (Anonim,2009)
Hal ini dapat dikarenakan beberapa faktor misalnya, rendahnya tingkat pendidikan sehingga pengetahuan mengenai kesehatan juga masih rendah atau faktor ekonomi yang menyebabkan tingkat kesehatan kurang diperhitungkan.

B.       DEFINISI ISPA
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.  
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan Penyakit  ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.    Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.

C.      KLASIFIKASI ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut :
1.    Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
2.    Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3.    Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu:
1.    Pneumonia berat: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
2.    Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :
1.    Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawahkedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau meronta).
2.    Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali permenit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
3.    Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat(Rasmaliah, 2004).

D.      Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus, Hemofilus, Bordetella dan Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus.


E.       Patofisiologi ISPA
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1.    Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2.    Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi   bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3.    Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis, menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.

Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).



F.       Pathways





G.      Gejala ISPA
Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru).

H.      Cara Penularan Penyakit ISPA
Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar, bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab. Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui:
1.    Polusi udara
2.    Asap rokok
3.    Bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernapasan
4.    Asap pembakaran bahan kayu yang biasanya digunakan untuk memasak.

I.         Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA
1.    Agent
Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek, merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada manusia. Penyebabnya adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo.

2.    Manusia
a.    Umur
Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit.
b.      Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian Kartasasmita (1993), menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
c.       Status Gizi
Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Akan tetapi anak-anak yang meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang memuaskan. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.
d.      Berat Badan Lahir
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.500 gram. Menurut Tuminah (1999), bayi dengan BBLR mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi dengan berat ≥2500 gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada bayi baru lahir.
e.       Status ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi.

f.       Status Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak.

3.    Lingkungan
a.       Kelembaban Ruangan
Hasil penelitian Chahaya, dkk di Perumnas Mandala Medan (2004), dengan desain cross sectional didapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada balita. Berdasarkan hasil uji regresi, diperoleh bahwa faktor kelembaban ruangan mempunyai exp (B) 28,097, yang artinya kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali.
b.      Suhu Ruangan
Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18- 300C. Hal ini berarti, jika  suhu ruangan rumah dibawah 180C atau diatas 300C keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.
c.       Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
d.      Kepadatan Hunian Rumah
Menurut Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat. Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian rumah dapat memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali.



e.       Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
f.       Bahan Bakar Untuk Memasak
Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun 2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.
g.      Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian Pradono dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua umur di Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002 penduduk.
h.      Status Ekonomi dan Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian Djaja, dkk (2001), didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang membawa anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Bedasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status ekonominya rendah.

J.        Cara Mengatasi ISPA
1.    Mengatasi panas (demam)
a.    Untuk orang dewasa, diberikan obat penurun panas yaitu paracetamol.
b.    Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan paracetamol dan kompres.

2.    Mengatasi batuk
a.    Dianjurkan memberi obat batuk yang aman, yaitu ramuan obat tradisional berupa jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh, diberikan 3 kali sehari.
b.    Dapat menggunakan obat batuk lainnya yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin.
3.    Pemberian makanan
a.    Berikan makanan yang cukup bergizi biarpun hanya sedikit tetapi berikan secara berulang-ulang.
b.    Pemberian ASI pada bayi yang menyusui tetap diberikan.
4.    Pemberian minuman
a.    Usakan pemberian cairan seperti air putih, air buah dan sebagainya, diberikan lebih dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak dan mencegah kekurangan cairan.
b.   Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, apalagi jika pada anak yang menderita demam karena akan menghambat keluarnya panas.
c.    Jika pilek, bersihkan hidung untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
d.   Usahakan lingkungan tetap terjaga dan selalu sehat, yaitu ventilasi yang cukup, dengan cahaya yang memadai dan tidak berasap.

K.      Pencegahan ISPA
Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain :
1.    Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat, sehingga dapat mencegah virus /bakteri penyakit yang akan masuk ke tubuh kita.


2.    Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri.
3.    Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat bagi manusia.
4.    Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran antara bibit penyakit).














BAB II
TINJAUAN KASUS

A.      Pengkajian ISPA
1.    Identitas Pasien
Nama                                       :  An. K
Umur                                       :  18 bulan
Jenis kelamin                           :  Perempuan
Pendidikan                              :  -
Pekerjaan                                 :  -
Status                                      :  Belum menikah
Alamat                                    :  Jl. Siliwangi Babakan Tasik Rt/Rw 01/12  
                                                               Kelurahan  Sawah Gede Kecamatan
                                                               Cianjur Kabupaten Cianjur 
                                                               Jawa Barat
Agama                                     :  Islam
Suku / bangsa                          :  Sunda / Indonesia
Tanggal masuk puskesmas      :  05 Februari 2016
Diagnosa medis                       : ISPA
No.Registrasi                           : 2067

2.    Identitas penanggung jawab
Nama                                       :  Tn. Z
Umur                                       :  37 tahun
Jenis kelamin                           :  Laki-laki
Hubungan dengan pasien        :  Ayah
Pendidikan                              :  SMA
Pekerjaan                                 :  Wiraswasta
Status                                      :  Menikah
Alamat                                     :  Jl. Siliwangi Babakan Tasik Rt/Rw 01/12 Kelurahan
   Sawah Gede Kecamatan Cianjur
B.       Riwayat Kesehatan
1.    Keluhan Utama
Tn. dari An. K mengatakan bahwa anaknya mengalami batuk, pilek selama 5 hari disertai dengan demam,  sakit tenggorokan dan adanya suara tambahan saat tidur (stridor).
2.    Riwayat kesehatan sekarang
Pada saat pengkajian tanggal 5 Februari 2016 Tn. dari An. K mengatakan bahwa anaknya mengalami batuk, pilek selama 5 hari disertai dengan demam, sakit tenggorokan, dan adanya suara tambahan (stridor)  saat  tidur. Skala nyeri 3 dari 0-5.
3.    Riwayat kesehatan dahulu
Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang tetapi tidak disertai dengan sakit tenggorokan dan suara tambahan (stridor) ketika sedang tidur.
4.    Riwayat kesehatan keluarga
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti  penyakit klien tersebut.

C.      Pemeriksaan fisik (Data Objektif)
1.    Keadaan umum                       : Lemas
2.    Tanda-tanda vital
a.    Tekanan darah                    : -
b.    Respirasi                             : 30 x/menit
c.    Nadi                                    : 125 x/menit
d.   Suhu                                   : 38oC
3.    Berat badan                             : 12 Kg
4.    Tinggi badan                           : 72 Cm
5.    Pemeriksaan Head to Toe
a.    Kepala
Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam tebal, kulit kepala tidak kotor, tidak ada nyeri tekan.
b.    Mata
Bentuk mata simetris, konjungtiva non anemis , sklera putih, tidak ada nyeri tekan. Pupil mengecil ketika di beri rangsangan cahaya.
c.    Hidung
Bentuk hidung simetris, klien dapat mencium kayu putih.
d.   Mulut
Mulut simetris, bibir kering, tidak ada stomatitis.
e.    Telinga
Lubang telinga simetris, tidak ada nyeri tekan, klien dapat mendengar detak jam.
f.     Leher
Bentuk leher simetris. Adanya nyeri tekan pada leher.
g.    Dada / thorax
Bentuk dada simetris, tidak ada nyeri tekan, adanya suara tambahan   (stridor) ketika sedang tidur.
h.    Abdomen
Bentuk abdomen simetris, tidak ada nyeri tekan.
i.      Punggung
Bentuk punggung simetris, tidak ada nyeri tekan.
j.      Ekstremitas
1)      Atas
Tangan lengkap simetris, tidak ada nyeri tekan, kuku tidak kotor dan tidak panjang, tidak ada kelainan.
2)      Bawah
Kaki lengkap simetris, tidak ada nyeri tekan, kuku tidak kotor dan tidak panjang, tidak ada kelainan.

D.      Data Psikososial
1.    Pengkajian psikologi
a.    Status emosional                 : Gelisah
   Karena klien terlihat meronta dan menangis
b.      Konsep diri                        : -
c.       Cara berkomunikasi           : -
d.      Pola interaksi                     : Baik
  Karena masih bisa berinteraksi dengan perawat
2.    Pengkajian sosial
a.    Hubungan sosial                             : -
b.    Faktor kultursosial                          : -
c.    Pola hidup                                      : Baik
                                                          Karena keluarga Tn. Z menjaga pola hidup sehat
d.   Hubungan dengan keluarga            : Baik
                                                          Sebagai hubungan peran anak dan keluarga

3.    kebutuhan dasar / pola aktivitas sehari-hari
a.    Nutrisi
·      Makan
1)   Frekuensi                   : 3x sehari
2)   Porsi                          : 1 porsi habis
3)   Jenis makanan           : -
4)   Keluhan                     : -
·      Minum
1)   Frekuensi                   : < 8 botol atau gelas / hari
2)   Jenis minuman           : air putih dan susu formula

4.    Terapi Medis
a.    Amoxilin sirup 3 x 2
b.    Glyceryl Guaiacolate 1 x ¼
c.    Chlorpheniramine Maleate 1 x ¼
d.   Vitamin B Kompleks 1 x ½
e.    Paracetamol sirup 3 x 1

E.       Tentang Keluarga Pasien
1.    Tipe keluarga
Keluarga Tn. Z termasuk tipe keluarga sederhana yaitu didalam satu rumah terdapat 4 orang yang terdiri dari Tn. Z (Ayah), Ny. I (Ibu), An. B (Anak ke 1) dan An. K (Anak ke2).

2.    Suku bangsa
Bahasa yang digunakan Tn. Z adalah bahasa sunda karena berasal dari Jawa Barat. Dalam keluarga tidak ada pantangan makanan apapun.
3.    Agama
Keluarga Tn. Z beragama Islam dan taat menjalankan shalat 5 waktu biasanya dilakukan dirumah dan sering membaca Al-Quran.
4.    Status sosial ekonomi keluarga
Kebutuhan sehari-hari keluarga semua dipenuhi oleh Tn.Z yang bekerja sebagai wiraswasta. Ny.I membantu pekerjaan rumah.
5.    Aktifitas keluarga
Keluarga menjalankan aktifitas masing-masing seperti Tn. Z sibuk mencari nafkah, Ny. I membantu pekerjaan rumah, sedangkan dua orang anaknya sibuk sekolah.

F.   Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah
DS : Tn dari An.K mengatakan bahwa klien mengalami batuk, pilek selama 5 hari disertai dengan demam, sakit tenggorokan, dan adanya suara tambahan saat tidur (stridor).

DO : Klien terlihat lemas dan gelisah
Pencemaran Udara (asap rokok, asap kendaraan, asap pabrik dll) mengandung virus dan bakteri

Terhirup oleh hidung

Virus / bakteri jenis Streptococcus dan Micsovirus, merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa
                            
Anak menjadi lemas dan terdapat gangguan sistem pernafasan
Batuk, pilek selama 5 hari disertai dengan demam, sakit tenggorokan dan adanya suara tambahan saat tidur (stridor).


G.      Diagnosa Keperawatan dan Prioritas Masalah
1.    Batuk berhubungan dengan terjadinya penyempitan pada saluran pernafasan.
2.    Pilek berhubungan dengan masuknya bakteri pada saluran pernafasan.
3.    Demam berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi.
4.    Sakit tenggorokan berhubungan dengan virus atau bakteri sterptokokus atau strep throat yang menyerang tenggorokan.





















H.      Rencana Asuhan Keperawatan
Nama : An. K                                                       Diagnosa Medis : ISPA                                                   No. Reg : 2067
No
Diagnosa
Tujuan
Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
Intervensi
Rasional
1
Batuk berhubungan dengan terjadinya penyempitan pada saluran pernafasan
DS : Tn dari An. K mengatakan batuk   selama 5 hari
DO : Klien terlihat batuk berulang-ulang
-Skala nyeri 3 dari 0-5
Tujuan panjang: Dalam waktu 3x24 jam batuk klien hilang dengan kriteria:
- Batuk klien hilang
- Skala 0

Tujuan pendek: Dalam waktu 8 jam batuk klien berkurang dengan kriteria:
- Klien terlihat tenang
- Skala 2
1. Lakukan pemberian posisi yang nyaman
2. Berikan therapy obat Glyceryl Guaiacolate 1x1/4
1. Dengan pemberian posisi yang nyaman usaha nafas akan kembali normal sekaligus dapat mengeluarkan sputum dengan mudah dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru
2. Dengan memberikan therapy obat batuk klien berkurang ataupun hilang.
1. Melakukan pemberian posisi yang nyaman
2. Memberikan therapy obat  Glyceryl Guaiacolate 1x1/4
S : Klien mengatakan batuk masih ada
O : Klien masih terlihat batuk. Skala 3
A : Masalah klien belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan


S : Klien mengatakan batuk berkurang
O : Skala 2
A : Masalah klien teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
2
Pilek berhubungan dengan masuknya bakteri pada saluran pernafasan
DS : Tn dari An. K mengatakan pilek selama 5 hari
DO : Klien terlihat menghirup udara ke hidung secara berulang-ulang dan cepat dengan adanya suara tambahan
-Skala 2 dari 0-5
Tujuan panjang: Dalam waktu 3x24 jam pilek klien  hilang dengan kriteria: - Klien tidak menghirup udara ke hidung secara berulang-ulang dan cepat dengan adanya suara tambahan
-Skala 0

Tujuan pendek: Dalam waktu 8 jam pilek klien berkurang dengan kriteria:
- Klien terlihat nyaman
- Skala 2

1.     Lakukan pemberian posisi yang nyaman
2.     Berikan therapy obat Chlorpheniramine Maleate 1 x  1/4           
5.    Dengan pemberian posisi yang nyaman terciptanya jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret
6.    Dengan memberikan therapy obat diharapkan pilek klien berkurang atau hilang
1.   Melakukan pemberian posisi yang nyaman
2.   Memberikan therapy obat Chlorpheniramine Maleate 1 x  1/4           
S : Klien mengatakan pilek berkurang sedikit
O : Klien terlihat sedikit nyaman, Skala 1
A : Masalah klien teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan


S : Klien mengatakan pilek berkurang
O : Skala 1
A : Masalah klien teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
3
Demam berhubungan dengan proses infeksi atau inflamasi
DS : Tn dari An. K mengatakan demam
DO : Klien terlihat gelisah
Tujuan panjang: Dalam waktu 3x24 jam demam klien hilang dengan kriteria:
Klien tidak gelisah

Tujuan pendek: Dalam waktu 8 jam demam klien berkurang dengan krtiteria:
Klien terlihat tenang
1.  Lakukan kompres daerah frontal
2.  Berikan therapy obat Paracetamol sirup 3x1
1.    Dengan kompres diharapkan demam klien hilang
2.    Dengan memberikan therapy obat demam klien hilang
1.    Melakukan kompres daerah frontal
2.    Memberikan therapy obat Paracetamol sirup 3x1
S : Klien mengatakan demam berkurang
O : Klien terlihat tenang
A : Masalah klien teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan


S : Klien mengatakan demam berkurang
O : Klien terlihat tenang
A : Masalah klien teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan


4
Sakit tenggorokan berhubungan dengan virus atau bakteri sterptokokus atau strep throat yang menyerang tenggorokan.
DS : Tn dari An. K mengatakan sakit tenggorokan dan adanya suara tambahan saat tidur (stridor)
DO : Klien terlihatmemegang tenggorokan
Tujuan panjang: Dalam waktu 3x24 jam sakit tenggorokan hilang dengan kriteria : Klien tidak memegang tenggorokan

Tujuan pendek: Dalam waktu 8 jam sakit tenggorokan klien berkurang dengan kriteria: Klien terlihat nyaman
1.    Lakukan therapy pijat daerah leher
2.    Berikan therapy  obat Amoxilin sirup 3 x 2 dan Vitamin B Kompleks 1 x 1/2                    
1.    Dengan dilakukan therapy pijat diharapkan sakit tenggorokan berkurang
2.    Dengan memberikan therapy obat diharapkan sakit tenggorokan klien hilang dan suara stridorpun hilang
1.    Melakukan therapy pijat daerah leher
2.    Memberikan therapy obat Amoxilin sirup 3x2 dan Vitamin B Kompleks 1x1/2                    
S : Klien mengatakan sakit tenggorokan masih ada
O : Klien masih terlihat memegang tenggorokan
A : Masalah klien belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan


S : Klien mengatakan sakit tenggorokan dan suara stridor hilang
O : Klien terlihat nyaman
A : Masalah klien teratasi
P : Intervensi dilanjutkan di rumah





BAB III
KESIMPULAN 

Kesehatan adalah hak setiap orang. Masalah kesehatan sama pentingnya dengan masalah pendidikan, perekonomian dan lain sebagainya. Usia balita dan anak-anak merupakan usia yang rentan penyakit. Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.

Program Pemberantasan ISPA mengklasifikasi ISPA yaitu :
1.    Pneumonia berat
2.    Pneumonia
3.    Bukan pneumonia

Menurut pelayanan kesehatan bahwa etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus, Hemofilus, Bordetella dan Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus.








No comments:

Post a Comment